
Janson masih menatap Anaya yang tertawa lepas, berbeda sengan saat ia ada di bawah pohon malam itu. Wajahnya terlihat sendu sedih. Janson tau betapa banyaknya masalah yang Gadis kecil itu alami, di usianya yang harusnya bermain dan bahagia ia justru terjerat masalah dengan dunia gaib. Entah itu kebenaran yang terkubur atau hal lainnya, tentu saja itu kejam baginya.
Janson juga pernah diterjang masalah serius, namun tidak separah Anaya. 'Pasti rasanya sesak ya Anaya menghadapi semua masalah itu, belum lagi semua yang kau miliki hilang dalam sekejap. Hal ini seperti mimpi saja-'
Puk!!
"Hei, Janson kau kenapa?" Dian menepuk pundak Janson dari samping, menyadarkan lamunan Janson.
Dian menatap heran ke arah Janson yang masih mematung menatap Dian, Janson menggeleng pelan ia tidak ingin bercerita secara terang terangan. Tanpa dicegah Janson menuju ke arah Anaya yang tengah berbincang dengan Heng dan Quen.
Suara tawa ceria terdengar dari tempat dian berdiri di bingkai pintu belakang rumah Heng, tangannya bersedap sambil menatap obrolan yang ceria di depannya.
Ada banyak hal yang mereka bicarakan, tawaan terdengar dan terdengar alami, mungkin perasaan mereka lega dan beban seolah lepas dari pundak mereka.
Tapi meskipun begitu, Dian masih saja belum percaya kalau ia kehilangan keluarganya begitu cepat. Ia masih ingat saat Bibinya dipenuhi air mata penyesalan saat sedang dijemput ajal, Bibinya yang selama ini menyembunyikan identitas Dian sebagai anak angkat demi melindunginya dari cercaan orang, karena Ibunya memilih melindungi dirinya sendiri dibanding merawatnya, perasaan Dian saat itu campur aduk. Informasi terakhir adalah saat Bibinya bilang ibunya telah meninggal dan dimakamkan di pedesaan mereka, membuat dian tampak kesal dan ia tidak akan berkunjung ke makam Ibunya. Saat ini Dian membenci Ibunya.
Dadanya sesak ketika ia mengingat Bibinya yang sudah menyelamatkan dirinya saat siluman Mayana menyerangnya dengan senjata, senjata itu menembus daging dan mengoyak tulang Bi Marni, sampai tembus perutnya dan langsung bersimbah darah.
"Aaahh sudahlah,.. Aku tak perlu.. mengingatnya lagi-" Air mata berlinang beberapa dari matanya.
Dian berbalik dan kembali ke dalam rumah heng, ia berlari secepatnya dan Rey berpapasan dengannya.
"Ada apa dengan anak itu?" Rey telah selesai mandi di sungai, badannya telah bersih dari lumpur dan ia menuju halaman belakang untuk menemui teman temannya.
"Wahh kalian ini tertawa terbahak bahak ya? Memperbincangkan hal apa sampai tawa kalian terdengar dari depan?" Rey bergabung dengan mereka yang sedang duduk di kandang kuda bersama.
"Ooh ada Rey, gimana apa lumpurnya sudah hilang semua?" Tanya Heng.
"Hah, Nenek Rey kena lumpur, Bagaimana bisa?" Anaya terkejut dengan ucapan Heng.
"Bukan kena lagi Anaya, tapi Rey tertutupi lumpur di sekujur tubuhnya, dan yang menyebabkan semuanya ya kuda pemberian wanita siluman itu Anaya, Terpaksa Rey harus berenang sambil. membersihkan semua lumputnya. Benarkan Rey?" Heng menjelaskan sambil meminum setengah gelas teh pahitnya.
Tanpa banyak bicara Rey mengangguk.
"Ini semua salah Rey, dia menggosok paha kuda coklat itu tidak lihat lihat, akibanya kuda kuda itu kesal dan melemparkan kami." Quen menjelaskan.
'Ada yang aneh pada Quen, sejak ia bertemu Anaya, tidak tidak! Sejak aku bertemu dengannya pertama kali di hutan itu juga Aneh, ia merupakan Manusia yang berani melawan Siluman dari kerajaan itu, selain itu juga ia tidak terlalu terbuka pada kami, cenderung penyendiri, ia suka menghilang sewaktu waktu dan masih banyak lagi hal yang tidak aku dan Rey ketahui tentang Quen. Apa yang Rey bilang benar, saat Quen tidak ada selalu saja ketenangan menghampiri desa, tapi saat Quen ada selalu saja ada masalah di desa, itu selalu terjadi berulang ulang kali. Apakah Quen menyembunyikan sesuatu dari Aku dan Rey?' Heng masih menatap Quen yang saat ini tengah bungkam setelah menjelaskan tentang kuda kuda pemberian wanita siluman itu.' Heng menatap Quen yang sedari tadi hanya menatap kuda kuda itu.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Heng bertanya basa basi.
Quen menggeleng menatap sekilas ke arah temannya lalu fokus menatap kuda kuda lagi. "Quen, kita sebaiknya-"
"Bawa Anak Anak itu pulang! Heng, aku meminta bantuanmu tentang hal ini, terlalu berbahaya bagi mereka untuk tetap di sini. Bawa mereka sore ini juga. Aku akan tetap disini." Quen mengucapkan kalimat itu lebih dulu, membuat Heng tertegun sejenak menatapnya tak berkedip.
'Bagaimana caranya Quen mengetahui tentang rencana ku, yang bahkan belum ku ucapkan.! '
Heng terus menatap heran. 'Aku sudah menyampaikan rencanamu kuda pangeran! Sekarang Anaya akan baik baik saja di kota dibanding tinggal bersama siluman. Aku akan mengawasi dari kejauhan. ' Quen barusan mendengar suara dari kuda putih jantan, ia tiba tiba berseru pada Quen yang memang mengerti Isyarat dari hewan, Kuda putih Jantan itu dengan tegas berseru padanya. "Pergi!! Bawa Anaya pergi!! Sekarang!!" Begitu arti yang kuda itu berikan pada Quen, kuda itu terus terusan gelisah selama beberapa hari. Padahal suasana kuda lain tenang tenang saja.
Kuda ini pula yang mengamuk pagi tadi, dia terus menerus bilang "BAHAYA, BAWA PULANG, GAWAT!! " Terus melakukan tanda isyaratan tersebut.
Aealnya Quen tidak mengerti dan bingung, sekarang ia paham. Quen mengelus elus surainya untuk menenangkan.
Wanita tua itu beranjak masuk di dalam rumah Heng, kemudian mengunci diri di dalam kamar.
waktu terus bergulir hingga langit yang tadi biru cerah berganti kuning jingga, kini menjelang sore hari.
kuda kuda disiapkan oleh Heng, dan baju berkuda juga, ditambah Heng membekalkan senjata pada tiap tiap pakaian berkuda.
' Ini pasti perjalanan tidak mudah untuk menembus ke dalam hutan belantara, heng tidak mungkin membekalkan senjata jika hutannya tidak berbahaya. ' Benak Quen.
Anak anak telah berkumpul di ruang tengah untuk mendengarkan percakapan panduan singkat yang akan Heng sampaikan.
"Anaya, Janson dan Dian. Kalian akan kami antar pulang dengan menunggang kuda dan melalui hutan lebat. Tapi. sebelum itu kalian akan memakai pakaian dengan peralatan senjata tajam di bajunya. Senjata berguna saat kalian bertemu hal berbahaya dalam hutan mengerti?" Heng memandang mereka bertiga singkat.
ketiga anak anak itu mengangguk paham.
"Lalu, kalian akan menunggang kuda berdua Anaya dan janson. sedangkan dian akan dibawa bersamaku. Kalian akan ditemani oleh Rey dan Quen di sisi kiri dan kanan. Paham? " Heng bertanya lagi.
Anaya dan Janson mengangguk paham.