
Alan Sedang sibuk melakukan pekerjaannya, dan Aira sedang menunggu diluar ruangan di lantai 10.
15 Menit telah berlalu dan Aira mulai kesal, dia sedang berjalan mondar mandir di luar ruangan, ketika sesuatu menarik perhatiannya, dan pada waktu yang bersamaan Alan sudah menyelesaikan pekerjaannya, matanya menatap kamera CCTV untuk melihat orang yg diluar, tapi dia dia saja melihat Aira adalah orang yang sedang menunggunya dari beberapa menit yg lalu, dia tidak memanggil siapapun untuk membiarkannya masuk.
Alan tetap duduk di kursinya, dan dia tetap disana mengamati tindakan Aira, sementara itu perhatian Aira tertuju pada sepanduk agak jauh dari perusahaan, singkatnya di spanduk itu tertulis"Seorang anak perempuan tak pernah terlalu tua menangis di pundak ayahnya".
Aira berdiri seperti patung memproses kata kata tersebut dikepalanya.
" Begitu kah?."
ucap Aira bergumam, tiba tiba saja Aira mulai cemas, Aira mulai mondar mandir lagi sampai dua pegawai laki laki perusahaan tersebut mendekati dirinya, mereka berdua tidak mengenalinya karena mereka tidak hadir dipesta.
Mereka mulai menggodanya, Alan hanya menonton dan mendengarkan semuanya karena kamera CCTV dan mikrofon.
" Hey nona manis...."
ucap Laki laki (1).
" Nona manis kenapa diam aja?."
ucap Laki laki(2) dengan nada merayu.
" Apakah nona kesulitan untuk bicara?,hmmm."
ucap laki laki(1), sambil tersenyum misterius.
" Oh ayolah nona manis, mungkin jika nona memberi tahu saya, saya bisa membantu nona yg manis ini."
ucap laki laki(2), sambil mengedipkan sebelah matanya.
Aira tidak ingin berbicara dengan mereka, tetapi mereka berdua terus menerus mengajak dirinya berbicara, dan ketika Aira ingin meninggalkan mereka berdua, dan saat itulah salah satu dari mereka memegang tangan Aira dengan sengaja, Aira melihat tangan laki laki tersebut kemudian kewajahnya.
" Lu udah Ngerusak mood gw!."
ucap Aira sambil melepaskan tangannya dengan paksa.
" Wah ternyata nona manis bisa ngomong juga ternyata?."
ucap laki laki(2), Aira yg mendengar ucapan laki laki tersebut langsung mengepalkan tangannya, kemudian Aira menghela nafas.
" Boleh gw jujur, sebenarnya gw muak dengan mahluk yg namanya laki laki macam kalian."
ucap Aira datar, mendengar kata-kata tersebut dua laki laki tersebut langsung terdiam dan kemudian mereka memilih untuk pergi meninggalkan Aira sendirian lagi.
Dan pada waktu yg bersamaan disana Alan terlihat wajahnya garang dan terpesona pada seluruh adegan, dia menikmati pemandangan wajah jijik Aira yg sedang menggosok pergelangan tangannya sendiri dengan kasar.
Alan lalu memanggil HRD melalu telpon dan menyuruh HRD tersebut untuk menyiapkan surat pengunduran diri untuk kedua pekerja tersebut.
Saat Aira sedang sibuk menggosok pergelangan tangannya, tiba tiba saja entah dari mana datangnya seorang gadis tiba tiba saja langsung masuk kedalam ruangan Alan, dan Gadis itu tidak lain adalah Adelia, dan karena hal itu pula Aira sempat membuat Aira bingung sejenak.
" Kenapa gadis lele macam dia ada disini?, dan kenapa dia bisa asal masuk aja?." pikirnya.
Adelia melihat Aira diluar, kemudian dia tersenyum penuh kemenangan saat melihat ekspresi wajah Aira yg sempat kebingungan, dan sesuai dengan rencananya dia mulai merayu Alan saat dia masuk kedalam ruangan Alan Adelia melanjutkan aksinya.
" Bisakah kamu menjaga jarak?, dan ingat saya sudah menikah dan saya sudah punya istri."
ucap Alan tegas sambil melepaskan pelukan tersebut dengan kasar, mendapat perlakuan seperti itu bukannya membuat gadis itu malu tetapi dia malah semakin menjadi.
" Kamu nggak pernah bersikap kasar sebelumnya kepada ku."
ucap Adelia cemberut sambil bergelayut manja dilengan Alan.
" Gadis ini benar benar tidak pernah sekalipun berpikir tentang tingkah lakunya sendiri hanya karena dia sangat di disayangi oleh Tante Linda." pikirnya. dan karena hal itu pula lah Adelia terus mendekatinya.
" Kamu kok diam saja hmmm."
ucap Adelia manja, Alan melepaskan pegangan tangan dengan lembut dan berpikir jika dia bersikap sedikit lembut mungkin saja wanita Ulet yg satu ini bisa puluh pikirnya.
"Menjaga jarak adalah yg aku inginkan. saat ini."
ucap Alan datar tanpa ekspresi sedikitpun.
"Kenapa?, Apa karena dia ada diluar?, Aku tahu tidak menyukai Istri mu itu."
ucap Adelia berani, mendengar ucapan Adelia tidak tau kenapa Alan tiba tiba saja emosi.
" Nona Adelia, Alangkah baiknya jika anda tahu batasan anda, jika anda masih ingin hidup dengan tenang.
ucap Alan dingin, tetapi sepertinya Adelia sudah tuli.
"Bahkan belum satu bulan pun berlalu, dan kamu sudah melupakan aku."
ucap Adelia manja, Alan tertawa tetapi tawa tersebut terdengar mengerikan.
" Dengarkan baik baik, saya tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan wanita yg bermuka tebal seperti mu, dan anda lah yg perlu mengingat semua itu."
ucap Alan tegas, tetapi Adelia tidak mau menyerah sepertinya.
Saat Alan meyakinkan dirinya jika dia sudah memberi Jarak, antara dia dengan Adelia, dia memanggil petugas dan memintanya untuk membiarkan Aira masuk, tetapi sebelum dia melakukannya, Adelia tiba tiba saja mendekati Alan lagi.
Dan saat Aira memasuki ruangan tersebut, pemandangan yg ada didepannya saat ini sebenarnya sama sekali tidak buruk, tetapi kedekatan itu membuat Aira merasa malu, dan tdarah mulai mengalir ke wajahnya, tetapi dia menahannya, dan bersikap biasa aja.
" Maaf mengganggu waktu kalian."
ucap Aira
.
.
.
.
.
Terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca ☺️