Try Not to Fall In Love

Try Not to Fall In Love
bab 24



Sesampainya Alan didepan perusahaan nya, banyak karyawan yg membungkukkan badannya dan terkadang memberi salam selamat pagi, tetapi seperti biasa Alan selalu mengacuhkan mereka, tetapi tetap saja banyak karyawan perempuan yg tergila gila dengan direktur perusahaan mereka, walaupun dingin seperti es, mungkin itu pesona dia.


Alan masuk kedalam lift dan memencet tombol ke ruangan nya. Ting. pintu lift terbuka. Alan langsung keluar dan menuju ruangannya, dia melihat tempat Aldi yg masih kosong.


" Ini anak kemana?, kenapa belum datang?."


ucap Alan pelan yg kemudian tidak lama kemudian Ting suara lift terbuka, memperlihatkan sosok Aldi yg sedang berlari ngos-ngosan.


" Pagi bro."


ucap Aldi memberi salam Alan.


" Kenapa lu bisa telat?."


ucap Alan datar.


" Lu masih ingat Andre dan kejadian di bar itu kan?."


ucap Aldi.


" Tentu saja gw masih ingat. emangnya kenapa?."


ucap Alan dingin


" Gw dikasih tau dari salah satu anak buah kita yg menjadi mata mata disana, dia bilang kalau Andre sedang mencari informasi tentang gadis yg memukuli dirinya malam itu."


ucap Aldi, sedangkan Alan yg mendengarnya mulai mengepalkan tangannya.


" Terus bagaimana?, apakah mereka sudah mendapatkan informasi tentang gadis itu?."


ucap Alan dingin


" Setau gw untuk saat ini mereka belum mendapatkan informasi apapun tentang gadis itu, walaupun Andre tau bagaimana wajah gadis itu, tetapi dia tidak bisa menggambarkan wajah gadis itu disebuah sketsa."


ucap Aldi yg kemudian Alan bisa menghela nafas lega.


" Sepertinya lu dari tadi nahan nafas lu bro."


ucap Aldi


" Sudah lu lebih baik mencari tahu tentang informasi little princess sebelum Andre mengetahui duluan."


ucap Alan yg kemudian meninggalkan Aldi sendirian.


" Pastinya nggak bakalan jauh itu anak pastinya pengen si gadis itu, tetapi gw kasihan sama gadis yg bakal dia nikahin, bagaimana keadaannya nanti saat mereka nikah nanti nya."


ucap Aldi yg kemudian duduk di kursinya.


Diruangan Alan. Alan teringat ucapan Aldi barusan.


" Bagaimana pun caranya little princess hanya milik gw, dan bukan milik siapa pun, dia hanya milik gw seorang."


ucap Alan datar, tetapi kemudian dia terbayang tatapan matanya Gadis dibar waktu itu, dan juga terbayang dengan sosok gadis yg bernama Aira yg akan dijodohkan dalam beberapa hari lagi. dia tersenyum menyeringai.


" Setidaknya nanti gw punya sebuah mainan, karena salah siapa dia mau di jodohkan dengan orang seperti gw, dan dia juga menjadi penyebab Mamah maksa gw untuk menikah bukan dengan Gadis yg gw sukai."


ucap Alan.


🌲🌲🌲🌲


Di panti asuhan, Aira sudah sejak pagi berada di panti, dia berangkat dari rumah sebelum Papahnya bangun dia memang mempunyai niat untuk tidak bertatap wajah dengan orang yang selama ini dia sebut Papahnya itu.


" Kenapa kamu ngelamun Gadis kecil?."


ucap seorang nenek sambil tersenyum.


" Eh nenek jangan keluar dengan baju tipis, nantinya masuk angin, nanti sakit."


ucap Aira yg mencoba untuk memapah nenek tersebut masuk kedalam. dan nenek tersebut ikut kedalam. mengikuti langkah pelan Aira


Nenek tersebut ternyata sedang memperhatikan raut wajahnya Aira, yg tidak seperti biasanya yg ceria, menghibur para lansia.


" Gadis kecil, boleh nenek tau kamu mempunyai masalah apa?."


ucap nenek tersebut.


" Aku nggak punya masalah apapun nek, hanya saja perasaan ku lagi tidak enak saja."


ucap Aira


" Kalau seperti itu lebih baik kamu pulang, dan istirahat dirumah, kamu bisa lain waktu main kesini lagi."


ucap nenek, Aira menggelengkan kepalanya.


ucap Aira yg tanpa dia sadari matanya mulai berkaca-kaca dia ingin menangis tapi dia tahan.


" Jika kamu ingin menangis, maka menangis lah gadis kecil, karena nenek tau dengan cara menangis hati mu akan sedikit tenang dan lega untuk beberapa saat, Sampai kamu bisa menyelesaikan masalah mu itu."


ucap Nenek berkata bijak, Aira yg mendengarnya yg pun tanpa banyak bicara dia memeluk nenek tersebut sambil sesenggukan dan menangis seperti anak kecil. Aira menumpahkan semuanya dengan menangis, tidak tau kenapa dia merasa rapuh dan lemah. setelah hampir satu jam setengah menangis, matanya mulai sembab dan hidungnya merah, Aira melepaskan pelukan nenek tersebut.


" Terimakasih nek untuk pelukannya,maaf baju Nenek jadinya basah oleh aku."


ucap Aira.


" Sudah tidak apa apa, apakah kamu merasa sedikit tenang setelah menangis Gadis kecil?."


ucap Nenek tersebut sambil menghapus air mata yang masih ada pipi Aira. Aira hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lembut.


" Iya nek sedikit tenang, makasih ya nek, dan juga sekali lagi maaf udah bikin baju nenek basah."


ucap Aira sambil menundukkan kepalanya dan mengangkat kepalanya lagi.


" Sudah tidak apa apa, lagian jarang jarang Nenek melihat kamu rapuh seperti ini, apakah ada sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman?, sampai kamu menangis seperti itu?, tapi jika kamu tidak mau bercerita maka nenek tidak akan memaksa gadis kecil."


ucap nenek tersebut, Aira berpikir sejenak, mungkin saja setelah dia menceritakan semuanya dia akan sedikit tenang. pikirnya


Aira menghela nafas dan kemudian tersenyum manis sambil menatap wajah nenek tersebut yg menurut nya masih asing karena dirinya tidak pernah melihat sosok nenek ini, tetapi dia juga merasa nyaman saat memeluk nenek tersebut. seperti nenek sendiri, pikirnya.


" Aku mau cerita nek, mungkin yg nenek omongin barusan ada benarnya juga."


ucap Aira pelan


" Kalau seperti itu nenek akan menjadi pendengar setia kamu."


ucap nenek tersebut, Aira terdiam beberapa saat seakan akan dia sedikit familiar dengan kalimat tersebut, seperti pernah mendengarnya tapi dimana? pikirnya


" Iya nek makasih, sebenarnya..."


ucap Aira, yg kemudian dia menceritakan bagaimana Papahnya memberi tahu tentang perjodohan dan pernikahan yg akan terjadi setelah lulus SMA, dan juga kenyataan pahit bahwa orang tua yg selama ini dia anggap keluarga nya adalah ternyata orangtua angkat nya.


" Jadi sekarang aku tahu nek kenapa papah tidak pernah berlaku adil dengan aku dan adik ku, dulu aku selalu iri dengannya, tetapi setelah aku tau setidaknya aku berterima kasih karena mereka mau mengangkat diriku sebagai anak mereka. walau bagaimanapun juga mamah angkat ku itu selalu bersikap adil dengan aku dan juga adik."


ucap Aira yg kemudian tersenyum kecil saat selesai bercerita tentang masalahnya, dan memang benar dia sedikit merasa enteng setelah menceritakan semuanya kepada seseorang, nenek tersebut menatap Aira dengan tatapan simpati dan merasa iba.


" Kamu harus kuat Gadis kecil, mungkin ini juga jalan kamu, mungkin setelah menikah kamu akan menemukan keluarga kandung mu itu."


ucap Nenek


" Iya nek, makasih sudah mau mendengar cerita aku, oh iya nenek namanya nenek siapa?."


ucap Aira yg ternyata dia lupa menanyakan nama nenek tersebut, nenek tersebut tersenyum lembut kepada gadis yang ada dihadapannya.


" Nama nenek, nenek winda, nama kamu siapa gadis kecil?."


ucap nenek winda.


" Nama aku Aira nek, nenek disini tinggal sudah berapa lama?."


ucap Aira, nenek tersebut hanya tersenyum mendengar perkataan Aira, yg menyangka dirinya adalah salah satu lansia dari panti tersebut. tetapi kemudian dia berpikir dia ingin bertemu dengan gadis kecil ini lagi


pikirnya.


" Nenek baru beberapa bulan tinggal disini gadis kecil, kamu sering kesini?."


ucap Winda


" Hampir setiap seminggu sekali, dihari Minggu aku kesini nek. aku senang saat aku bisa membantu orang lain walaupun hanya sedikit."


ucap Aira.


" Kamu memang gadis kecil yg hangat Aira."


ucap Winda, yg kemudian mereka pun mulai bercakap cakap kembali.


.


.


.


.


jangan lupa like dan share ☺️