
" Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kamu percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu, sepenuh hatiku."
—Alan Gusti Nugraha—
🌸🌸🌸🌸
Alan duduk dengan tenang sambil menatap wajah Aira, gadis itu terlihat sedang berpikir keras.
Isi kertas itu adalah.
" Bukankah hal yang wajar jika sepasang pasangan suami-istri tidur diats ranjang sambil berpelukan?."
ucap Alan, laki laki itu memperhatikan wajah Aira yg mulai muram.
" Tapi itu hal yang mustahil untuk dilakukan!."
ucap Aira keras kepala, gadis itu masih dengan pendirian nya.
" Kalau kayak gitu sih terserah lu aja, lagian yg bakalan kesusahan juga lu ini bukan gw!."
ucap Alan sambil berjalan melewati Aira, Gadis itu terdiam untuk yg kesekian kalinya, Dia benar benar belum pernah memeluk orang lain sebelumnya, Apalagi orang itu berjenis kelamin laki-laki. pikirnya.
" Jangan mikir lama lama!, Nanti gw nggak bakal bantuin lu baru tau rasa!."
ucap Alan, Aira tersadar dari lamunannya, dia menatap Alan, kemudian tatapan matanya berhenti.
" Koper lu emangnya nggak digembok juga?."
ucap Aira.
" Nggak Tuh!, udah gw mau mandi duluan!, Kalau lu berubah pikiran kasih tau gw, karena dengan senang hati gw akan berbaik hati kepada lu, karena lu udah masak makanan yg enak buat gw!."
ucap Alan berlalu pergi menuju kamar mandi, Sedangkan Aira ditinggalkan sendirian di kamar tersebut.
" Apa yg harus gw lakuin coba, nggak mungkin kalau gw nggak mandi, soalnya dari kemarin gw belum mandi, Aishhhhh.. kenapa jelek banget sih nasib gw, kenapa ransel gw dong yg di gembok sih!."
ucap Aira kesal, Aira menghembuskan nafas pasrah.
" Sepertinya memang nggak ada cara lain, Aishhhhh..Anggap saja gw sedang pemotretan majalah,.. Tapi kan tetap aja beda!." pikirnya, pikirannya sudah mulai kalut, Gadis itu masih ingat jelas, kenapa dirinya bisa begitu anti dengan yg namanya laki laki, dan semua itu disebabkan oleh Papah angkatnya, Aira kemudian menghela nafasnya.
" Sepertinya gw udah lama berada didalam keterpurukan, hanya karena demi mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari seseorang yang bahkan tidak pernah menganggap kalau Gw anaknya, tetapi saja hasilnya nihil, dia tidak pernah bangga atas prestasi yg pernah gw dapatkan, Dan dia pernah memanggil gw Jalan*, hanya karena gw pernah berbicara dengan seorang laki laki, dan itu juga teman sekelas gw, bukankah hidup ini tidak adil buat gw!." pikirnya, tanpa dia sadari Matanya mulai berkaca kaca, dan lelehan air mata mulai menetes di kedua pipinya.
" Ah.. ternyata gw masih lemah ya, hanya dengan memikirkan masa lalu, dan ucapan seseorang gw bisa terpuruk seperti ini!."
ucap Aira pelan, tanpa Aira sadari ternyata Alan sedang mendengarkan ucapan Aira dari tadi.
" Apakah orang itu pulalah yang menjadi alasan Aira membenci seorang laki laki?." pikir Alan.
Alan terus menerus memperhatikan gerak gerik Aira.
" Gw sepertinya butuh udara segar!." pikirnya sambil menyeka air matanya, kemudian dia membalikkan tubuhnya.
" Sejak kapan lu berdiri disana?."
ucap Aira Sinis, gadis itu menatap tajam kearah Alan, laki laki itu hanya memasang wajah datar nya, tanpa berniat untuk membuka mulutnya sedikitpun, Alan mulai berjalan mendekati Aira, membuat Gadis itu mundur beberapa langkah.
" Jangan mendekat!."
ucap Aira sambil mencegah Alan untuk maju lebih dekat kepadanya menggunakan sebelah tangannya, tetapi Alan pura pura tidak mendengarnya. Laki laki itu terus melangkahkan kakinya, Aira pun ketakutan dibuatnya dan tanpa dia sadari tiba tiba saja tubuhnya jatuh keatas ranjang.
Alan berdiri ditepi ranjang sambil menatap wajah Aira dengan tatapan mengintimidasi, Terapi Alan berusaha untuk bersikap lembut dengan gadis tersebut, Alan mendekatkan wajahnya.
" Mau ngapain lu?, Jangan berani macam-macam lu?."
" Jangan macam ma-."
ucap Aira terpotong, karena tiba-tiba saja Alan memdekatkan kepalanya kemudian dengan sengaja dia bernafas di leher Aira, membuat tubuhnya tiba-tiba saja memanas.
" Perasaan apa ini?." pikirnya, saat Aira sedang melamun.
" Tenang saja, Gw bukan laki laki yg akan menghancurkan seseorang yang mereka sayangi."
ucap Alan berbisik pas ditelinga Aira, Aira sadar kalau wajahnya kali ini pasti benar benar merah.
Dug..Dug..Dug..Aira bisa merasakan jika jantung nya mulai berdetak lebih cepat dari biasanya.
" Sepertinya ada yg salah dengan tubuh gw?." pikirnya.
" Lu masih mau tiduran aja kayak gitu?."
ucap Alan yg ternyata sudah berada sedikit jauh dari Aira, gadis itu terlihat kebingungan.
" Sejak kapan dia berpindah tempat?." pikirnya.
" Jangan sering ngelamun, nanti kerasukan sesuatu, gw nggak bisa bantuin lu loh!."
ucap Alan bercanda, tetapi gadis itu menanggapi nya dengan serius.
"Jangan ngomong kayak gitu Napa, bikin kesel tau!."
ucap Aira kesal, sambil memanyunkan bibirnya tanpa dia sadari, Alan pun tersenyum kecil.
" Sudah mandi sana!."
ucap Alan.
" Tapi baju gw masih di tas, dan tas gw masih di gembok!."
ucap Aira.
" Nggak perlu di persulit kali!, Lu bisa pake Hoodie gw malam ini, Tapi besok gw nggak bisa pinjemin lu baju, karena gw bawa baju sedikit!."
ucap Alan sambil menyodorkan Hoodie berwarna navie, Aira terlihat ragu, dia melihat Alan kemudian ke Hoodie yg dipegang laki laki itu.
" Aih.. jangan lama lama mikirnya.. tangan gw pegel nih!."
ucap Alan, dengan cepat Aira mengambil Hoodie tersebut, dan berlari kedalam kamar mandi dan tidak lupa menguncinya.
" Ternyata dia punya sisi pemalu juga."
ucap Alan pelan sambil tersenyum manis.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca ☺️