Try Not to Fall In Love

Try Not to Fall In Love
Bab 88



" Aku tidak perlu menunggumu untuk mengatakan ' I love you', melihat cara mu tersenyum dan perhatian kepadaku membuatku cukup mengerti bahwa kamu mencintaiku."


—Christina Aira Agustin—.


🌸🌸🌸


Suara tawa memenuhi kamar tersebut, dua sejoli itu ternyata sedang perang bantal, mereka berdua tidak menyadari bahwa perasaan itu mulai menyelimuti hati mereka berdua, dan mereka tidak tau bahwa benci dan cinta itu perbedaannya sangatlah tipis.


Bruggg.. mereka berdua Sepertinya kelelahan.


Aira dan Alan berusaha untuk bisa bernafas dengan normal tetapi gagal mereka tetap saja terengah-engah karena kecapean.


" Hah..Hah....Hah"


Setelah mereka berdua bisa bernafas dengan normal kembali, Tiba tiba Aira teringat sesuatu.


" Bisa bantuin gw nggak lu?."


ucap Aira tiba tiba, Alan mengernyitkan keningnya.


" Mau minta tolong apa?."


ucap Alan heran.


" Bantuin gw buat buka gembok!."


ucap Aira.


" Emangnya lu nggak apa apa foto sama gw pelukan di atas kasur?, bukannya tadi lu no-."


ucap Alan terpotong.


" Aih.. jangan banyak ngomong jendol, lagian nggak mungkin kalau gw terus menerus pakai baju lu."


ucap Aira tegas.


" Hmmm ada benarnya juga ucapan lu, ya udah ayo foto!."


ucap Alan, Alan langsung merebahkan tubuhnya, Aira terdiam sejenak, perasaan canggung, gugup tiba tiba saja menghampirinya, Tetapi Aira berusaha untuk menghiraukannya.


" Mungkin ini juga bisa menjadi salah satu alternatif, supaya gw nggak terlalu jijik sama mahluk yg namanya laki laki!." pikirnya


" Kenapa masih diam aja, sini deketan, nggak mungkin kita foto berdua dari jarak segitu."


ucap Alan protes.


" Iya iya...sabar kali cuy, Gw kan nggak pernah ngelakuin hal seperti ini seumur hidup gw!."


ucap Aira jujur, mendengar ucapan Aira, perasaan senang dan bangga menyelimuti hatinya.


" Apakah gw juga laki laki pertama yg pernah lu genggam tangannya seperti tadi?."


ucap Alan.


" Nggak!."


ucap Aira enteng, raut wajahnya tiba tiba saja berubah, Tetapi Aira tidak menyadarinya.


" Lu itu laki laki kedua yg gw pegang tangannya setelah adik cowok, dan itu juga pas waktu kecil!."


ucap Aira menjelaskan nya, kemudian Alan tersenyum lebar, Aira mengernyitkan keningnya.


" Kenapa lu senyum kayak gitu, emangnya apa yg membuat perasaan lu senang?."


ucap Aira bingung.


" Kalau gw jelasin sekarang pasti lu nggak bakal ngerti, Jadi sekarang lebih baik kita lanjutkan kepentingan lu terlebih dahulu!."


ucap Alan


" Wah..bener ucapan lu, kalau lu nggak ingetin gw, mungkin aja gw udah lupa tadi!."


ucap Aira sambil tersenyum manis, gadis itu jarang sekali tersenyum, tetapi sepertinya itu tidak berlaku saat bersama Alan, begitu juga sebaliknya dengan Alan.


" Mau posisinya seperti apa?."


ucap Alan, Laki laki itu memperhatikan gerak gerik Aira yg masih duduk sila di dekatnya, Alan ingin sekali menarik Gadis itu kedalam pelukannya, tetapi dia tau, jika dia melakukannya, gadis itu pasti akan menjauhinya, atau malah akan lebih parah lagi, memikirkan nya saja sudah membuatnya ketakutan, apalagi jika hal seperti itu terjadi. pikirnya


Alan menunggu dengan sabar, karena gadis itu masih belum mendekatinya, saat Alan ingin membuka mulutnya, Aira tiba tiba saja mendekatinya dan mulai ikut rebahan, sambil tersenyum kikuk.


" Lu tau kan, karena gw nggak pernah mempunyai pengalaman apapun, yg berbau pasangan, jadi gw sudah memutuskan, supaya lu yg bimbing gw."


ucap Aira tegas, Alan terdiam sejenak.


"Lu lagi nggak bercanda kan?."


ucap Alan memastikan.


" Gw lagi nggak bercanda kok, lagian gw percaya kalau lu nggak bakalan melakukan hal yg tak senonoh kepada gw!."


ucap Aira percaya diri.


" Ngomong sih gampang bocil... Bagaimanapun juga gw itu laki laki normal." pikirnya


" Lah kok diem sih, ayo cepetan mulai.


ucap Aira


" Ya udah sini, lebih dekat lagi!."


ucap Alan.


" Kayak gini!."


ucap Aira tubuh mereka sama sekali tidak memiliki jarak sedikitpun, dan hal itu membuat Alan berkeringat dingin.


" Pondasi gw bisa runtuh kalau kayak gini Aira!." pikirnya


" Iya iya.. udah!."


ucap Alan dia berusaha bersikap untuk tetap tenang.


ucap Aira


" Udah lu tinggal ikutin arahan gw aja."


ucap Alan, laki laki itu menelan ludahnya dengan susah payah.


15 Menit kemudian, selama 15 Menit itu pula serasa seperti ada di neraka bagi Alan, Apalagi Aira tidak mau diam, karena dia merasa asing.



" Bisa gila gw kalau lama lama kaya gini!, ingin rasanya gw terkam wanita ini, tetapi gw harus bersabar, dia bukan seperti wanita diluaran sana!." pikirnya


" Kapan mau dikirim fotonya?."


ucap Aira membuyarkan lamunannya.


" Lebih cepat lebih baik, dan juga..bisa ga lu geser sedikit!."


ucap Alan.


" Emangnya kenapa?."


ucap Aira.


" Gw ini cowok normal Aira!."


ucap Alan, Aira pu tersadar sambil tersenyum kikuk gadis itu langsung memberikan jarak beberapa centi.


" Segini cukup."


ucap Aira.


" Iya sudah cukup!."


ucap Alan datar, Alan kemudian mengirimkan foto tersebut kepada omnya, dan tidak lama kemudian om Genta memberikan kata sandi gemboknya, dan saat melihat kode gembok tersebut Alan langsung menepuk jidatnya


" Kenapa?."


ucap Aira heran.


" Gw udah dapet kata sandi gemboknya!."


ucap Alan menggantung.


" Lah bagus dong kalau kayak gitu, tetapi kenapa dengan wajah lu yg ditekuk itu?."


ucap Aira heran.


" Soalnya tidak lain adalah tanggal nikahan kita, tapi gw lupa tanggalnya!."


ucap Alan, Aira geleng-geleng kepala mendengar ucapan Alan.


" Tapi gw inget kunyit!."


ucap Aira, sambil bangkit dan turun dari ranjang mengambil tasnya dan mulai membuka gemboknya, tidak lama kemudian gemboknya kebuka, dengan semangat Aira membuka resleting Tasnya, tiba tiba saja mata Aira langsung membulat sempurna.


" Kenapa?."


ucap Alan bingung..


" Isi tas gw kemana?."


ucap Aira sedikit berteriak, membuat Alan langsung menghampiri Aira, dan berhenti didepan nya.


" Maksud lu a-."


ucap Alan langsung terhenti saat melihat isi tas ransel Aira, yg isinya hanya lingerie seksi, Alan langsung memalingkan wajahnya kearah lain, dan dia berusaha untuk menutup kembali tas Aira.


Tapi gadis itu masih memegang tas ranselnya.


" Udah jangan terlalu dipikirin hmmm!."


ucap Alan.


" Tapi nggak mungkin gw harus pake baju begituan!."


ucap Aira kesal, gadis itu terlihat ingin menangis, dan Alan semakin di dibuat resah.


" Lu nggak perlu pakai baju itu ok, lu bisa pakai baju gw untuk sementara waktu hmm..kita bisa cari baju di sekitar sini buat lu...jadi jangan nangis ya!."


ucap Alan sambil menyeka air matanya yg mulai menetes, Alan berusaha untuk menenangkan Aira, dan sepertinya berhasil.


" Hiks..Bener gw boleh minjem baju lu?."


ucap Aira menyakinkan. Alan tersenyum mendengarnya.


" Boleh.. jadi lu Nggak perlu nangis ok!."


ucap Alan sambil mengelus rambut Aira, gadis itu menganggukkan kepalanya


" Ya udah, ini udah malam.. mendingan kita tidur, gw yakin besok lu pasti mau jalan jalan kan!."


ucap Alan, Aira tersenyum mendengarnya.


.


.


.


.


.


.


terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca ☺️