Try Not to Fall In Love

Try Not to Fall In Love
bab 15



Aira menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, dia sama sekali tidak ingin memikirkan tentang pernikahan yg pastinya akan membuat dirinya sendiri tidak nyaman.


" Setelah menikah nanti sepertinya gw nggak bakalan sebebas ini."


ucap Aira pelan, matanya masih melihat keluar jendela, dia sama sekali tidak merasakan kalau anak murid lain sudah pada berdatangan.


" Woy Ra... jangan bengong mulu masih pagi."


ucap Chacha sambil menepuk pundak Aira, Aira hanya menoleh kearah ChaCha sambil tersenyum.


" Gw nggak bengong kok, lagian lu berdua lama banget sih datangnya, padahal gw dari pagi udah datang."


ucap Aira, ChaCha dan Violeta menatap Aira heran.


" Vio coba lu cubit lengan gw!."


ucap ChaCha menyodorkan tangannya kepada Violeta, dia pun mencubit lengan ChaCha.


" Aduh sakit..wah ternyata gw nggak mimpi, ada angin apa lu masuk sekolah lebih awal dari pada biasanya?, padahal diantara kita bertiga kan lu mulu yg selalu telat."


ucap ChaCha terus terang.


" Gw lagi pengen masuk pagi aja!."


ucap Aira santai.


" Oh iya kalian berdua kalau nanti lulus mau ngelanjutin kuliah dimana?."


ucap Violeta.


" Gw sih masih belum tau, mau kuliah dimana?, mau ambil jurusan apa?, gw aja masih bingung."


ucap ChaCha sambil mengangkat pundaknya.


" Hahah.. kayaknya lu mah langsung nikah kali habis lulus sekolah."


ucap Violeta asal sambil tertawa, sedangkan Aira yg mendengar ucapan Violeta barusan seperti tersengat listrik, dia diam sama sekali tidak mengucapkan kalimat sepatah katapun, sedangkan ChaCha hanya cemberut.


" Oh iya Ra..lu habis lulus mau lanjut kuliah dimana?, nggak mungkin lu langsung nikah macam ChaCha kan hehehe."


ucap Violeta sambil bercanda sedangkan Aira yg mendengarnya hanya terdiam.


" Woy kok lu banyak diam sih...apa jangan jangan diantara kita bertiga yg bakal nikah duluan itu adalah lu Ra."


ucap Violeta bercanda.


" Aih lu mah ngomong ngawur, mana mungkin Aira nikah duluan, pastinya itu anak mau lanjut kuliah kan."


ucap ChaCha sambil tersenyum menatap kearah Aira.


" Hahaha.. bener bener!!."


ucap Aira canggung, sedangkan kedua sahabatnya sepertinya tidak sadar dengan tingkah laku Aira saat ini.


" Lebih baik untuk sekarang gw nggak perlu kasih tau mereka berdua, atau mereka berdua akan berteriak histeris.. mikirin nya aja sudah pusing apalagi ngebayangin nya bisa gila gw." pikir Aira sambil menatap kedua sahabatnya.


Mereka bertiga akhirnya berbincang bincang tentang hal lain, tanpa terasa bel masuk berbunyi.


🌲🌲🌲🌲🌲


Alan sama sekali tidak bisa kerja dengan tenang, otaknya masih terisi penuh dengan perjodohan itu.


" Aishhh.. gimana caranya gw bisa menyelesaikan pekerjaan gw, kalau otak gw masih penuh dengan perjodohan."


ucap Alan mengacak ngacak rambutnya.


Tidak lama kemudian seseorang masuk kedalam ruangan Alan tanpa mengetuk terlebih dahulu, sedangkan Alan hanya menghela nafasnya ketika melihat sosok tersebut.


" Ada angin apa lu kesini Rizal?."


ucap Alan bingung karena Rizal termasuk salah satu sahabat baiknya, tetapi mereka jarang sekali bertemu karena kesibukan masing-masing.


" Wih bro.. kayaknya gw nggak dibolehin main nih ke kantor lu."


ucap Rizal bercanda.


" Dasar.. walaupun gw ngelarang lu buat main lu mah pasti nggak bakal dengerin ucapan gw."


ucap Alan santai.


" Hahaha ternyata lu masih hapal dengan watak gw bro, oh iya sepertinya lu punya kabar gembira sepertinya?."


ucap Rizal.


" Maksud lu?."


ucap Alan bingung.


" Aishh jangan berlaga lupa segala bro..wah kayanya kalau gw nggak kesini lu nggak bakalan ngasih kabar sepertinya ke gw."


ucap Rizal yg sedikit kesal.


" Ngomong nya jangan berbelit-belit Napa? langsung aja ke intinya."


ucap Alan.


" Gw denger kabar dari Aldi katanya lu mau nikah?, tadinya gw nggak percaya mungkin aja itu anak mau ngibulin gw gitu, tapi melihat dari ekspresi wajah lu tadi sebelum masuk sepertinya benar apa yg di ucapkan oleh Aldi."


ucap Rizal panjang lebar.


" Aih itu anak.. sorry bro bukan nya gw nggak mau ngasih kabar ke lu.. soalnya perjodohan ini pun tiba tiba, lagian lu tau sendiri gw susah untuk dekat sama seorang cewek, mungkin karena itu mamah gw ngejodohin."


ucap Alan terus terang.


" Kalau gw jadi orang tua lu.. mungkin gw juga bakalan bersikap seperti itu. oh iya kaoaan pernikahan nya akan diselenggarakan?."


ucap Rizal.


" Kira kira dua Minggu lagi.lu bisa hadir nggak?."


ucap Alan yg tau kalau sahabat nya yg satu ini sangat lah sibuk.


" Wah sorry banget bro, Minggu depan aja gw udah pergi lagi keluar negeri."


ucap Rizal sedih.


" Tenang saja, lagian pernikahan ini juga paksaan bukan karena gw jatuh cinta sama gadis itu."


ucap Alan terus terang.


ucap Rizal memastikan.


" Yang lu bilang semua nya benar!."


ucap Alan.


" Kalau seperti itu lu bilang aja ke mamah lu untuk membatalkan perjodohan ini, karena dilain sisi lain Udah menyukai seseorang, tinggal bawa aja gadis tersebut kan beres.lu bisa nikah dengan cewek yang lu suka tanpa adanya paksaan."


ucap Rizal yg masih belum tau semuanya. Alan menghela nafas panjang.


" Masalahnya adalah, cewek yang gw suka itu gw sama sekali belum pernah lihat wajah nya bro."


ucap Alan, Rizal yg mendengarnya merasa aneh.


" Gimana cara nya lu bisa menyukai seseorang tanpa pernah melihat wajah nya sedikit pun, apa lu udah gila?."


ucap Rizal yg tiba tiba kesal, karena menurutnya temannya yang satu ini pikirannya sedikit oleng.


" Emang seperti itu adanya bro, gw cuma pernah liat matanya, dan suara gadis tersebut."


ucap Alan sambil tersenyum manis. sedangkan Rizal hanya geleng-geleng.


" Lu itu bener bener gila, terus sekarang apa lu udah tau gadis itu siapa?."


ucap Rizal.


" Sampai sekarang gw masih belum mendapatkan informasi tentang gadis tersebut, dan yg lebih parahnya gw nggak tau nama gadis itu."


ucap Alan.


" Ternyata lu bisa menjadi bodoh dikala, sedang jatuh cinta.. Bener bener gila.. terus untuk kelanjutan gimana?."


ucap Rizal yg sudah pasrah dia tidak ingin memicu perdebatan.


" Gw akan tetap menikah dengan gadis pilihan Mamah gw, dan gw akan tetap mencari informasi tentang gadis yg telah menarik perhatian gw itu!."


ucap Alan.


" Terserah lu aja..tapi jujur aja ya, gw kasihan sama gadis yg akan nikah sama lu itu."


ucap Rizal.


" Aih Sudahlah nggak perlu bahas tentang perjodohan gw, mendingan lu sekarang jelasin kedatangan lu kesini mau apa?."


ucap Alan.


" Gw sepertinya sudah menemukan adik gw!."


ucap Rizal percaya diri.


" Lu udah beberapa tahun mencari keberadaan adik cewek lu itu, apa sekarang lu benar benar sadar dengan ucapan lu barusan?."


ucap Alan yg mengetahui kalau selama ini Rizal selalu mencari keberadaan adiknya, tetapi sama sekali tidak pernah mendapatkan informasi tentang keberadaan adiknya, dia tidak ingin sahabatnya terpuruk lagi seperti dulu.


" Aih lu mah.. beneran ini mah gw yakin kali ini dia adalah adik gw."


ucap Rizal senang.


" Iyah terserah lu..tapi ingat jangan terlalu berharap.. takut nanti nya lu akan seperti dulu lagi."


ucap Alan mengingatkan.


" Tenang kejadian duku tidak akan terulang kembali, karena gw yakin gadis kali ini benar benar adik kecil gw."


ucap Rizal.


" Iyah terserah lu aja."


ucap Alan yg tidak mau memperpanjang masalah.


" Kalau kayak gitu gw pulang duluan ya."


ucap Rizal tiba tiba.


" Kenapa buru buru banget?."


ucap Alan.


" Gw perlu memastikan terlebih dahulu."


ucap Rizal yg mulai berdiri dan merapikan bajunya.


" Semoga saja kali ini lu bener bener nemuin adik lu, supaya pencarian lu tidak sia sia."


ucap Alan sambil menepuk pundak Rizal.


" Iyah thanks bro, gw duluan ya, salam sama Aldi dari gw."


ucap Rizal sambil keluar dari ruangan tersebut.


" Semoga saja lu beneran ketemu adik lu zal."


ucap Alan yg kemudian bisa mengerjakan pekerjaan nya dengan lancar.


.


.


.


.


..


.


.


.


terimakasih karena sudah mau mampir ☺️