TO THE DEAD

TO THE DEAD
jangan dibaca dulu, tapi boleh di like kok.



(Bab sedang direvisi harap jangan dibaca!!)


Pesawat yang melesat dari bandar udara indonesia kini telah mendarat di bandara Seoul korea, pramugari pesawat kini memberi tahukan bahwa rombongan kini telah sampai di tujuan hampir semua orang mengeluarkan jas tebal dan Jaket dari dalam tas mereka.


Aku melirik ke arah Janson karena aku bertanya tanya, kenapa?


Janson hanya diam di tempatnya dan tidak bergerak ataupun mengucapkan sesuatu yang membantu untuk kami berbicara pada pramugari ini.


Pramugari itu juga menatap bingung ke arah kami, dia juga ikut terdiam.


"Permisi" Seseorang dari kursi belakang kami berseru padanya.


Pramugari itu sekarang beralih perhatian padanya, ia menoleh.


"Mereka baru tiba disini, jadi jangan bicara hal yang terlalu banyak karena mereka tidak mengerti, lihat wajah mereka? Apakah mereka tampak. mengerti ucapanmu? Jadi biar aku yang mengurusnya." Ucap wanita yang berpakaian mewah dengan kacamata hitam dan topi yang bagus itu, ia membuat pramugari itu mengangguk terakhir memberikan hormat padanya.


Sekarang mata wanita itu tertuju pada kami, "Apakah kalian adalah Anak Anak yang di kirim dari negara indonesia ke korea untuk belajar?" Tanya wanita itu kepada kami.


"Iya, paman Farhan mengirim kami ke sini jntuk tinggal dan belajar di sini." Janson menjawab.


Wanita tadi mengangguk lalu melanjutkan pembicaraan sembari menggandeng tangan kami.


"Kalian sudah tiba di korea, maka aku akan mengajak kalian jalan jalan dan melihat kota ini dari dekat, jangan hiraukan barang barang yang kalian bawa semua akan diurus oleh orang orangku yang akan datang jadi kita langsung pergi dari bandara ini. Apakah kalian mau?" Tanya Wanita itu pada kami.


"Bagaimana?" Lanjut Wanita tadi.


Aku dan Janson saling melirik, "Baiklah aku tidak keberatan." Janson sejenak berseru pelan.


"Bagus, tapi sebelumnya kalian harus memakai mantel dan penutup kepala sebelum keluar dari pesawat, aku punya penutup kepala dan mantel cokelat untuk kalian Anak Anak." Wanita tadi berkata lembut sambil tersenyum pada mereka.


Prok! Prok!


Wanita itu menepukkan tangan selintas dan beberapa pria dengan seragam rapih keluar dari ruangan kabin pesawat. Ternyata mereka adalah dua pilot pesawat yang patuh pada perintah si Wanita.


"Mereka siapa? " Tanya Janson, kedua pilot itu tampak mendekat pada kami.


"Mereka pengawalku yang profesional, bisa menyamar menjadi pilot pesawat, dan bisa melindungiku. Jadi pesawat ini juga adalah pesawat pribadiku, semua orang yang naik adalah anak remaja usia 11-15 tahun yang ingin belajar di sekolahku. Aku adalah kepala sekolah Young nam gam seoul. Itu adalah sekolah akademis untuk siswa siswi yang tidak bisa melanjutkan pendidikan dan juga untuk yang ingin mengambil pendidikan dengan adanya peluang kerja yang tinggi dalam segala bidang, sekolah dengan talenta tertinggi adalah sekolah Young nam gam." Jelasnya.


Wanita itu menoleh karena ucapan dari kedua pilot profesional itu memanggilnya.


"Kenalkan nama saya Young su juu, direktur sekaligus pemilik sekolah Young nam gam." Jelasnya.


"Apakah boleh aku memanggil anda Nyonya Ju?" Anaya bertanya sopan.


"Kalian panggil aku Bu Ju saja. Mari pakai kedua mantel ini, cuaca di korea sedang memasuki awal musim dingin jadi kalian tidak boleh terkena flu ya." Bu Ju memperhatikan mereka seperti seorang ibu.


Anaya dan Janson diajarkan oleh Bu Ju cara memakai sweter dan syal tebal yang ia berikan.


"Kelilingi syalnya di leher kalian supaya tidak kedinginan, dan kalian harus ingat ya jangan dekati air dingin atau danau yang membeku, itu akan membuat kalian dalam bahaya dan bisa saja danau beku itu retak. Apa kalian mengerti? Nama kalian siapa?" Tanya Bu Ju pada mereka.


"Namaku Anaya Prisila di samping ku Janson Bram." Anaya menjawab.


"Ooh begitu, Ayo Janson Anaya kita keluar." Ajak Bu Ju pada kami.


...----------------...


Kedua tangan tangan Bu Ju telah sempurna menggengam tanga. Janson dan Anaya, Ketiganya melewati badan pesawat dan tiba di pintu keluarnya.


Pesawat yang melesat dari bandar udara indonesia kini telah mendarat di bandara Seoul korea, pramugari pesawat kini memberi tahukan bahwa rombongan kini telah sampai di tujuan hampir semua orang mengeluarkan jas tebal dan Jaket dari dalam tas mereka.


Aku melirik ke arah Janson karena aku bertanya tanya, kenapa?


Janson hanya diam di tempatnya dan tidak bergerak ataupun mengucapkan sesuatu yang membantu untuk kami berbicara pada pramugari ini.


Pramugari itu juga menatap bingung ke arah kami, dia juga ikut terdiam.


"Permisi" Seseorang dari kursi belakang kami berseru padanya.


Pramugari itu sekarang beralih perhatian padanya, ia menoleh.


"Mereka baru tiba disini, jadi jangan bicara hal yang terlalu banyak karena mereka tidak mengerti, lihat wajah mereka? Apakah mereka tampak. mengerti ucapanmu? Jadi biar aku yang mengurusnya." Ucap wanita yang berpakaian mewah dengan kacamata hitam dan topi yang bagus itu, ia membuat pramugari itu mengangguk terakhir memberikan hormat padanya.


Sekarang mata wanita itu tertuju pada kami, "Apakah kalian adalah Anak Anak yang di kirim dari negara indonesia ke korea untuk belajar?" Tanya wanita itu kepada kami.


"Iya, paman Farhan mengirim kami ke sini jntuk tinggal dan belajar di sini." Janson menjawab.


Wanita tadi mengangguk lalu melanjutkan pembicaraan sembari menggandeng tangan kami.


"Kalian sudah tiba di korea, maka aku akan mengajak kalian jalan jalan dan melihat kota ini dari dekat, jangan hiraukan barang barang yang kalian bawa semua akan diurus oleh orang orangku yang akan datang jadi kita langsung pergi dari bandara ini. Apakah kalian mau?" Tanya Wanita itu pada kami.


"Bagaimana?" Lanjut Wanita tadi.


Aku dan Janson saling melirik, "Baiklah aku tidak keberatan." Janson sejenak berseru pelan.


"Bagus, tapi sebelumnya kalian harus memakai mantel dan penutup kepala sebelum keluar dari pesawat, aku punya penutup kepala dan mantel cokelat untuk kalian Anak Anak." Wanita tadi berkata lembut sambil tersenyum pada mereka.


Prok! Prok!


Wanita itu menepukkan tangan selintas dan beberapa pria dengan seragam rapih keluar dari ruangan kabin pesawat. Ternyata mereka adalah dua pilot pesawat yang patuh pada perintah si Wanita.


"Mereka siapa? " Tanya Janson, kedua pilot itu tampak mendekat pada kami.


"Mereka pengawalku yang profesional, bisa menyamar menjadi pilot pesawat, dan bisa melindungiku. Jadi pesawat ini juga adalah pesawat pribadiku, semua orang yang naik adalah anak remaja usia 11-15 tahun yang ingin belajar di sekolahku. Aku adalah kepala sekolah Young nam gam seoul. Itu adalah sekolah akademis untuk siswa siswi yang tidak bisa melanjutkan pendidikan dan juga untuk yang ingin mengambil pendidikan dengan adanya peluang kerja yang tinggi dalam segala bidang, sekolah dengan talenta tertinggi adalah sekolah Young nam gam." Jelasnya.


Wanita itu menoleh karena ucapan dari kedua pilot profesional itu memanggilnya.


"Kenalkan nama saya Young su juu, direktur sekaligus pemilik sekolah Young nam gam." Jelasnya.


"Apakah boleh aku memanggil anda Nyonya Ju?" Anaya bertanya sopan.


"Kalian panggil aku Bu Ju saja. Mari pakai kedua mantel ini, cuaca di korea sedang memasuki awal musim dingin jadi kalian tidak boleh terkena flu ya." Bu Ju memperhatikan mereka seperti seorang ibu.


Anaya dan Janson diajarkan oleh Bu Ju cara memakai sweter dan syal tebal yang ia berikan.


"Kelilingi syalnya di leher kalian supaya tidak kedinginan, dan kalian harus ingat ya jangan dekati air dingin atau danau yang membeku, itu akan membuat kalian dalam bahaya dan bisa saja danau beku itu retak. Apa kalian mengerti? Nama kalian siapa?" Tanya Bu Ju pada mereka.


"Namaku Anaya Prisila di samping ku Janson Bram." Anaya menjawab.


"Ooh begitu, Ayo Janson Anaya kita keluar." Ajak Bu Ju pada kami.


...----------------...


Kedua tangan tangan Bu Ju telah sempurna menggengam tanga. Janson dan Anaya, Ketiganya melewati badan pesawat dan tiba di pintu keluarnya.