
" Cinta adalah bunga, kamu harus membiarkannya tumbuh."
- Christina Aira Agustin-
🌸🌸🌸🌸
Setelah Alan pergi, dan mobilnya sudah tidak terlihat lagi, Aira merasakan seperti ada yang hilang, kemudian dia pun semakin yakin jika dia memang benar benar menyukai suaminya yg tak lain adalah tuan mesum.
memikirkan nama panggilan itu membuat Aira tersenyum kecil.
" Siapa yang akan menyangka jika perasaan akan tumbuh tanpa kesengajaan." pikirnya.
" Ya elahhh.. baru juga ditinggalin beberapa detik ma ayang bebnya..udah murung kayak gitu!."
ucap Rizal sambil menyenggol lengannya Aira.
Aira kemudian menatap kesal wajah Rizal.
" Harusnya lu pikirin nasib lu sendiri bro...pikirin tuh bagaimana caranya dapetin ChaCha!."
ucap Aira mendengus kesal, sambil berjalan melewati Rizal.
" Ya elahhh..gitu aja ngambek..!."
ucap Rizal. Aira menatap Rizal tanpa ekspresi.
" gw bukan ngambek, hanya mau ngingetin aja.. Kalau lu Nggak gerak gerak..si ChaCha keburu di embat orang Bro!."
ucap Aira.
" Tapi kan lu bisa bantuin gw!."
ucap Rizal dengan wajah memelas, Aira tidak merubah ekspresi nya sedikitpun.
" Sorry Bro...lu harus berusaha sendiri..lagian lu juga nggak ngasih tau gw sih!."
ucap Aira Tiba tiba kesal, Rizal mengernyitkan keningnya.
" Ngasih tau lu soal apa jendol!."
ucap Rizal bingung.
" Tentang kebenaran kalau lu itu Kakak gw kampret!."
ucap Aira kesal. Rizal tersenyum kikuk.
" Sorry... habisnya gw nggak tau harus mulai ngomongnya dari mana..toh yang penting mah.. sekarang lu udah bisa kumpul lagi."
ucap Rizal santai, Aira langsung mencubit lengan Rizal gemas dan Rizal meringis kesakitan.
" Udah kumpul tapi Masih kurang satu anggota Bro!."
ucap Aira
" Siapa?."
ucap Rizal Bingung
" Siapa lagi coba?."
ucap Aira malah balik bertanya, Rizal terdiam.
" Adik?."
ucap Rizal.
" Emangnya gw punya Ade?."
ucap Aira.
" Nggak!."
ucap Rizal.
" Lah terus kenapa lu ngomong Ade..sia**."
ucap Aira kesal.
ucap Rizal
" Emangnya gw punya Kakak selain lu!."
ucap Aira kesal.
" Nggak ada sih.. terus Kalau kayak gitu maksud lu siapa sih!, gw bingung sumpah!."
ucap Rizal pasrah, Aira membuang nafasnya kesal.
" Siapa lagi kalau bukan sosok papah...papah dimana?."
ucap Aira tidak sabar, Rizal langsung terdiam, wajahnya menjadi dingin seketika.
" Ayah sudah meninggal saat kecelakaan belasan tahun yg lalu!."
ucap Rizal pelan, seperti ada sebuah palu yg menghantam pas mengenai hatinya. Aira mundur beberapa langkah.
" Apakah meninggalnya papah murni kecelakaan?."
ucap Aira yg tiba-tiba saja dingin. amarahnya mulai menguasai dirinya, tetapi dia tetap mencoba untuk tetap tenang. Rizal terlihat ragu ragu untuk menjawabnya.
" Jawab gw bang!, jangan diam aja!."
ucap Aira suaranya mulai meninggi.
" Hushhh..kecilin suara lu!."
ucap Rizal
" Masa Bodo..gw nggak peduli.. sekarang jawab pertanyaan gw."
ucap Aira, Rizal menelan ludahnya.
" kecelakaan yg terjadi belasan tahun yg lalu bukanlah murni kecelakaan, ada seseorang yg sudah menyabotase mobil papah waktu itu, dan orang itu adalah musuh bisnis papah."
ucap Rizal pelan, Aira mengepalkan tangannya.
" Apa lu udah tau siapa dalangnya?."
ucap Aira.
" Sudah."
ucap Rizal pelan, Aira terlihat sedikit bisa tenang, tetapi kalimat berikutnya yang keluar dari mulut Rizal membuat, darah Aira menjadi mendidih.
" Tetapi Gw belum bisa mendapatkan keadilan buat papah dan keluarga kita."
ucap Rizal, Aira mengepalkan tangannya, wajahnya menjadi dingin, aura pembunuh mulai mengelilinginya, Rizal melihat Aira, Rizal seperti melihat sosok orang lain.
" Siapa mereka!, siapa yg berada dibalik kecelakaan keluarga kita?."
ucap Aira dingin.
" Keluarga.. keluarga Kusumo!."
ucap Rizal, Aira terdiam sejenak, kemudian dia tersenyum menyeringai, Rizal di buat merinding bukan main.
" Jika kita tidak bisa mendapatkan keadilan untuk keluarga kita secara baik baik, maka aku punya jalan yg lebih indah untuk mereka.. apalagi salah satu diantara mereka ada orang yang gw nggak suka!."
ucap Aira dingin.
.
.
.
.
.
.
terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca