
" Kamu sebenarnya siapa Aira?."
ucap Alan serius, Aira menelan ludahnya, dia tidak tau apa yg akan terjadi jika dia mengaku, jika wanita yang dibar waktu itu adalah dirinya.
" Apakah gw harus jujur!." pikirnya, Aira tersadar saat Cengkeraman Alan pada lengannya semakin kuat membuat gadis itu mengerang kesakitan.
" Lepasin tangan gw."
ucap Aira.
" Gw nggak bakalan lepasin tangan lu sampai lu mau berkata jujur."
ucap Alan, dan tanpa di sengaja menatap manik mata Aira, yg membuat Alan langsung terdiam, kemudian dia tersenyum misterius, kemudian dia melepaskan tangan Aira, membuat gadis itu kehilangan keseimbangannya karena Aira berusaha untuk melepaskan tangannya dari Alan, tetapi dengan sigap Alan meraih pinggang Aira dengan mudahnya.
Tetapi dengan cepat Aira mendorong tubuh Alan, membuat laki laki itu tersenyum menyeringai.
" Dasar cowok mesum Gil*."
ucap Aira , dia langsung berlari keluar meninggalkan Alan sendirian di kamarnya.
" Sepertinya gw perlu menyelidiki Gadis kecil ini lagi, dan juga mata itu dan tatapan mata itu, kenapa bisa begitu mirip."
ucap Alan terkekeh geli.
" Ternyata gadis kecil itu bisa membuat gw gila juga, ya..Jika memang Aira adalah princess, maka gw nggak akan pernah melepaskan dia, memikirkan hal yg belum semuanya benar saja telah membuat gw begitu bersemangat."
ucap Alan sambil tertawa, mentertawakan dirinya sendiri.
Sedangkan diluar kamar, Aira sengaja berjalan keluar mengelilingi mansion sambil menggigit kukunya.
" Gw nggak tau reaksi itu cowok mesum seperti apa, jika dia tau yg sebenarnya, gw nggak mau mati muda."pikirnya, saat Aira tengelam dalam pikirannya, seseorang tiba-tiba saja menepuk pundak Aira, membuat gadis itu terlonjat kaget.
" Kamu kenapa sayang?, kenapa melihat mamah seperti melihat hantu hmm?."
ucap Elena, Aira masih mengelus dadanya.
" Ah..nggak ada apa apa mah, Mah..boleh aku tanya sesuatu?."
ucap Aira, karena dia merasa dia perlu menanyakan nya.
" Memangnya kamu menanyakan apa sayang, sampai kamu terlihat begitu serius?."
ucap Elena sambil tersenyum lembut.
" Aku mau tanya sesuatu tentang Alan!."
ucap Aira, mendengar ucapan Aira, Elena mengernyitkan keningnya sesaat, kemudian dia tersenyum kembali.
" Kamu memang mau tanya apa tentang Alan hmm."
ucap Elena lembut.
" Alan itu orangnya seperti apa sih mah?."
ucap Aira, Elena tersenyum mendengar pertanyaan Aira.
" Ah.. sebaiknya kita ngobrol nya di tempat kerja mamah aja gimana, supaya lebih enak."
ucap Elena, Aira hanya menganggukkan kepalanya.
" Ayo!."
ucap Elena lembut sambil menggandeng tangan Aira masuk ketempat kerjanya, setelah masuk kedalam ruangan tempat kerja, Elena menyuruh Aira untuk duduk disofa, dan elena duduk disampingnya Aira dengan anggun.
" Ok sekarang kamu mau menanyakan apa dulu tentang Alan?."
ucap Elena, Aira terlihat sedikit ragu, tetapi dia memberanikan dirinya.
" Apa hal yg paling dibenci oleh Alan mah?."
" Alan paling tidak suka dibohongi, dan dia paling anti dengan seorang pengkhianat."
ucap Elena, mendengar ucapan Elena membuat Aira terdiam.
" Kamu sedang tidak menyembunyikan sesuatu kan sayang kepada Alan?."
ucap Elena.
" Jujur mah aku punya rahasia, dan aku masih belum bisa memberi tahu Alan secara jujur, karena aku masih bimbang."
ucap Aira terus terang, Elena tersenyum mendengar ucapan Aira, dia mengelus rambut Aira dengan lembut.
" Mamah tau terkadang berkata jujur itu berat, tetapi saat kamu tidak mempunyai rahasia apapun, kamu akan tenang sayang."
ucap Elena.
" Tapi mah!."
ucap Aira.
" Itu terserah kamu saya, pilihan ada sama kamu, tapi mamah ingatkan, Alan termasuk orang yang menghargai kejujuran, jadi sepahit apapun ucapan kami nanti, mamah yakin Alan akan menerima semuanya sayang."
ucap Elena, Aira pun terdiam mendengar ucapan Elena, Aira termasuk gadis yang tidak bisa berbohong, dan memang benar dia selama ini merasa terbebani.
" Baiklah mah aku akan mencobanya, dan apa yg paling Alan sukai."
ucap Aira, mengalihkan topik pembicaraan.
" Alan termasuk orang yang suka makan, tetapi dia tidak suka makanan yg pedas."
ucap Elena, Aira hampir tertawa mendengarnya, dia tidak percaya laki laki yg sudah dewasa seperti Alan tidak menyukai makanan pedas.
" Ah sebenarnya masih banyak lagi kepribadian yang Alan miliki itu, tetapi sepertinya akan lebih menyenangkan lagi, jika kamu mengetahui sendiri sayang."
ucap Elena, membuat Aira paham, kemudian dia hanya menganggukkan kepalanya.
" Ah iya, apakah kamu sudah menyiapkan pakaian kamu sayang?."
ucap Elena.
" Belum mah."
ucap Aira sambil nyengir kuda, Elena menggelengkan kepalanya.
" Ya udah, sana kamu beres beres dulu, bentar lagi kalian kan akan berangkat."
ucap Elena.
" Iya mah.. makasih udah mau ngingetin."
ucap Aira kemudian dia mulai berjalan menuju pintu, tetapi langkahnya terhenti.
" Alan itu sebenarnya laki laki yg penyayang sayang."
ucap Elena, Aira pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, kemudian Aira mulai membuka kenop pintu dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca ☺️