TO THE DEAD

TO THE DEAD
Selamatkan sahabat



Quen yang tidak mampu bertahan lagi mendadak kehilangan kesadaran, lilitan ular raksasa itu semakin kencang. Ditambah lagi Quen tidak mampu tidak bernafas selama 1 menit lebih, hanya Rey yang masih berusaha bertahan menunggu Heng yang seharusnya menyelamatkan mereka.


Desis - desis ular raksasa itu semakin kencang, menandakan mereka merasa senang melihat mangsa yang takluk di hadapan mereka.


("Uh.. Rey harus bisa membebaskan diri, kalau tidak Rey akan habis di tangan ular jelek ini! Rey tidak mau itu terjadi!"). Runtuk batin Rey, dengan bersusah payah satu tangan Rey yang menarik pisau kecil berhasil mengeluarkan lengannya juga mengeluarkan pisau tersebut. Ketika kepala ular raksasa itu ada di depannya siap membuka mulut, Rey dengan segera menancapkan pisau tersebut ke mata ular. Perkiraan Rey tepat matanya tidak keras seperti batu, ular itu langsung mengerang kesakitan dan tersungkur di tanah.


Tetapi Rey jatuh dari ketinggian 2 meter lebih akibat ekor ular tersebut mengendur. Rey berteriak lirih melihat bawah yang sudah semakin dekat.


HAP!


Ada yang menangkapnya, sehingga Ray tidak jadi terjatuh berdebam ke tanah.


"Heng!" Rey berseru gembira melihat sahabatnya yang sudah kembali.


"Ya aku kembali, Siapa pula yang akan meninggalkan wanita tua dan ceroboh sepertimu. Bisa-bisa kau tewas dimakan ular raksasa tersebut! Kenapa kau ceroboh sekali Rey!" Jawab Heng dengan ketus.


"Kenapa kau jadi seperti ini?" Rey beritanya.


"Sudahlah jangan pikirkan aku, lebih baik kita segera menyelamatkan Quen. Lihat ular raksasa itu akan memakannya!" Heng menunjuk adegan saat ular raksasa siap makan Quen, ular tersebut telah sempurna membuka mulut akan langsung melahap Quen dalam sekali telan.


"Oh tidak!" Rey berseru lirih.


Heng segera melihat arah yang ditunjuk Rey, melihat Quen yang sudah sempurna dilahap oleh ular raksasa tersebut, Heng tidak ingin tinggal diam ia segera melayangkan dua pisau sekaligus dan tepat mengenai mata ular besar tersebut. Ular itu berseru kesakitan sembari membuka mulutnya.


Quen yang terkulai pingsan terjatuh saat mulut ular itu terbuka lebar. Rey yang masih lemas karena lilitan ular besar harus segera menangkap Quen, jika tidak Quen akan mendarat di bebatuan kerikil tajam.


"Berhasil," di detik-detik terakhir Rey berhasil menangkap Quen, Ia sempurna berada di dekapan Rey saat ini.


Di sisi lain Heng tengah kita menyerang ular-ular raksasa tersebut secara membabi buta. Heng melepaskan puluhan pisau tajam tepat ke arah mata ular besar, Heng kali ini kehabisan kesabarannya. Ia benar - benar marah sekali.


JLEB, JLEB, JLEB, JLEB.


Suara desis ramai kesakitan terdengar sahut menyahut, sementara Heng saat ini tengah berjalan santai menuju kedua temannya. Ia ingin memastikan apakah Quen masih hidup atau sudah tiada.


"Quen bangun Quen, Quen!" Ray mengguncang-guncang Bahu Quen terus menerus. Berharap Quen bangun segera, tapi tubuh Quen tidak menunjukkan pergerakan sedikitpun.


Jangankan bergerak nafas pun tidak ada. Isak tangis Rey pecah saat itu juga, karena ia mengira Quen sudah tidak bernyawa lagi, karena tubuhku ini sudah mulai dingin.


Perlahan Heng menyandarkan tangannya di bahu Rey memeluk bahunya untuk menenangkannya sebentar.


Karena tubuh Quen tidak terlilit lagi oleh tubuh ular raksasa, perlahan nafas keluar masuk dari hidungnya. Awalnya kecil namun lama-kelamaan berubah menjadi nafas normal. Tubuh dingin Quen perlahan menjadi hangat kembali.


Rey masih terisak, sementara Hai masih terduduk merenung karena sedih. mata Queen sekarang perlahan-lahan terbuka kembali. pandangannya awalnya buram namun perlahan-lahan menjadi normal kembali, tangannya Queen terulur ke atas.


"ASTAGA!" Rey mendadak berteriak histeris. Heng ikut terkejut karena ungkapan Rey yang tiba-tiba.


"Ada apa Rey! Apa yang terjadi?" Heng memperhatikan sekeliling, saat Rey membuat Heng was was, Rey kemudian membuat sahabatnya fokus kepada arah depan. Heng berseru bahagia.


"Quen! Astaga kau selamat! Aku tidak menyangka ini, aku kira kau meninggalkan kami." Heng pertama yang lompat memeluk Quen setelah ia melewati masa-masa kritis dan akhirnya tersadar.


GREP!


Rey yang kedua menyusul memeluk Quen, Gadis itu merupakan saudara Rey sendiri. Rey sudah menganggapnya sebagai saudara perempuan sendiri tepatnya.


"Kenapa ini Rey?, apakah ular - ular raksasa itu sudah mati? bagimana aku bisa selamat." Quen berkata lirih kepada sahabat-sahabatnya.


"Kau tak perlu memikirkan itu Quen, sebaiknya kita hentikan sampai di sini saja. Aku dan Rey yang akan melanjutkannya." Dengan sungguh - sungguh Heng mengatakan kalimat tersebut. Sementara Quen dibuat bingung oleh kalimatnya. Rey ikut mengangguk setuju atas kalimat Heng.


"Apa maksud kalian melanjutkan ini, bukannya ini hanya latihan?" Quen ingin beranjak berdiri di tengah tengah mereka, namun Rey menahannya menyuruhnya tetap duduk.


"Kita tidak sedang latihan. Kita justru berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan seseorang." Rey yang menjawab pertanyaan Quen.