
" Apakah aku perlu membelikan mainan itu untukmu sayang?."
ucap Alan
" Biarkan aku mendapatkan nya sendiri, lagian mereka juga kok yg duluan cari gara gara."
ucap Aira, saat Aira ingin mengatakan sesuatu tiba-tiba hpnya bedering, dia melihat no tak dikenal, Aira terdiam untuk beberapa saat, tetapi kemudian dia mengangkatnya,
" Halo."
ucap Aira
"..............."
" Iya."
ucap Aira yg raut wajah nya berubah tiba-tiba menjadi serius.
"............"
" Baik pak, saya akan menyelidikinya secepat mungkin, dan saya akan berusaha untuk mendapatkannya."
ucap Aira, dan pembicaraan ditelpon akhirnya selesai, Aira menghela nafas sambil melihat hpnya, kemudian dia mengangkat kepalanya.
" Sepertinya aku harus cepat cepat mengerjakan misi kali ini, supaya tidak dikejar kejar lagi."
ucap Aira, wajah Alan tiba-tiba berubah menjadi serius, dia tau tugas apa yg Aira maksud.
" Sayang aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu."
ucap Alan tiba-tiba serius, Aira menatap Alan bingung,
" Kamu mau mengatakan apa?."
ucap Aira
" Aku mau berbagi rahasia ku dengan kamu, supaya tidak ada rahasia lagi diantara kita."
ucap Alan serius, Aira menganggukkan kepalanya.
" Kamu mau kasih taunya dimana?."
ucap Aira
" Aku hanya bisa mengatakannya jika kita berada berdua saja."
ucap Alan, Aira pun menganggukkan kepalanya, mereka berdua akhirnya masuk kedalam kamar dan Aira duduk di sofa kamar begitu pula dengan Alan.
Aira memperhatikan Alan, Alan terlihat gugup bukan main. sebenarnya rahasia apa yg dia tutup rapat-rapat seperti ini?. pikirnya
" Sebelumnya kamu harus janji jangan marah, yg kedua aku benar-benar bukannya tidak percaya sama kamu tapi aku mencari waktu yang pas untuk memberi tahu semua ini."
" Aku adalah..."
ucap Alan sedikit menggantung, tidak tau kenapa lidahnya terasa keli untuk mengungkapkannya.
" Iya kamu apa?."
ucap Aira, Alan menghela nafas panjang, kemudian dia memegang tangan Aira, dan melakukan kontak mata langsung dengan nya, dan hal itu membuat Alan tidak gugup lagi. Dia tau kemungkinan besar apa yg akan terjadi setelah ini. pikirnya
" Aku adalah orang yang sedang kamu cari."
ucap Alan, Aira mengernyitkan keningnya bingung.
" Langsung ke pokoknya aja, karena aku bukan tipikal yg cepat peka."
ucap Aira terus terang.
" Aku adalah leader mafia Bangtan."
ucap Alan dalam sekali tarikan nafas, tiba tiba suasa menjadi hening, wajah Aira tiba-tiba berubah menjadi kaku.
🌲🌲🌲🌲
disisi lain. disebuah restoran.
Aldi dan Rizal sedang membicarakan sesuatu, tiba tiba perhatian Rizal teralihkan, dia melihat sosok yang tidak asing lagi dimatanya, senyuman manis terukir diwajahnya Rizal, membuat Aldi yg disampingnya dibuat kebingungan, dia melihat sorot matanya Rizal, dan dia akhirnya tau seperti apa sosok orang yang mampu membuat si kepala batu ini tersenyum.
" Sepertinya ada yg lagi kasmaran nih!."
ucap Aldi tiba-tiba menggodanya sambil menyenggol lengan Rizal, laki laki sama sekali tidak menggubris perkataan Aldi, tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi menakutkan. Aldi pun melihat lagi, dia terkejut bukan main melihat sosok yg menemani gadis tersebut.
" Kenapa ada Leo?."
ucap Aldi terkejut, Rizal mengepalkan tangannya, tetapi Rizal bisa melihat dengan jelas jika ChaCha tidak suka akan keberadaan laki laki tersebut, dan tiba-tiba dia tidak tahan lagi saat Leo memegang tangan ChaCha, padahal gadis itu sudah menarik tangannya, tapi Leo adalah laki laki pemaksa.
" Bangsa*."
ucap Rizal sambil berdiri dari tempat duduknya, Aldi memegang tangan Rizal, tapi melepaskannya.
" Jangan Tahan gw..Gw nggak mau cewek gw dibuat macam macam sama cowok brengse* seperti dia."
ucap Rizal sambil berjalan menuju ChaCha.
" Sepertinya perang dunia ketiga akan segera dimulai!."
ucap Aldi.
.
.. ..