TO THE DEAD

TO THE DEAD
Ciuman pertama



Quen memberi isyarat kepada yang lainnya agar beranjak pergi dari ruang tengah, Dian, Heng dan Rey mengangguk angguk mendengarkan isyarat tersebut.


Keempat orang tersebut beranjak pergi, membiarkan Anaya dan Janson berduaan di ruang tengah.


"Apa yang barusan kau katakan Janson?" Anaya melontarkan pertanyaan pertama setelah suasana hening dan sepi.


Janson bangkit dari duduknya dan menggenggam lengan Anaya dengan kedua tangannya.


"Anaya, simpan pertanyaanmu dan ikuti aku.." Janson menjawab.


Anaya yang tadi menundukan kepalanya sekarang mendongak menatap Janson.


Dilihatnya Janson tersenyum, senyum yang dipaksakan.


*****


Keduanya keluar dari rumah dan melangkah di sekitar pedesaan yang terlihat lengngang, jalan setapak berbatu terlihat sepanjang perjalanan. Janson bahkan memasangkan alas kaki untuk Anaya sebelum mereka pergi berdua.


Janson terus menggenggam tangan Anaya, Gadis itu tidak keberatan.


Dari jalan itu berbelok ke arah kanan Janson, berubah menjadi jalan menuju tepi danau di sekitar pedesaan.


Burung burung berkicau di antara pepohonan, seekor tupai tampak membawa biji kenari untuk memecahkannya. Capung capung berukuran cukup besar terkadang hinggap di atas kepala.


"Wahh... Banyak sekali capung warna warninya.."


Janson menoleh menatap senyum Anaya di sepanjang langkah kaki mereka.


Setelah memalui jalan yang cukup panjang keduanya tiba di tepi danau dengan tempat duduk kayu di bawah pohon.


"Anaya kita duduk di sini yuk!" Janson menawarkan.


"Iya." Anaya menjawab singkat.


Janson berkutat pada samping kirinya, ada tali yang mengikat sesuatu dari atas pohon.


Janson melepaskan ikatan talinya. Seketika.


Whuuusss..


Beterbangan bunga bunga dari atas pohon, kelopak kelopak bunga itu beterbangan di sekitar mereka berdua.


"Anaya, jadilah pacarku.." Kalimat Janson keluar bersamaan dengan kelopak bunga yang terhempas.


"Janson, Apa kau tau bahwa aku setengah siluman?" Anaya justru bertanya pada Janson.


Suasana romantis itu terputus seketika oleh pertanyaan Anaya.


"Kau, setengah siluman!? Sejak kapan? Aku tidak pernah melihatmu berubah.. Mungkin kau cuma mimpi Anaya." Janson berseru balik bertanya.


Anaya menggeleng. "Ini bukan mimpi, ini kenyataan. Kemarin setelah pingsan melawan hewan di tepi sungai cabang 4, aku berubah. Kulitku, kulitku tidak lagi seperti ini. Kulitku berwarna hitam, dan lagi aku bisa terbang juga mengeluarkan bola bola api.. Aku aneh bukan?" Anaya berujar.


"Anaya, aku tak peduli seaneh apapun dirimu.. Aku tetap mencintai dirimu. Kejadian kemarin sangat membuatku sakit, melihat kau yang terluka itu sangat menyakitkan-" Janson berkata sambil menggenggam erat tangan Anaya.


Tangan Janson terulur memegang pipi Anaya, Janson membuat pandangan Anaya terarah lurus menatap matanya - sembari kelopak bunga masih bertebaran di mana mana.


"Tolong jangan seperti yang kemarin, kau bisa manfaatkan kekuatan itu untuk melindungimu. Tapi jangan terluka.. Kumohon.." Mata Janson berkaca kaca, demikian pula mata Anaya yang menatapnya.


Anaya mengangguk pelan memberikan jawaban, Janson tambah mendekati Anaya.


Kini jarak keduanya tidak lebih dari 10 senti saja. Mata mereka masih saling bertatapan. Air mata siap keluar dari mata mereka namun batal karena suasana kembali romantis.


Tangan Janson yang memegang pipi Anaya masih tertahan di sana, wajah Janson yang sekarang tambah mendekati wajah Anaya. Jantung Anaya berdebar debar kencang seperti hendak meletus.


Wajah Janson berhenti ketika jarak antar wajah mereka hanya 2 senti.


"Bolehkah?" Janson bertanya terlebih dahulu.


"Hm.. I- iya.." Anaya menjawab.


...................


...................


Kelopak bunga kembali turun, menghalangi pandangan mata. Dari jarak yang cukup jauh, Heng, Quen, Dian dan Rey mengintip suasana. Wajah mereka merona menyaksikan apa yang terjadi di tepi danau.


"Janson dan Anaya telah dewasa ya, umur mereka memang masih Anak - Anak, tapi tingkah mereka seperti Remaja yang sedang dimabuk cinta." Heng berujar pelan.


"Owh.. Itu So Swit.." Ujar Dian menahan suara kegembiraan melihat Janson dan Anaya.


"Dasar!" Rey bergumam, menggeleng gelengkan kepala.


"Hei, kenapa kita ber-empat jadi mengintip mereka yang sedang pacaran, ayo menyingkir! Lupakan kejadian tabrak wajah tadi..!!" Quen berseru mendorong ketiga orang tersebut agar menjauh.


..................


..................


Bibir Janson kembali menjauh, Anaya menutup matanya ketika Jarak mereka 0 senti.


Bibir keduanya sama sama basah, Janson dan Anaya berusaha menghirup nafasnya banyak - banyak setelah 10 menit hanya berbagi nafas.


Anaya memeluk Janson usai kejadian tadi.


"Kau kenapa Anaya?" Janson tersenyum.


"Aku malu.." Pipi Anaya sempurna merah, demikian juga pipi Janson.


Tangan Janson mengelus pundak Anaya. "Tidak apa apa."


"Apa kau menginginkan lagi?" Janson menawarkan.


"Hahaha,.. Usiaku genap 13 tahun Anaya. Dan usiamu juga genap 10 tahun hari ini.. Kita tidak termasuk Anak - Anak lagi, kita akan beranjak remaja dan nanti ke usia dewasa.. Aku tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan, dan aku tidak tau kabar di rumah. Ayahku pasti tengah menangis atau lebih buruk lagi.." Janson bergumam dengan nada lirih.


"Mereka pasti lebih dari cemas Janson.. Dan sekarang, aku tidak tau harus tinggal di mana.. Rumahku sudah hangus terbakar, mungkin aku akan tinggal bersama Kakek heng." Anaya berujar kembali.


"Tidak! Tidak! Kau jangan tinggal di sini, nanti kalau aku kangen bagaimana.. Kau tinggal saja di rumahku Anaya." Janson menggeleng.


"Aku tidak bisa terus menerus bergantung pada keluargamu Janson.. Aku harus tinggal sendiri, dan berhenti merepotkanmu dan keluargamu." Anaya menjawab.


Janson terdiam mendengar ungkapan Anaya, 'Benar apa yang Anaya katakan. Lantas ini bagaimana ya?' Janson berkutat di batinnya.


"Anaya.." Janson berujar di sela sela keheningan.


"Ya." Anaya menjawab, sembari terus bersandar di dada bidang Janson.


Tanpa kalimat lain Janson kembali mendekatkan wajahnya di depan Anaya. Anaya yang panik dengan gerakan Janson yang tiba tiba mendadak bangkit duduk.


Duk!!


"Aduh.." Dagu Janson bertabrakan dengan kepala Anaya.


Janson memegang dagunya yang terasa nyeri.


"Apa, apakah itu sakit?" Anaya bertanya, mendekat kepada Janson. Janson menjawab dengan anggukan.


"Coba ku lihat." Anaya menyingkirkan tangan Janson yang menutupi dagunya.


Memang terlihat sedikit merah.


"Maaf,"


Cup..


Janson langsung mengulum bibir Anaya yang masih basah. Anaya terkejut dengan tingkah Janson. Maka ia refleks mendorong dada Janson.


Berakhir sentuhan di bibirnya.


"Kau ini! Sejak kapan berperilaku mesum!!" Anaya kesal dengan tingkah Janson.


"Eh, bukannya kita berpacaran ya?" Janson berseru.


"Aku belum bilang Iya.. Kenapa kau nyosor begitu.." Anaya melanjutkan kekesalannya.


Sekarang drama romantis berubah jadi Event debat antara Anaya dan Janson.


"Kau tadi setuju di awal.."


"Tapi bukan berarti aku menjawab iya!"


Sekarang ini danau indah di ujung desa dipenuhi suara debat antara Anaya dan Janson.


Tidak bisa dibilang romantis. Malah seperti debat Capres setiap 5 tahun sekali.


*****


Nah sekarang Thor pingin tanya sama para pembaca nih, kalian milih mana..


Antara Capres Janson..


Atau Capres Anaya..


Ayo dipilih.


"Hai pembaca setia di Noveltoon, saya Anaya, berjanji akan memimpin novel ini menjadi lebih baik, akan mengalahkan musuh lebih banyak dan akan memeriahkan setiap kata di Noveltoon ini, Asalkan kalian menulis (Saya dukung Anaya) Di kolom komentar. Ok!" Anaya bersuara di atas panggung yang telah didirikan Author sejak lama.


Panggung dadakan tepatnya.


Anaya terdorong oleh Janson yang tengah membawa peralatan dari kopernya.


"Minggir! Minggir!" Janson membawa meja juga ke atas panggung.


"Kau membawa apa Janson? Bukankah ini acara mensejahterakan novel ya, bukan acara lawak talk show." Anaya berseru heran.


"Aku tau, tentu aku akan membagikan sesuatu yang istimewa, aku membawa ini.."


Janson membawa topi sulap lengkap dengan tongkatnya.


"Sim salabim... Abra kadabra..." Seluruh undangan menyebar ke segala arah.


"Kau membagikan apa Janson?" Anaya bertanya.


"Itu undangan makan gratis, kalau pembaca mendukungku aku akan mengundang mereka makan di acaraku besok, banyak makanan, hadiah, ada mall juga yang ku bawa, ada kapal laut, kapal selam, bioskop dan lain lainnya besok di rumahku.. AAAAAAA..."


BLAR!!! BLAR!!!! BLAR!!!


Bola bola api terarah padanya.


Anaya telah menghujani Janson dengan bola bola api miliknya.


"Yah kacau ya situasinya, wk wk.." (Author)


Anaya terlihat akan membakar Janson, sementara Janson terus menghindar.


Itu juga yang terjadi di tepi danau, oh tidak tentu ini bagian lelucon.


.....


Bersambung...