
Hari yang dinanti kerajaan Hirina akhirnya tiba, penobatan Putra mahkota kerajaan ini telah dipastikan saat ini juga.
Semua pandangan yang tadi melihat ke arah pemandu beralih menatap Pangeran Kezi.
"Putra mahkota telah tiba, harap semua yang hadir memberikan salam hormat terhadap beliau." Tanpa menunggu waktu lagi, para Pemuda Pemudi segera menunduk hormat padanya, bertekuk lutut.
Pangeran Kezi mengangguk singkat lalu meneruskan langkahnya menuju tempat tengah aula upacara, sedangkan Ibunya, Adik tirinya dan Juga Ayahnya sedang mengawasi dari jauh.
Ritual sakral akhirnya dimulai, pertama tama Calon Putra mahkota kerajaan harus dimandikan dengan tujuh macam air, Pertama adalah Air suusu. Berfungsi untuk menghaluskan kulit serta meremajaan selnya. Yang kedua adalah Air madu murni. Yang ketiga adalah air biasa yang telah dicampur oleh bunga tujuh warna.
Setelah semua ritual upacara awal telah selesai di laksanakan, tibalah acara berikutnya yang berupa mewarnai tubuh putra mahkota dengan kunyit di seluruh kulitnya kecuali area terlarang. Yang pertama mengoleskan kunyit adalah anggota keluarga, tujuannya untuk mendoakan Putra mahkota itu sendiri, juga sebagai tanda restu orang tua.
Ayahnya adalah orang pertama yang maju mengoleskan kunyit tersebut, setelah itu baru yang lain..
Tibalah giliran Adiknya yang juga ikut membalurkan kunyit tersebut.
"Ini dia adik cerewetku, apa kau akan membalurkan aku juga?" Tanya Kezi basa basi padanya.
"Tentu saja lah, memangnya aku ini bukan Adikmu apa?!" Shi ya tersingung dengan ucapan Kezi Kakaknya.
"Haha, lihat Ayah! Shi ya lucu sekali ketika marah, seperti kelinci bukan?" Gurawan Kezi barusan membuat Shi ya tersinggung, lantas mengangkat tempat kunyitnya dan dia oleskan semua kunyit itu di wajah Kezi.
Plokkk
Semua mata yang melihat kejadian itu terbelalak seketika. Shi ya benar benar membuat Kezi malu di depan umum.
"Nah, Kakak keren sekali ya!!" Itu yang diucapkannya, Raja Vezi beranjak dari duduknya dengan marah ia mendekati Shi ya. Vezi ingin menampar Putrinya, namun Kezi lebih dulu menahannya.
Vezi menoleh kepada Putranya, Kezi menggeleng. Raja hanya bisa berbalik dan kembali ke tempat singgah sananya. Semua Siluman menatap tidak percaya, Kezi tersenyum ke arah Adiknya yang tengah ketakutan hingga menutup wajahnya.
"Sudah, Ayah tidak jadi marah Shi ya," Kezi berkata pelan di telinga Adiknya. Shi ya membuka kedua tangannya perlahan.
"Maaf Kak, Shi ya hanya bercanda saja pada Kakak." Shi ya masih merasa menyesal.
Kezi menggeleng sembari membungkuk mengambil wadah lain berisi kunyit. Membalas Adiknya.
Plokkk
Shi ya menatap Kakaknya tidak percaya, kini tatapan orang orang berubah menjadi tawa, Raja Vezi bahkan tertawa lebih kencang.
"Astaga! Kenapa tidak bilang kalian sedang bercanda heh? Membuatku dan semua orang salah Faham! Shi ya, jangan mengganggu ritual lain kali ya!" Tegur Ayahnya, Shi ya mengangguk dengan wajah penuh kunyit. Sedangkan kekacauan kecil itu segera di bersihkan, ritual berlanjut dan Kezi kembali duduk di tempatnya.
Setelah badannya dibersihkan dari olesan kunyit, Pangeran Kezi di pakaikan kain sutra putih berpinggiran benang emas yang bermotif dedaunan indah, tak lupa hiasan di kedua tangannya. Setelah Pangeran Kezi berpenampilan rapih ia berdiri dan beranjak menuruni tangga, salah satu panglima kerajaan Hirina membawakannya pedang yang indah serta tipis nan tajam, berwarna perak dengan belang keemasan, ada berlian berwarna hijau di tengahnya.
"Para hadirin rakyat kerajaan Hirina yang terhormat, pelaksanaan penobatan Putra mahkota karajaan Hirina saat ini telah usai. Putra mahkota telah menerima pedang warisan leluhur dengan baik. Dan acara dilanjutkan dengan upacara do'a untuk memohon kesejahteraan kepemimpinannya nanti.."
Keramaian dan tawa bahagia berlangsung lama di sepanjang acara, tapi Fikiran Kezi saat upacara berlainan dengan apa yang ia Fikirkan saat ini.
"Aku penasaran, apakah Gadis manusia itu sekarang dalam kesulitan atau tidak. Berjam jam Aku disini, apakah dia baik baik saja?" Kezi sepertinya tengah menghwatirkan Laras di dalam benaknya itu.
Wajah Laras selalu ada di pelupuk matanya, bahkan sepanjang ritual awal penobatanpun Kezi terus memikirkannya.
Nampaknya kini Pangeran siluman amat meyukai Laras. Tetapi ia tau hubungan seperti itu selalu di anggap melenceng dan salah dimata rakyat, nyatanya Pangeran Kezi tidak begitu peduli tentang itu.
Yang tersisa hanyalah anggota keluarga saja, Raja Vezi memulai obrolannya dengan Putra sulungnya,
"Nak, suatu saat jika Ayah semakin berumur. Kaulah yang nanti akan mengurusi istana dan Rakyat. Ayah mengandalkanmu saat itu." Ucap Vezi menjelaskan kepada seluruh keluarganya, termasuk pada selirnya. Shi ya hanya turut mendengarkan saja.
Degh..
Hati Shayana menjadi retak mendengar ungkapan tiba tiba dari Raja Vezi. Selir ketiga hanya mendengarkan dengan dingin. Putrinya yang masih belia tengah bermain di lapangan istana sana.
"Apa!!" Shayana berseru terhadap ungkapan Raja, ia bergegas berdiri dari tempat duduknya suaranya bernada terkejut.
"Yang mulia, bukannya ini tidak adil? Putramu mendapat segalanya, apakah Shi ya tidak mendapatkannya seperti Putramu? Kau membeda bedakan Anak kita!!" Shayana berseru protes terhadap keputusan Raja Vezi, seruannya bernada keberatan.
Raja Vezi lebih tidak percaya lagi dengan ungkapan Shayana istrinya. Bukankah selama permaisurinya meninggal, Shayanalah yang menggantikan posisi Permaisuri kerajaan, dan selir ketigapun tidak keberatan menggantikan posisi Shayana secara suka rela. Ia bahkan tidak perlu berseru protes seperti Shayana.
Nasibnya hanya menjadi selir, dan ia tau posisinya. Maka selir yang bernama Yu maina hanya bisa memperhatikan perdebatan keluarga.
"Aku menunjuk Putraku untuk mengatur seluruh kerajaan, dan bukan berarti aku tidak sayang kepada Shi ya. Aku akan menempatkannya sebagai Putri tunggal kerajaan yang mengatur wilayah barat sana. Di sana ada istana juga-" Ungkapan Raja Vezi terpotong oleh ungkapan Ratu Shayana.
"Tidak bisa, aku tidak terima.." Ungkapan itu terlontar datar.
Seluruh mata yang melihat dan semua yang mendengarnya berseru tidak percaya.
Termasuk Shi ya yang telah setuju mengatur kerajaan Barat. Ia terkejut dengan keputusan Ibunya yang menolak itu.
"Bunda, apa maksud bunda..?" Shi ya beranjak memegang lengan Ibunya.
"AKU YANG BERHAK MENGATUR KERAJAAN INI.." Ungkap Shayana dengan nada marah. Raja terbelalak mendengarnya, Shi ya memundurkan langkahnya melepaskan lengan Ibunya. Kezi hanya menatap datar pertengkaran.
Plakk..
Tamparan tiba di pipi Wanita cantik itu, keras dan membuat pipinya memerah.
"Ayah.." Shi ya berseru, Kezi ikut menghentikan Ayahnya, agar tidak memukul Shayana lebih lagi.
Yu maina beranjak dari duduknya, dan meminta izin pergi.
"Yang Mulia, Pangeran, Putri, Ratu. Saya izin pergi.. Saya harus mengurus Yuji Putri saya." Ungkapan itu hanya mendapat anggukan dari Shi ya dan Pangeran Kezi.
Yu maina segera beranjak pergi meninggalkan ruang aula. Hanya tersisa beberapa pengawal dan dayang di sana.
"Kalian pergilah, aku akan memanggil jika perlu sesuatu lagi." Perintah Pangeran itu segera dituruti Dayang dan Prajurit. Mereka pamit dengan wajah menunduk, pertengkaran keluarga memang tidak boleh mereka hiraukan. Mereka harus tutup mulut dan telinga saat mendengarnya tadi. Mereka dilarang membicarakan hal tersebut ke luar istana.
Sedangkan Shayana masih memalingkan wajahnya karena rasa tamparan itu memang sakit perih. Perlahan tangannya memegang bagian itu.
"Sudah ku berikan posisi Permaisuri Fahasya padamu, dan sekarang kau ingin merebut posisi Putraku!! KETERLALUAN, SEHARUSNYA KAU YANG TIADA.." Tangan Raja menunjuk marah ke arah Shayana.
"Fahasya itu mengidap asma, dia menolongmu saat kau terjebak kebakaran di dapur. Padahal ia baru saja melahirkan Kezi. Demi kau dan bayimu Shi ya, dia menembus kepulan asap. Dia korbankan nyawanya, TAPI APA BALASANMU.. LEPASKAN AKU KEZI, SHI YA.. KAU MEREBUT SEMUA POSISINYA, DAN KAU INGIN MEREBUT POSISI PUTRANYA JUGA.. KETERLALUANN!! Seharusnya.. Fahasya tidak selamatkanmu dan membiarkanmu tewas di sana.. Hiks..!!" Raja kini menangis tersedu sedu di lantai, mengingat wajah Fahasya yang tersipu.. Mengingat semua kenangan manisnya, dan mengingat saat kematiannya..
Shayana tidak terima dengan perlakuan Raja, dia pergi begitu saja.