Try Not to Fall In Love

Try Not to Fall In Love
bab 21



Alan masuk kedalam restoran bernama dengan Aldi, Alan melihat sekeliling mencari sosok Rizal, karena restoran ini merupakan tempat makan langganan mereka bertiga, dan tidak lama kemudian Alan menangkap sosok Rizal yg sedang di kelilingi para gadis, terlihat Rizal yg sedang tertawa, membuat Alan yg melihatnya ikut senyum.


" Lu kenapa senyum sendiri?, kayak orang gila."


ucap Aldi


" Lu liat coba sebelah sana."


ucap Alan sambil menunjuk tempat makan Rizal, Aldi pun tersenyum dan menarik tangan Alan untuk mendekati mereka berempat. tapi Alan tidak mau berjalan.


" Woy kenapa lu diam aja?, bukankah sebaiknya kita gabung dengan mereka?."


ucap Aldi heran.


" Jangan, nanti kita mengganggu kenyamanan mereka, lagian kita kesini juga tidak memberi tau itu anak, jadi nggak enak kalau kita tiba tiba menghampiri mereka."


ucap Alan memberikan alasan, padahal aslinya dia tadi melihat sosok wanita yang tidak asing, dan ternyata memang benar dia adalah Aira, dan alasan kenapa Alan tidak ingin menghampiri Rizal karena ada Aira disana, walaupun tidak tau kenapa Alan sangat ingin menghindari aira sebisa mungkin, dan sepertinya gadis tersebut juga tidak tahu dengan sosok yang akan dijodohkan dengan dirinya.


" Ya udah gw mah ikutin mau lu aja, toh yg traktir makan lu ini bukan gw."


ucap Aldi yg kemudian duduk di tempat kosong, tetapi dia tau kalau Alan sedang dari tadi sedang memperhatikan seseorang yang duduk bersebelahan dengan Rizal, Rizal mengikuti pandangan Alan yg kemudian dia menemukan seorang gadis yang sepertinya tidak asing tetapi siapa?.


Seorang pelayan menghampiri meja Alan dan Aldi untuk menanyakan apa makanan yang mereka pesan selesai memesan, pelayanan tersebut pergi. tetapi tetap saja tatapan mata Alan masih memperhatikan sosok yg sebenarnya adalah calon istrinya, dan sepertinya Aldi sudah tau siapa Gadis yg sekarang sedang menjadi perhatian Alan.


"Kenapa lu nggak samperin aja calon istri lu lan?."


ucap Aldi tiba tiba membuyarkan lamunan Alan, yg sekarang sedang menatap tajam kearah sahabatnya yang satu ini, sebenarnya dia juga tidak tau kenapa dia memperhatikan gadis yg baru di temui dua kali secara kebetulan.


" Nggak perlu, sepertinya dia nggak tau siapa yang akan dijodohkan dengan dia, dan ini akan sedikit ada hiburan saat dihari pernikahan itu."


ucap Alan sambil tersenyum misterius.


" Bukannya lu bilang sendiri kalau adik lu mau ngebantuin menggagalkan perjodohan ini, terus gimana ceritanya lu bakalan melangsungkan pernikahan?, kepala lu Nggak ke bentur dinding kan?."


ucap Aldi. Alan menghela nafas.


" Lu tau adik gw jika ngeliat cewek yg akan dijodohkan sama gw ternyata cantik, dia tidak akan membantu gw untuk menggagalkan perjodohan itu. karena dia ingin mempunyai kakak cewek yg cantik yg bisa dibanggakan ke teman teman dia nanti nya."


ucap Alan yg mengingat betul kalau adiknya bertolak belakang dengan dirinya dan terkadang berprilaku abstrak


" Wah kalau seperti itu kayaknya lu bakalan ngelanjutin pernikahan ini dong?."


ucap Aldi


"Iya dari tadi lu ngomong mulu, bikin gw pusing. udah makan makanan lu."


ucap Alan menggerutu kesal yg kemudian dia mulai memakan makanannya.


Ditempat yang sama, Aira sedang tertawa bersama Rizal dan kedua sahabatnya, tetapi beberapa menit kemudian dia merasa ada yang sedang memperhatikan dirinya, dan lama lama terasa membuat dirinya tidak nyaman, Aira menoleh kebelakang nya, dan alangkah terkejutnya dia, dia melihat laki laki mesum yg dibar itu, Aira menelan ludahnya susah payah, tangannya mulai keringetan.


"Oh tuhan kenapa dunia ini sempit sekali, kenapa gw harus melihat sosok mesum itu lagi. "pikirnya yg kemudian bergidik merinding. Rizal yg sedang memperhatikan Aira pun menyadari nya, kalau ada sesuatu yang membuat dirinya tidak nyaman.


"Lu kenapa?"


ucap Rizal menatap mata Aira langsung.


"Gw pengen cepet-cepet pulang dari sini."


ucap Aira yg mengingat kalau mereka sudah selesai makan, ChaCha menatap Aira dengan heran, karena biasanya dia sering banget nongkrong dulu ditempat makan. tetapi sekarang kenapa dia mau pulang? pikirnya.


"Apakah ada sesuatu yang membuat lu Nggak nyaman?."


ucap Rizal menantikan jawaban Aira, tetapi bukan jawaban yang dia dapatkan, Aira berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari restoran tersebut tanpa menghiraukan mereka bertiga, karena saat ini Aira hanya ingin menghindari laki laki yg tadi sedang memperhatikan dirinya.


"Hey tunggu Ra."


ucap kedua sahabatnya dan berlari dibelakang Aira mengejarnya. Rizal diam ditinggalkan dibelakang, dia berpikir apa ucapan dia membuat Aira tidak nyaman?.


"Aih...ehh kok gw malahan mereka tinggalin sih, hey tungguin!!."


ucap Rizal yg kemudian mengejar mereka dari belakang setelah yakin membayar tagihan makanan tadi.


Alan dan Aldi menoleh kearah Rizal dan kawan-kawan nya, karena mereka membuat keributan kecil, dan Alan telah memperhatikan dari pertama, dia menyeringai kemudian dia melihat Aldi yg bingung dengan sahabat sekaligus bosnya.


ucap Aldi waspada. membuat Alan yg mendengarnya mengangkat alisnya sebelah.


"Mau ngapain gw bunuh mereka, hanya saja gw berpikir mungkin perjodohan ini sedikit akan menarik."


ucap Alan tanpa melepas senyuman menyeringai itu diwajahnya, membuat Aldi bingung dengan jalan pikiran sahabatnya.


"Terserah lu, masa Bodo, karena walaupun lu bilang kayak gitu tetap aja sama gw masih harus mencari informasi tentang cewek di bar itu."


ucap Aldi melanjutkan makannya secepatnya.


"Tentunya!."


ucap Alan yg kemudian melanjutkan makannya lagi, tanpa dia sadari dia merasa senang saat melihat sosok Aira secara langsung, tanpa tahu alasan nya.


Aira terus berjalan tanpa melihat kebelakang, tetapi saat dia sadar kalau dia belum bayar makanan yang dia makan tadi dia menghentikan langkahnya tiba tiba dan membuat kedua sahabatnya tadi yg sedang mengejarnya tanpa sengaja menabrak Aira.


Bruggg".


"Arghh sakit lu berdua kenapa sih, jalan kok kaya kerbau liatnya kebawah terus, emangnya di tanah ada uang jatuh tah?!."


ucap Aira menggerutu kesal dan berdiri sambil menepuk bokongnya yang terasa sakit.


" Lu sih berhenti nya tiba tiba makannya kita nabrak lu."


ucap Violeta tidak mau disalahkan.


" Biasanya juga kalian berdua jalan nya lelet, dan siap yg tau kalau lu ternyata ada dibelakang gw."


ucap Aira datar tidak mau kalah.


"Lu sih jalan kayak robot."


ucap Violeta menyulut kekesalan Aira, ChaCha menepuk jidatnya frustasi dengan kedua sahabatnya yg masih cekcok.


"Hey hey udah, malu diliatin sama orang."


ucap ChaCha.


"Masa Bodo!."


ucap Mereka berdua bersamaan. ChaCha menghela nafas menyerah, yg satu keras kepala yg satunya lagi baperan yg sudahlah komplit pikirnya yg tidak lama kemudian Rizal tanpa diketahui nya sudah berdiri disampingnya ChaCha, tapi sejak kapan?, pikirnya


"Eh anu kak-."


ucap ChaCha terpotong karena Rizal mengisyaratkan Chacha untuk diam, yg akhirnya mengikuti perintah Rizal, yg tidak tau kenapa saat dirinya bersama Rizal hatinya berdebar tidak karuan, membuat dirinya tidak nyaman, tetapi dia juga penasaran kenapa dia seperti itu.


"Kalian berdua kalau mau berantem jangan dijalan tapi dilapangan aja."


ucap Rizal tiba tiba menghentikan Aira dan Violeta yg sedang adu mulut.


"Bro lu Nggak perlu ikut ikutan."


ucap Aira.


"Oh ayolah bagaimana gw nggak bisa ikutan, gw cuma mau ingetin aja, kalau kita sedang ada ditengah jalan penjalan kaki lainnya."


ucap Rizal.


.


.


.


.


.


terimakasih karena sudah mau mampir ☺️