
Anaya, Jian, Janson, dan Ratu Shi ya melangkah bersama-sama di lorong menuju ruang tengah istana. Ratu Shi ya menepuk tangannya sebanyak 2 kali pintu ruangan tersebut segera terbuka lebar Shi ya kembali melangkah memasuki ruangan dan menyuruh Anaya, Jian, dan Janson duduk.
Janson langsung duduk mantap, Anaya juga ikut duduk. Sedangkan Jian masih berdiri di antara mereka berdua.
" Anaya sebelumnya aku ingin berterima kasih padamu," Jian memulai percakapan sebelum Ratu sempat berbicara. Ratu memang membiarkan mereka bercakap-cakap dulu sebentar agar Anaya mengerti apa yang terjadi pada dirinya saat itu.
"Berterima kasih, buat apa Nona Yu Jian Aku tidak tahu kenapa Nona Jian berterimakasih?" Anaya yang bingung mendengar ucapannya.
" kau lupakan aku di malam itu, Anaya Aku adalah sosok ular putih raksasa yang kau impikan. Apa kau melupakannya?" Tanya Yu Jian kepada Anaya.
"Apa? Tunggu dulu ini tidak mungkin. Aku hanya memimpikanmu Yu Jian! Bagaimana mungkin aku pernah kesini, dan soal lipan raksasa tadi itu pasti keliru, mungkin yang menyerangnya bukan aku!" Anaya menggeleng pelan, ia sangat tidak percaya dengan Fakta tersebut.
"Anaya, Aku akan menjelaskan satu hal yang lebih tidak mungkin padamu sekarang! Kenapa kau bisa masuk begitu saja ke dunia siluman?" Yu Jian memberikan garis besar yang sangat tidak masuk akal dibanding ungkapan Anaya.
"Aku tidak tau." Anaya menyerah ia terduduk di sofa empuk.
"Kau tau, siluman saja tidak bisa keluar masuk begitu saja seenaknya, apalagi hanya manusia biasa. Itu mustahil Anaya. Dunia siluman lebih ketat penjagaannya dibanding dunia kalian. Kalaupun ada yang memasuki dunia siluman paling hanya sampai perbatasan saja, tidak lebih dari pada itu. Manusia biasa tidak akan tahan disini lebih lama. Aku punya sesuatu untukmu, tunggu sebentar!" Yu Jian memotong penjelasan dan mulai merogoh saku dalam bajunya.
Anaya melihat dengan seksama apa yang akan Yu Jian keluarkan dari saku bajunya, Janson yang tadinya tidak peduli ikut melihatnya.
" ini dia, benda yang pernah berada di dunia manusia, sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Dan Anaya kau membawa benda ini di lengan mu. Saat kau pergi hari itu, kau meninggalkannya di dadaku." ucap Yu Jian kepada Anaya.
" Yu Jian apakah kau benar-benar menemukannya pada lengan Anaya.?" Tanya Ratu kepadanya.
" Iya aku memang menemukannya, makanya aku heran sekali kenapa ini bisa ada di lengan manusia! Jadi aku menyimpulkan sesuatu bahwa Anaya bukan manusia." Ucapan Yu Jian membuat Ratu menghela nafas perlahan. Jadi itu maksudnya Yu Jian menuduh Anaya bukan manusia.
" Iya itu memang benar, Anaya bukan siluman!" kali ini yang berseru bukanlah Yu Jian melainkan Janson.
" Bisa-bisanya wanita cantik ini menuduh kekasihku sembarangan!" Janson perkataan lirik saat mengatakan 'kekasihku' di depan Ketiga orang itu termasuk Anaya.
" PF PF PF! Kekasih? Naifnya anak ini!" Shi ya menertawakan Janson yang bertingkah polos.
" Tidak maksudku sahabat dekat! Sahabat dekat sekali!" Sergah Janson.
" Sudah cukup. Ratu bisakah kau mengantar kami pulang?" Kali ini Anaya yang bersuara memotong godaan Shi ya kepada Janson.
...*****...
Meskipun Anaya tidak terbukti merupakan siluman, tetap saja mereka berdua tidak bisa keluar dari dunia siluman begitu mudahnya. Mereka berdua harus menunggu sekitar 1 minggu lagi, karena biasanya satu minggu sekali jalan antara dunia siluman dan dunia manusia terbuka.
" Janson Apa yang akan kita lakukan di sini selama seminggu? Ayahmu Pasti sangat mencemaskan mu bukan! Berbeda denganku, kau harus segera pulang." Di antara taman yang indah bunga-bunga yang bermekaran, dan kupu-kupu berlalu-lalang juga duduk di bawah pepohonan rindang. Anaya sedang cemas memikirkan hal tersebut.
" Tak perlu cemas Anaya. Seminggu itu cuma waktu yang singkat bagiku jangan khawatir ya." Janson berkata pelan.
" Aku tidak habis pikir Kenapa wanita berbaju hijau itu menuduhmu?" Percakapan mereka terhenti karena pertanyaan Janson.
" Entahlah aku tidak tahu Janson."