
Tadi Janson terlihat melamun dan terdiam sesaat. Dia tidak menoleh saat dipanggil oleh Anaya, membuat Anaya menatapnya cemas untuk sesaat.
Janson tertegun dari lamunan itu. Dia merasa dia tak ada di taman belakang rumahnya, dia seolah sedang berada di tempat yang berbeda namun ada sesuatu yang terjadi di depan matanya itu, tapi Janson tak ingat tentang bayangan apa yang barusan terjadi di depannya.
Dia hanya ingat suasananya, suasananya sangat hening tempat itu tidak ada di kota bansar, karna Janson melihat sekitarnya itu hitam..
“Apa yang kulihat barusan, tempat apa itu.. selama ini aku belum pernah melihat atau mengalami hal seperti ini..” Gumam Janson.
Anaya langsung bertanya seketika, “janson kau gak papa kan..?”
“Anaya-“
“Janson apa yang terjadi barusan? Kenapa terdiam begitu!”
“tidak-, tidak apa apa Anaya.. hanya sedang melamun aku.. iya gak papa kok!” Jawabnya.
“kalian disini rupanya.. Anaya dicariin om Fariz tuh..” Aliza datang dari belakang Janson. Dia selalu muncul tiba tiba begini.
“aku? Janson gimana..”
“Hanya kamu sih yang dipanggil. Katanya Janson gak usah ikut.. ini khusus untuk kau saja..” jawab aliza
“Ooh, ya udah.. Janson! Aku duluan ya.. jangan ngelamun terus lho..” Anaya lantas melangkah pergi kembali ke rumah besar milik Janson.
“Janson.. kau ngomongin apa sih sama Anaya? Kok lama?” Aliza sepertinya penasaran dengan pembicaraan mereka.
“Gak ngomongin apapun..”
“masa sih?”
“Iya..” Janson berseru kencang. Dia kesal kenapa selalu kedatangan Aliza di setiap momen mereka berdua.
....
Fariz memanggil Anaya ke ruangannya karena ada yang harus disampaikan mengenai hilangnya Marni, Mila, Dian dan tetangga samping rumahnya Anaya, yaitu bi Imah.
Anaya mendorong pintu ruang kerja milik Fariz lantas Fariz menyuruhnya duduk di sofa dekat meja kerjanya.
“anaya, sesuai penyelidikan pihak deviasi kota bansar ini yang sudah bekerja dalam kurun waktu 2 Minggu ini, saya akan menyampaikan beberapa berita buruk dan satu kabar baik.” Fariz memulai pembicaraan mereka.
“Berita buruknya adalah beberapa jam yang lalu mereka menemukan mayat yang mengambang di sungai danau hijau teluk timur, ada tiga orang yang mengambang di danaunya. Dan dikonfirmasikan bahwa mereka adalah Marni, Mila dan tetanggamu bi Imah.. mereka telah meninggal kehabisan nafas di kedalaman air, dan berita baiknya kami masih berusaha untuk mencari Dian. Hanya dia yang masih dikabarkan hilang dan kemungkinan hidupnya masih besar..” jelas Fariz pada Anaya.
Dia memegang koran yang berisikan 3 foto orang yang dikenal oleh Anaya. Dan tidak memperlihatkannya pada Anaya.
“.. paman.. boleh aku bertemu mereka untuk terakhir kalinya di ruang rumah sakit, aku hanya ingin melihatnya.. memastikan saja..” Anaya bergumam dan Fariz mendengar kalimatnya.
“boleh, galih akan mengantarmu kalau mau..” Balas Fariz.
Anaya bangkit dan tak lupa berterima kasih pada Fariz dan hendak melangkah keluar dari ruangannya.
Ruangan kantor miliknya tertutup rapat lagi.
“.. ini pasti ada sesuatu.. mengapa bi Marni, bi Imah dan Mila yang harus membayar atas apa yang kulakukan? Mengapa mahkluk itu mengincar aku sih !” Anaya terduduk di balkon lantai dua kamarnya. Dia bingung dengan apa yang sosok itu inginkan darinya..
“Ibu ayah, apa yang harus aku lakukan.. mang Umang, kak aditya.. bi Marni, Mila.. dan bi Imah, kenapa aku ini menebarkan kutukan ke mana mana? Apa selanjutnya adalah keluarga Janson.. ooh tidak tidak.. tidak boleh..” Anaya mendadak tertegun dia berada di sini sudah 2 Minggu, bagaimana kalau dia juga membawa bencana ke sini.. dan Janson akan terkena imbas dari kutukannya yang datang entah dari mana ini.
Tanpa berfikir panjang Anaya memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Hanya menggunakan bajunya yang pertama kali datang ke rumah ini dan dia akan pulang dengan sepeda pemberian ayahnya itu.. dia harus pergi tanpa ketahuan Janson.
Kalau sampai Janson tau Anaya pergi, dia pasti takkan membiarkan Anaya kembali ke rumahnya. Terlalu berbahaya disana. Dan Anaya berfikir sosok itu mungkin saja mengincar keluarga Janson.
Untuk menghindari hal buruk itu Anaya harus pergi dari sana.
Kemungkinan terbaiknya kembali ke rumahnya di kompleks anggrek.
.....
“mang saya minta tolong dong.. sepeda berwarna pink itu di garasi, tolong di keluarkan ya mang..” Kata Anaya.
“Ooh, iya iya.. akan saya keluarkan neng.. nengnya.mau pergi ya.. kemana..”
“pulang mang, tapi jangan bilang bilang ya kalau saya pulang..” bisik Anaya.
“lho, tapi neng.. bukannya neng masih tinggal beberapa bulan lagi.. kenapa buru buru begini?” Penjaga taman itu bertanya tanpa henti.
“Saya Cuma pulang sebentar terus ke sini lagi kok.. beneran..” Anaya mulai beralasan agar tidak ditanya tanya lagi.
Setelah meyakinkannya, Anaya langsung mengendarai sepedanya menuju ujung gerbang, seketika Satpam membukanya tanpa banyak tanya.
Anaya kini memasuki jalan raya dan pergi ke arah barat, dimana kompleks mawar dan jalan keluarnya ada di sana. Dan melanjutkan perjalanan setelahnya dengan peta yang diperolehnya dari lembar dengan umum yang ia dapatkan di brosur pariwisata. Salah satu kertas yang menganggur di rumah Janson.
Dari jarak yang sudah cukup jauh Anaya berhenti sejenak lantas menatap rumah Janson dari kejauhan, mungkin puluhan meter.
“Aku pulang dulu ya Janson, TRIMAKASIH atas bantuanmu.. aku sekarang akan pulang. Dan sebelum pulang aku akan beli bahan makanan untuk di rumah.. aku sudah tau beberapa hal untuk merawat rumah itu sendirian Sekarang. Bi Ina membantuku banyak, dan aku sempat belajar memasak darinya.. walau hanya telur kocok dan mie instan saja.. tapi itu cukup berguna ku rasa..” Anaya bergumam lantas kembali mengayuh sepedanya. Melewati rute yang sama saat dia mengantarkan Janson pulang ke rumahnya.
Ini adalah perpisahan yang akan membuat Janson marah, mungkin juga Janson membenci Anaya...
Namun setelah 1 jam mengayuh, Anaya yang kelelahan memutuskan berhenti di tepi jalan. Kompleks Anggrek ada di depannya. 20 meter lagi.
Anaya berhenti di sebuah warung nasi tepi jalan. Dan memarkir sepeda miliknya.
“Bu, saya mau beli minumannya. Teh dingin..” Anaya duduk di pintu masuk warung nasi.
“Ooh iya dek bentar..”
Tak lama kemudian si penjual mengulurkan teh dingin pesanan Anaya, dan Anaya yang haus langsung meminumnya tanpa basa basi.
“dek, kalo boleh tau dari mana ya dek, mau kemana?” Tanya si penjual.
“Saya dari kompleks mawar, mau ke kompleks Anggrek Bu..”
“Ketemu temen ya?”
“Bukan Bu saya mau pulang, tadi habis main ke rumah temen..”
“Ooh begitu..”
“Ya sudah ini uangnya, aku mau lanjut ya buk
Permisi..”
“Iya dek, hati hati..”
Anaya melanjutkan lagi mengayuh sepeda berwarna pinknya.
Akhirnya setelah itu Anaya sampai di depan gerbang rumahnya yang ia rindukan. Dia Minggu rumah itu tak terurus.. dedaunan kering sejauh mata memandang. Dan pintunya masih terkunci. Kunci rumahnya sudah ia bawa di jaket coklat miliknya.
Hari kini siang, Anaya bergegas masuk dan berganti bajunya.
Memarkirkan lagi sepedanya yang berharga di garasi rumah melewati pintu garasi di sebelah kanan.
“Aku sepertinya harus membersihkan rumah lagi deh.. sangat kotor.. berbeda dengan rumah Janson yang terawat.”
Sejak kejadian malam mati lampu itu, kekacauan yang dibuat Wayana malam itu hanya separuh yang dibersihkan. Sisanya di lantai 2 dan atap masih berantakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
bersambung..