
Sore itu di suatu tempat, terlihat jelas seperti habis terjadi suatu ledakan ditempat tersebut yang sudah terbengkalai, karena tidak ada penghuninya.
" Bukannya lu sendiri yg bakal urus, tentang si Andre dan orang-orang nya?."
ucap Alan kesal, anak buahnya banyak yg kalah, karena mereka telah dijebak, oleh Andre.
" Maaf lan, gw sama sekali tidak tau kalau kita bakal dijebak, gw cuma dapat kabar dari mereka, Mereka akan melakukan transaksi senjata api."
ucap Aldi membela dirinya sendiri, karena memang benar dia tidak tau.
" Kita bicarakan semuanya di kantor, kalian semua kembali lagi ke markas, dan obati yg terluka."
ucap Alan yg berlalu pergi dari sana, ditemani oleh Aldi yg mengekor di belakang. saat di dalam mobil hanya ada keheningan, Alan memulai pembicaraan.
" Lu cari tau keberadaan gudang nya dimana?."
ucap Alan dingin, kepalanya sudah pusing dengan kegiatan yg selama ini dia lakukan.
" Sebenarnya kapan ada pekerjaan yang bisa dilakukan dengan mulus tanpa ada celah, sedikit pun tidak ada, semuanya sama saja." pikirnya.
" Apa anak buah lu sudah mendapatkan informasi tentang gadis itu?."
ucap Alan secara tiba tiba, Aldi terdiam sejenak. dan kemudian menggelengkan kepalanya. Alan menghela nafasnya kasar.
" Sebenarnya apa yg lu kerjakan selama ini?, kenapa pekerjaan yg lu kerjakan sama sekali nggak ada yg selesai."
ucap Alan nada bicara mulai meninggi, Alan membuang mukanya, dia sama sekali tidak ingin berbicara dengan siapapun saat ini.
" Bagaimana mungkin hanya mencari informasi tentang satu wanita saja mereka tidak becus, apa gw sendiri yg perlu turun tangan, terus untuk apa anak buah kalau kaya gitu." pikirnya sambil menggerutu tidak jelas.
Aldi yg sedang memperhatikan suasana hati sahabatnya dia hanya diam saja tidak mau ambil pusing, karena menurutnya kalau mengganggu Alan saat ini sama aja dengan cari mati.
Sesampainya di perusahaan, banyak karyawan yg membungkukkan badannya saat melihat bosnya masuk, sedang kan Alan hanya terus berjalan, dia sama sekali tidak menghiraukan sekeliling nya sama sekali, dan itu merupakan hal yg biasa bagi Alan, karena dia terkenal dengan perilaku yg dingin dan tidak banyak bicara.
Sesampainya di ruangannya, Alan langsung duduk dan menyilangkan kakinya, dan menopang dagunya. Aldi hanya memperhatikan tingkah sahabatnya itu, dan geleng geleng.
" Aldi bisa nggak bantuin gw kali ini aja!."
ucap Alan memohon kepada aldi, Aldi hanya menelan ludahnya, karena dia tidak tau apa yg akan ini anak pinta.
" Mau minta bantuan apa?."
ucap Aldi Datar.
" Bisa nggak lu yg turun tangan sendiri, cariin gadis yg beberapa hari yang lalu gw ajak bicara."
ucap Alan yg membuat Aldi melongo tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
" Woy bro apa lu bener bener gila?, wajah gadis itu Aja gw sama sekali nggak tau bro, jangan aneh aneh deh."
ucap Aldi yg menolak permintaan Alan yg menurut nya sedikit aneh, bagaimana tidak, masa dia harus nyari tentang seorang gadis, yg sama sekali dia belum pernah lihat, ataupun dengar suara nya bukankah itu hal sedikit gila, anak buahnya Alan saja yg disuruh untuk mengikuti gadis itu tidak berhasil terus apa kabar gw... pikirnya
" Aih gw nggak mau tau gw pengen lu cari tau tentang gadis itu, gadis itu punya mata yang indah, dan suaranya lembut."
ucap Alan, sedang kan Aldi hanya mengernyitkan dahinya. benar benar gila ini si Alan.
"Lu kira setelah lu ngasih tau gw kaya tadi gw bisa langsung nemuin cewek itu?."
ucap Aldi kesal.
" gw harap sih cepet, karena gw tau lu adalah orang yang bisa gw andalkan."
ucap Alan tersenyum penuh arti. sedangkan Aldi hanya geleng-geleng.
" Terserah lu aja bro, tapi gw nggak bisa ngejamin kalau gw bisa dapat informasi Gadis itu dengan cepat."
ucap Aldi terus terang.
" Terserah lu, yg penting mah gw pengennya lu yg cari tau tentang cewek ini."
" Iya iya...gw aja berharap nanti setelah lu ketemu itu cewek lu nggak bunuh itu cewek."
ucap Aldi bercanda.
" Tenang aja setelah cewek itu sudah ada gw sama sekali tidak akan membiarkan siapapun untuk melihat dia lagi."
ucap Alan tersenyum misterius. sedangkan Aldi hanya bergidik memikirkan hal tersebut.
" Kasihan juga sama ini cewek kalau sampai ada ditangannya, tapi semoga saja ini cewek bisa merubah sifat ini anak yg rada gila, karena sepertinya Alan benar benar tertarik dengan wanita ini." pikir Aldi.
" Udah bro sana pergi gw masih ada kerjaan."
ucap Alan yg mengusir Aldi dari ruangan nya, Aldi hanya mendengus dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Saat diluar Aldi menelpon seseorang.
" Saya minta kamu kirimkan daftar nama orang orang yg masuk ke diskotik beberapa hari yang lalu, dan berikan semua tempat yg ada cctv-nya di diskotik beberapa hari yang lalu, saya tunggu tidak pakai lama."
ucap Aldi sambil mematikan hpnya tanpa mendengar jawaban dari manager diskotik tersebut, Aldi pergi dari tempat tersebut.
Ditempat lain.
Seorang gadis bersama seorang laki-laki sesekali mereka berdua tertawa bersama sama, mereka terlihat seperti sepasang kekasih, tapi mereka sebenarnya baru bertemu untuk pertama kalinya.
" Hahahha ternyata, lu orang nya humoris juga ya zal, gw sangka lu nggak suka bercanda karena muka lu selalu datar."
ucap Aira disela sela itu Aira tetap tertawa, dia pun merasa nyaman saat berbicara dengan Rizal padahal mereka baru bertemu, sedang kan Rizal hanya tersenyum melihat Aira, ada perasaan hangat saat melihat gadis yg disampingnya tertawa bahagia.
" Hey jangan ketawa mulu nanti lalat ada yang masuk."
ucap Rizal pelan, sedangkan Aira langsung menutup mulutnya dan menatap Rizal sambil melotot kesal, Rizal tersenyum melihat wajah Aira, tanpa Rizal sadari dia sudah mengelus rambut Aira dengan lembut.
" Mungkin dia akan seumuran dengan lu saat ini Ra."
ucap Rizal pelan tapi masih bisa terdengar oleh Aira, Aira hanya melihat Rizal bingung.
" Emang gw ngingetin lu ke seseorang bro?."
ucap Aira yg melihat ekspresi wajah Rizal yg sedih setelah berbicara tentang dia dan seseorang yang Rizal kenal, Rizal pun terhenyak mendengar ucapan Aira, Rizal pun sadar dan mulai memasang wajah senangnya.
" Nggak kok Ra, hanya saja gw seneng aja jalan dan ngobrol bareng lu."
ucap Rizal berterus terang.
" Hahhah gw kira apaan, syukur kalau lu seneng, tapi jujur aja bro, gw nyaman ngobrol bareng lu."
ucap Aira jujur sambil tersenyum tulus.
Rizal mengandeng tangan Aira dengan erat, Rizal tidak ingin di tinggalkan oleh Aira, Begitu pula dengan Aira dia tidak ingin di tinggalkan oleh Rizal, Aira sangat nyaman saat Rizal berada didekat dia, begitu pula dengan Rizal.
.
.
.
.
.
.
.
.
jangan lupa like dan share ☺️