
Aira menghempaskan tubuhnya ke atas Ranjang, dia menghela nafas panjang.
" Bisa aja jika terus menerus seperti ini, tarik ulur mulu, cepat atau lambat itu orang pasti sadar siapa gw sebenarnya!."
ucap Aira pelan, merutuki kecerobohan tadi, padahal dia ingin tidak terbawa emosi, tetapi ucapan Alan benar benar keterlaluan, dan Aira juga bukan tipikal yg bisa mengalah begitu saja, apalagi dengan laki laki egois seperti Alan.
Brakk.
Terdengar suara pintu kamar yg dibanting keras, tanpa perlu melihat kearah pintu Aira sudah tau siapa yang membanting pintu kamarnya. Alan berjalan dengan cepat dan menghampiri Aira dengan wajah yg masih merah karena menahan amarahnya, dengan santai Aira mendongak dan menatap Alan, mereka berdua membuat kontak mata.
" Mata itu tidak asing!." pikirnya
" Ngapain lu masuk sambil banting pintu segala huh?, emangnya lu anak bocah yg masih suka ngambek hanya karena masalah sepele?."
ucap Aira dengan nada mengejek.
" Tarik ucapan lu barusan!."
ucap Alan yg terdengar mengancam, mendengar ucapan Alan, Aira menyeringai.
" Kalimat mana yg gw harus tarik hmm?, Apakah ucapan gw barusan membuat lu nggak nyaman, atau mungkin melukai perasaan lu?, jika memang iya..itu adalah hal yg paling pantas untuk lu terima, asal lu tau aja...gw paling muak dan benci dengan cowok yg selalu memandang dirinya itu paling woww...dan selalu memandang orang lain dengan sebelah mata, Sedangkan lu pengen gw seperti anak buah lu yg selalu menuruti perintah lu gitu...tapi sorry gw bukan anak buah lu Man, dan gw nggak suka di berikan perintah ataupun dipaksa, jadi gw harap lu bisa mengerti maksud ucapan gw barusan, jika tidak, berarti lu sedang menggali sebuah kuburan untuk diri lu sendiri!."
ucap Aira santai berbicara tanpa dosa.
" Apa lu sedang menggertak gw?."
ucap Alan mengeraskan Rahangnya, Aira tersenyum polos, tetapi kemudian dia tersenyum misterius.
" Itu bukan sebuah Gertakan bocah, itu hanya sebuah pengingat saja buat lu, Dan karena lu sudah mengusik ketenangan gw..maka gw akan membalas perbuatan lu..lu jangan pernah berharap gw seperti gadis gadis yg diluar sana, yg sedang mengejar lu, karena gw bukan salah satu diantara wanita itu Alan Gusti Nugroho."
ucap Aira tegas membuat Alan menelan ludahnya untuk yg kesekian kalinya, dia tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang gadis kecil bisa menggertak dirinya, tetapi sekarang kenyataannya adalah dia memang sedang di gertak dengan gadis kecil yg dia sebut sebagai istrinya.
" Jika lu nggak punya kegiatan, setidaknya diam dan baca buku, mungkin itu lebih baik, dari pada lu ngomong tentang sampah."
ucap Aira ketus, membuat Nyali Alan tiba tiba menciut, dia tidak tau kenapa dia tidak bisa berkutik dihadapan Aira padahal dia tau wanita yg ada dihadapannya adalah gadis yg lemah pikirnya.
ucap Aira datar, membuat Alan langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
" Kenapa Gadis kecil ini bisa memiliki aura yg menakutkan seperti Rizal?." pikirnya
" Gw mau tidur, jangan berisik.. jika berisik gw potong lidah lu."
ucap Aira dingin dan tidak lama kemudian Aira terlelap dari tidurnya. Alan menghembuskan nafasnya lega, dia baru sadar dari tadi dirinya sesekali menahan nafasnya.
" Bisa gila gw jika seperti ini mulu!."
ucap Alan pelan, dan tanpa dia sadari dia sudah berada disamping ranjang tempat Aira tertidur pulas, sebuah senyuman kecil terukir diwajahnya tanpa Alan sadari.
" Dia lebih baik tidur, dan tidak bangun selamanya, dan tidak ada kata kata kasar yg keluar dari mulut kecil itu, Siapa sebenarnya lu huh?." pikirnya, yg tidak lama kemudian setelah itu Alan keluar dari kamar tersebut.
Aira membuka matanya dan membuang nafas panjang.
" Hidup ini terlalu banyak rintangan gila!."
ucap Aira bergumam.
.
.
.
.
.
.
terimakasih atas kunjungan Anda selamat membaca ☺️