
Rizal dan Aira berbincang bincang dengan santai, dan terkadang tertawa, sampai tidak sadar jika seorang nenek sedang memperhatikan mereka berdua sambilSetelah selesai makan. Rizal mengantarkan Aira kerumahnya.
" Lu nggak mampir dulu?."
ucap Aira. Rizal menggelengkan kepalanya.
" Nggak... mungkin lain waktu."
ucap Rizal lembut.
" Ok, hati hati dijalan, gw masuk duluan ok, salam sama nenek."
ucap Aira sambil melambaikan tangannya dan masuk kedalam rumahnya, Rizal menatap sosok Aira yg sudah tidak terlihat lagi.
" Jika dia benar benar adik gw, maka gw akan pastikan dia tidak akan menginjak rumah sialan ini."
ucap Rizal sambil mengepalkan tangannya dan berjalan ke mobilnya dan mulai mengendarainya.
Aira melihat mobil Rizal yg sudah tidak terlihat lagi, tidak tau kenapa perasaan nya hampa, seperti ada yg hilang.
" Aku pulang."
ucap Aira sambil masuk kedalam dan menemukan Mamahnya yg sedang duduk di sofa, Aira pun menghampirinya.
" Mah...anak mu pulang loh...masa nggak di sambut sih?."
ucap Aira pura pura kesal, tetapi saat dia melihat wajah Mamahnya, tiba tiba saja ekspresi wajahnya berubah seketika.
" Mah kenapa nangis?."
ucap Aira terdengar khawatir dari nada bicaranya, sambil duduk disamping mamahnya.
" Nak, maafkan mamah, maafkan mamah sayang."
ucap Intan mamahnya Aira, sambil menangis kembali.
" Mah tolong jangan seperti ini, jika mamah seperti ini aku nggak tahu harus ngapain."
ucap Aira menyeka air matanya Mamahnya.
" Nak mamah tau seperti apa sosok calon suami kamu itu...mamah minta kamu untuk kabur sayang... jangan laksanakan pernikahan tersebut... karena mamah tidak tau nasib mu akan seperti apa nantinya."
ucap Intan merasa bersalah dan menangis lagi, sedangkan Aira hanya terdiam dia tidak tau harus menyikapi permasalahan ini seperti apa.
" Mamah tenang... aku bukan anak yg lemah..yg. bisa di tindas begitu saja...lagian ini sudah keputusan aku untuk menikah dengan laki laki pilihan papah, jika laki laki itu sifatnya kejam atau dingin...maka tenang aku akan membalasnya...aku tidak akan membuat dia mengintimidasi aku mah, jadi mamah tolong tenang, aku bukan gadis lemah...jadi mamah Nggak perlu khawatir."
ucap Aira.
" Tapi Nak-."
ucap Intan langsung terpotong.
" Sudah mah, aku tau mamah takut aku mengalami nasib yg buruk setelah menikah nanti... tetapi mamah harus percaya sama aku...aku bukanlah orang yang mudah untuk di tindas."
ucap Aira sambil tersenyum lembut dan mulai berdiri.
" Kamu mau kemana?."
ucap Intan
" Ke kamar.. untuk menyiapkan mental..hehehe"
ucap Aira sambil nyengir lebar. dan mulai berjalan.
" Mamah selalu mendoakan mu sayang... semoga keberuntungan selalu memihakmu."
ucap Intan pelan.
Aira masuk kedalam kamarnya dan menghempaskan tubuhnya kasar ke atas ranjangnya, kemudian mengacak ngacak rambutnya.
" Bisa gila gw jika seperti ini, sekejam apakah sosok laki laki yg bakalan gw nikahi, sampai mamah menangis dan menyuruh kabur...oh tuhan... semoga saja keberuntungan memihak ku."
ucap Aira pelan, dan kemudian dia teringat dengan laki laki mesum itu(Alan).
" Kenapa dunia ini sempit sekali... sudah berapa kali gw ketemu tuan mesum gilaa... Semoga saja laki laki yg menikah sama gw bukan si tuan mesum gila itu...bisa hancur sudah hidup gw."
ucap Aira pelan.
Aira melihat kalender dirumahnya, kemudian dia tersenyum kecut.
" Satu Minggu lagi gw nikah.. satu Minggu itu hanya sebentar waktunya.. tetapi pernikahan...gw nggak tau sampai kapan...jika seperti ini rasanya gw pengen kabur beneran... tetapi gw bukanlah seorang pengecut, yg lari dari masalah...ok gw harus bisa menghadapi semuanya... karena ini adalah hidup gw...dan gw yg menjalani nya...ok semangat..demi masa depan lu..ayo semangat.."
ucap Aira dan tidak terasa dia pun tertidur pulas.
5 hari kemudian, hari ini adalah hari kelulusan untuk sekolah SMA negeri xxx, tetapi sebuah malapetaka untuk seorang gadis yang sedang termenung memikirkan takdirnya.
Apakah dia benar benar siap? pikirnya sendiri.
" Besok gw nikah, dan gw sama sekali tidak tau seperti apa wajah laki laki yg akan menikah dengan gw.. memikirkan takdir gw ini.. benar benar seperti novel..gila bener."
ucap Aira pelan dan tanpa dia sadari kedua sahabatnya mendengar ucapan Aira.
" Ra...lu lagi Mengigau?."
ucap ChaCha.
" Lu mau nikah kenapa nggak ngomong?."
ucap Violeta.
Aira langsung terdiam mematung, dirinya tidak menyangka jika kedua sahabatnya berada disampingnya, bukankah tadi dia duduk ditempat yg jauh dari acara kelulusan sekolah. pikirnya
" Jangan diam aja Ra, gw perlu jawaban lu."
ucap ChaCha, Aira pun menghela nafas, karena dia tidak bisa menyembunyikan semuanya lagi.
" Iya...apa yg lu denger tadi, semuanya itu kenyataan, dan Ya gw bakalan nikah besok."
ucap Aira pasrah.
" Oh tuhan...Ra.. kenapa lu gak ngomong?, apa jangan jangan kalau kita nggak denger ucapan lu tadi lu nggak bakalan mau cerita?."
ucap ChaCha yg mulai meninggikan suaranya.
" Bukan seperti itu, gw juga mau cerita sama kalian berdua hanya saja gw masih perlu waktu untuk menjelaskan semuanya kepada kalian, karena pernikahan ini juga terlalu mendadak untuk gw."
ucap Aira pelan.
" Kenapa lu nggak nolak pernikahan ini Ra?, gw tau lu masih mau main main...masih ingin kuliah...masih ingin hidup bebas benarkan?."
ucap ChaCha. Aira menganggukkan kepalanya
" Terus kenapa lu setuju untuk menikah?."
ucap ChaCha yg mulai emosi. Violeta memegang tangan Chacha supaya tenang, tetapi tangannya dihempaskan begitu saja.
" Gw nggak bisa menolak, karena ini adalah permintaan papah gw untuk pertama kalinya, dan gw tau lu peduli dengan Gw Cha, tetapi gw harap lu juga bisa memaklumi keputusan gw."
ucap Aira menundukkan kepalanya, dan tidak lama kemudian terdengar suara tangis ChaCha wajahnya sudah memerah karena menahan emosi nya.
" Ra...lu tau kan...papah lu itu nggak pernah peduli sekalipun sama lu Ra.... Kenapa lu mau menerima permintaan gila papah lu ini Huh?, gw nggak paham sumpah.. kenapa lu harus merelakan masa depan lu itu...hanya demi dia Ra...hiks"
ucap ChaCha menangis karena dia tidak tau harus berbuat apalagi.
" Maafin gw Cha... Tetapi hanya dengan seperti ini gw bisa membahagiakan papah gw."
ucap Aira.
" Plak."
Satu tamparan mendarat di pipi Aira, Violeta melongo terkejut melihat ChaCha yg menampar Aira saat ini, karena biasanya ChaCha selalu bisa bersikap tenang.
" Ra lu bener bener gila...gw nggak habis pikir...lu mau merelakan kebahagiaan lu sendiri.....demi orang yg seperti dia...tolong berpikir Ra...apa dia selama ini peduli sama lu.....huh..hiks...dia sama sekali nggak peduli sama lu...dan buktinya sekarang di hari kelulusan lu aja orangtua lu mana?,... Nggak ada mereka sama sekali nggak hadir dihari bahagia lu ini... tetapi lu merelakan kebahagiaan lu sendiri... pikirkan sekali saja tentang kebahagiaan lu Ra..gw mohon... Hiks"
ucap ChaCha disela tangisnya dan menyatukan kedua tangannya memelas.
" Maafin Gw Cha.. tetapi keputusan gw udah bulat, dan gw nggak bisa membuat papah gw kecewa, dan gw tau lu bakalan kecewa dengan keputusan gw, tetapi untuk kali ini... mungkin hanya ini saja yg bisa buat papah gw bahagia Cha... jadi mengertilah kondisi gw ini."
ucap Aira memohon dan mulai berdiri untuk pergi dari sana.
" Gw akan menikah digedung xxx besok, gw harap kalian berdua bisa menerima keputusan gw, karena kalian berdua adalah sahabat gw."
ucap Aira yg kemudian mulai berjalan, meninggalkan kedua sahabatnya dengan hati yang berat dan memilih langsung pulang kerumahnya dan memutuskan untuk tidak pergi kemana mana hari ini.
.
.
.
.
.
Terimakasih atas kunjungan anda selamat membaca ☺️