
Didalam kamar, masih dimansion Alan.
Alan terlihat sedang memasukkan bajunya kedalam koper, sedangkan Aira masih duduk disofa tempat biasa dia tidur, Alan menghentikan aktivitas nya.
" Kenapa kamu belum siap siap?."
ucap Alan bertanya, tetapi Aira pura pura tidak mendengar ucapan Alan.
" Jika ada orang yang bertanya kepada kamu, jawab pertanyaan mereka, jangan diam saja seperti orang yang tidak bisa bicara saja."
ucap Alan datar, karena kesal mendengar ucapan Alan, Aira melempar bantal dengan keras kearah Alan, dan tepat mengenai kepala Alan, membuat laki laki menghentikan aktivitasnya, dan membalikkan tubuhnya menghadap Aira, gadis itu tersenyum menyeringai melihat Alan.
" Lu itu sepertinya nggak ada kerjaannya ya!."
ucap Alan sambil melempar kembali bantal tersebut, tetapi dengan sigap Aira menangkap bantal tersebut dengan satu tangan nya, dan meletakkan nya kembali untuk menjadi sandaran punggungnya, melihat hal itu membuat Alan geram, dia tidak pernah melihat siapapun bersikap kurang ajar kepadanya.
" Lebih baik kamu masuk masukkan baju kamu kedalam koper, atau perlu saya masukkan juga, tubuh kamu kedalam koper?."
ucap Alan dingin, Aira mengangkat sebelah alisnya dan menatap Alan dengan arogan.
" Oh tuhan, sepertinya cewek ini udah mulai bosan hidup."pikirnya, dan saat Alan ingin membuka mulutnya, dia langsung dipotong oleh ucapan Aira.
" Lu bukan orang tua gw, yg bisa nyuruh nyuruh gw seenak jidat lu."
ucap Aira dingin, Alan terdiam sejenak, dia tidak percaya dengan pendengaran, dan ini merupakan pengalaman pertamanya ada seorang gadis yg berani berkata dan bersikap kasar kepadanya, akan tetapi semua itu terasa baru untuknya, dan hal itu membuat Alan semakin ingin terus mencobanya, seperti makanan saja, Alan terkekeh kecil.
" Aku memang bukan orang tua kamu, tapi kamu perlu ingat Aira, status kamu sekarang adalah seorang istri, dan suami kamu adalah Aku."
ucap Alan, dia sengaja menekan intonasi suara nya.
" Tapi lu juga harus ingat, lu belum pernah memperlakukan gw seperti istri lu."
ucap Aira emosi, kemudian dia pun tersadar dengan ucapannya, Alan tersenyum menyeringai.
" Ah... baiklah jika itu permintaan mu, mungkin sekarang waktunya saya, meminta jatah saya sebagai suami!."
ucap Alan sambil berjalan mendekati Aira, membuat gadis itu membuka matanya lebar-lebar.
" Jangan dekat-dekat, Kalau lu masih mau hidup besok pagi."
ucap Aira mengancam Alan, Aira sudah berdiri di atas sofa, Alan tersenyum menyeringai mendengar ucapan Aira, Alan tetap melanjutkan langkahnya mendekati Aira, membuat gadis itu kalang kabut.
ucap Alan dia masih menyeringai, tetapi sesekali Alan dengan sengaja menggigit bibir bawahnya.
" Jika gw jadi kucing liar, gw udah pastiin itu muka lu hancur sekarang juga."
ucap Aira, dia ingin mendorong Alan, tetapi dia tidak berani melakukannya, karena dia tidak memakai sapu tangan.
" Kenapa kamu tidak mendorong saya menjauh dari kamu, bukankah itu lebih mudah sayang."
ucap Alan dia senang melihat wajah Aira yg kesal, padahal dia biasanya tidak peduli dengan siapapun kecuali keluarganya.
" Gw nggak mau tangan gw menyentuh tubuh kotor orang mesum macam lu, dasar tuan mesum gila."
ucap Aira, Aira terdiam seketika setelah sadar dia memanggil Alan dengan sebutan apa, Aira menatap wajah Alan yg tiba tiba saja berubah menjadi dingin.
" Kamu siapa?."
ucap Alan dingin, sambil memegang lengan Aira dengan kuat, membuat gadis itu harus berpikir dengan keras.
" Maksud lu apa sih, gw nggak ngerti maksud ucapan lu."
ucap Aira mengelak, dan dia berusaha untuk melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman Alan, tetapi hasilnya nihil.
" Tamat sudah riwayat gw jika seperti ini!."
pikirnya.
.
.
.
.
.
terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca ☺️