
Aira melihat keluar jendela mobil, dia menelan ludahnya dengan susah payah, keringat dingin mulai membasahi dahinya, dan tangannya mulai gemetaran.
" Ngapain lu masih duduk, cepetan Keluar dari mobil gw!."
ucap Alan dingin.
" Mau ngapain gw keluar dari mobil lu, Lu aja masih duduk santai didalam mobil."
ucap Aira walaupun sebenarnya dia sedang ketakutan.
" Gw bilang keluar dari mobil gw, gw muak liat wajah lu."
ucap Alan kasar.
" Lu kira gw gadis bodoh huh, Lu pikir gw mau ikutin omongan lu barusan!!, mimpi aja kali, gw nggak akan keluar dari mobil ini sampai kita datang ketempat yang lu tujuan!."
ucap Aira keras kepala, Alan mengeraskan rahangnya, tangannya mengepal dia ingin sekali memukul wanita yg duduk disampingnya, Tetapi dia bukanlah tipe cowok yg suka mukul cewek.
" Mumpung gw masih ngomong baik baik, sekarang lu keluar dari mobil gw!."
ucap Alan sambil menunjuk pintu mobil, Tetapi Aira pura pura tidak mendengar, dan pandangannya lurus kedepan membuat Alan geram, Tanpa pikir panjang Alan keluar dari mobilnya dan berjalan menuju pintu mobil yg sebelahnya, tetapi gerakan nya terlalu lambat, karena kini mobil tersebut sudah dikunci dari dalam oleh Aira.
Tok....Tok....Tok..
Alan beberapa kali mengetuk kaca mobilnya dengan geram, dia sama sekali tidak kepikiran jika wanita yg dia nikahi akan menjahilinya.
" Buka pintu mobilnya!!."
ucap Alan berteriak keras dari luar, Aira tersenyum menyeringai puas mendengar ucapan Alan yg terdengar frustasi.
Aira menghiraukan perkataan Alan, kemudian Aira berpindah ke tempat duduk pengemudi, Mata Alan membulat sempurna, Alan menelan ludahnya.
Brumm.....Brummmm...Brummmm...
Suara deruman mobil terdengar, membuat Alan kalang kabut.
Aira menyeringai ekspresi wajah Alan.
" Buka pintu mobilnya...kalau nggak gw pecahin kacanya!!."
ucap Alan mengancam, tetapi Aira menganggap semua itu hanya lelucon.
" Lakukan saja...tapi liat saja...apa lu bisa memecahkan kaca mobilnya?."
ucap Aira, tidak lama setelah mengatakan ucapan tadi, Aira mulai melajukan mobilnya secara perlahan, membuat Alan berlari mengejar mobil yg Aira Kendarai.
Aira tertawa melihat Alan berlari mengejar mobilnya sendiri.
" Awas aja....kalau sampai lu kena...gw bakal panggang daging lu!!."
ucap Alan berteriak keras masih dengan kondisi berlari, mendengar ucapan Alan tersebut bukan membuat Aira ketakutan, dia malah merasa terpacu adrenalin nya.
" Hehehehe liat aja tuan mesum, Gw bakalan bikin lu kelabakan."
ucap Aira, Aira menginjak pedal gas mobilnya, membuat mobil itu melaju kencang, membuat Alan melongo kaget, Karena dia sangka Aira itu seperti gadis yg lainnya, tetapi pemikirannya salah total.
" Liat aja gw nggak bakalan bikin hidup lu tenang...gadis kecil."
ucap Alan kesal, Tidak lama kemudian Alan merogoh kantong nya, dan menelpon seseorang.
" Jemput saya dijalan menuju mansion, Dan jangan biarkan orang yg memakai mobil saya masuk."
ucap Alan dingin.
" Maaf tuan Alan, tetapi sepertinya tadi saya melihat mobil anda baru masuk perkarangan mansion."
ucap Orang tersebut, Alan menggeram, dia tidak percaya seberapa cepat gadis itu membawa mobilnya, sampai sampai sudah masuk kedalam perkarangan mansion.
" Kenapa kalian membiarkan mobil itu masuk?."
ucap Alan.
"Tuan mungkin anda lupa, Gerbang itu akan terbuka otomatis dengan sendirinya, karena melihat sensor dari mobil yg Anda miliki."
ucap Orang tersebut, membuat Alan kesal karena dia melupakan gerbang yg dia buat sendiri.
" Ya sudah jemput saya sekarang juga, karena saya perlu memberi perhitungan dengan Gadis kecil itu."
ucap Alan yg kemudian mengakhiri panggilan tersebut.
Aira bisa sampai ke mansion milik Alan itu karena, Di daerah tersebut hanya ada e mansion dan sensor dari mobil yg dikendarai oleh Aira saat ini membuat gerbang itu terbuka sendiri, membuat Aira menyakinkan dirinya bahwa mansion tersebut adalah milik Alan, yg akan menjadi tempat tinggalnya. yg jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota.
Aira memarkirkan mobilnya sembarangan, Dia melihat sekelilingnya, tetapi tidak ada satu orangpun yang muncul.
Aira melongo saat melihat sekeliling rumah tersebut, Tanpa Aira sadari Alan sudah berada dibelakangnya sambil menatap punggung Aira tajam, tetapi sepertinya Aira terlalu asik melihat desain mansion tersebut.
" Sudah puas melihat-lihat?."
ucap Alan datar.
" Belum, gw belum puas....nanti kalau si curut itu datang gw yakin gw nggak bisa melihat pemandangan ini lagi."
ucap Aira yg belum sadar, Tetapi beberapa detik kemudian seperti tersambar petir disiang bolong, Aira menelan ludahnya sendiri.
" Sepertinya lu menantikan kematian lu sendiri, bukankah begitu istri kecil?."
Aira tersenyum lebar sambil menggaruk tengkuknya.
" Lu tau!!!, Tadi gw hanya sedang bercanda doang kok!, gw sama sekali nggak ada niatan buat ninggalin lu."
ucap Aira mencari alasan, Alan menatap tajam kearah Aira, membuat gadis itu semakin kikuk.
" Umur gw baru 18 tahun, dan gw baru lulus SMA, gw belum kuliah, gw belum wisuda gw belum ngerasain kerja, Tiba tiba saja gw harus nikah sama lu, itu membuat gw Shock, jadi maafin gw ya soal kejadian tadi, nggak ada pemikiran yang terlintas dalam otak gw ingin meninggalkan lu tadi, Tapi karena liat wajah dan ekspresi lu tadi yg menurut gw lucu.. jadi sepertinya gw kebablasan bercandanya."
ucap Aira mencari alasan yg lain, karena nggak lucu kalau dia harus mati, di tangan cowok yg baru beberapa jam tadi menjadi suaminya. pikirnya.
Aira menatap wajah Alan, wajah Alan hampir bisa dikatakan sangat sempurna hanya saja tatapan dingin yg dimiliki oleh Alan itulah yg membuat orang ketar ketir ketakutan, seperti dirinya sekarang ini.
" Lu selesai ngomongnya?."
ucap Alan datar, membuat Aira kembali ke dunia nya.
" Hampir aja kepala gw ilang!!." pikirnya
Alan seperti bisa mendengar isi pikiran Aira.
" Kepala lu nggak bakal hilang malam ini, tetapi gw nggak bisa ngejamin kepala kecil lu ini.... Bakalan tetap menempel dileher lu esok pagi."
ucap Alan sambil menunjuk kening Aira, dan tersenyum mengejek, Aira merasa tatapan yg diberikan Alan saat ini begitu mengintimidasi dirinya.
" Aih terserah lu dah...mau lu potong kek ini kepala gw, gw nggak peduli... karena sekarang gw udah lelah seharian ini, dan gw mau tidur...jadi gw harap lu nggak ganggu gw."
ucap Aira sambil memutar bola matanya, dan setelah itu dia berjalan masuk kedalam mansion meninggalkan Alan yg masih tidak percaya dengan perkataan yang didengarnya.
Dan pada saat Alan ingin masuk kedalam mansion, langkahnya langsung terhenti, karena tiba tiba saja dia merasa ada yg menjewer telinga nya.
" Kamu apakan menantu Mamah huh?."
ucap Wanita paruh baya yg tidak lain adalah Elena Mamahnya Alan, masih menjewer telinga Alan.
" Aku nggak apa apain menantu Mamah kok sungguh!."
ucap Alan yg sedang meringis kesakitan karena Elena menjewer telinga Alan semakin kuat.
" Kamu bilang kamu nggak ngapa-ngapain menantu Mamah?, Terus tadi kamu narik tangan menantu Mamah diacara nikahan tadi maksudnya apa huh?."
ucap Elena, Rachel hanya meringis melihat kondisi kakaknya saat ini, karena dirinya tidak bisa membantu Kakaknya.
" Mah...menantu Mamah itu kan istri aku, jadi wajar dong kalau aku mau menarik tangannya atau menariknya dalam selimut."
ucap Alan apa adanya.
Pletakkk
Elena menjitak kepala Anaknya kesal.
" Jangan berani kamu sentuh menantu Mamah, karena dia masih kecil, dan masa depan dia masih panjang...jadi kamu harus bisa nahan nafsu kamu itu."
ucap Elena sambil melepaskan tangan nya dari telinga Alan, Alan hanya mengelus telinganya yg terasa panas.
" Kamu dengerin ucapan Mamah nggak?."
ucap Elena, membuat Alan terkesiap mendengar ucapan Mamahnya dan langsung menelan ludahnya dan berjalan mundur.
" Ah... sepertinya telinga kamu yg satu lagi itu merasa cemburu... karena belum dijewer sama mamah."
ucap Elena lembut.
" Glek"
Alan menelan ludahnya dengan susah payah, dia tidak tau sejak kapan, Mamahnya berada di pihak Aira.
" Mah...aku bukan anak kecil loh mah."
ucap Alan.
" Karena kamu bukan anak kecil seharusnya kamu dengerin ucapan Mamah."
ucap Elena.
" Mah...Mamah bukankah nyuruh aku menikah dengan gadis ini, karena ingin memiliki cucu?."
ucap Alan.
" Mamah Bisa menunggu, Jadi kamu harus jaga jarak dengan Aira karena dia masih kecil, dan mulai besok mamah juga akan tinggal disini."
ucap Elena sambil tersenyum lembut menatap Wajah Alan yg sedang kebingungan yg terlihat jelas dari raut wajahnya ini.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca ☺️