
Wanita berambut putih kebiru biruan itu menatap Anaya dengan senyum yang sangat menawan. Senyum itu mampu memikat siapapun yang ada di depannya, selain sentuhannya yang bisa membuat rasa tegang dan takut menghilang dalam sekejap.
Anaya terpukau menatap bibir Wanita tua itu, betapa kagumnya Gadis ini kepada Wanita lansia di depannya.
Perasaan tegang yang sedang melanda Anaya saat ini surut dan berubah menjadi perasaan kagum kepada sosok di depannya.
Perawakannya bagus walaupun sudah Wanita lansia, bola matanya masih tampak segar, tubuhnya berdiri tegap dan tidak nampak kerutan sedikitpun di wajahnya ataupun di kulitnya, hanya saja rambutnya putih bercampur biru.
Meskipun terlihat aneh bagi Anaya, rasa aneh itu lagi lagi tertutupi oleh perasaan kagumnya, ini seperti sugesti yang dikirim padanya melalui penglihatan atau sentuhan? Apakah niat Wanita ini padanya? Apakah ia berniat jahat seperti Wayana! Kalaupun itu memang benar maka Anaya harus meninggalkan tempat itu secepatnya, tapi ditilik dari raut wajah Wanita itu padanya yang antusias, Anaya rasa tidak ada hal yang perlu dicemaskan.
Dan kalaupun ia berniat jahat maka sudah sedari tadi Anaya terluka, dan mustahil musuh menenangkan lawannya terlebih dahulu bukan? Mungkin Anaya bisa mencari tau kenapa Wanita lansia ini menunjukan jati dirinya pada Anaya, mungkin ada penyebabnya. Entah apapun itu yang pasti Anaya harus mencari tau hal ini sendirian.
"Aku sebenarnya tidak mengikuti Anda, tapi mengikuti kunang kunang biru itu, Aku malah tersesat di sini!" Anaya menjelaskan secara singkat pada Wanita lansia cantik di depannya.
Senyum Wanita lansia itu tidak berubah, tetap pada tempatnya hanya saja Wanita lansia itu mengajak Anaya menjauh dari sungai empat arah tersebut. Mereka memasuki semak belukar dan meninggalkan tempat indah tersebut, danau indah itu juga punya beribu ribu kunang kunang berwarna hijau dan kuning berkumpul memakan makanannya di tepi sungai dengan banyaknya ilalang berwarna kekuningan.
"Kita akan kemana? Anda mengajakku ke mana?" Anaya menjajari langkahnya dengan Wanita lansia itu agar bisa bertanya sesuatu.
"Pertama tama terima penghormatanku Tuan Putri Qiunaya." Wanita lansia itu justru berbalik dan memberikan penghormatan pada Anaya. Ia merasa tidak nyaman diperlakukan begitu oleh orang asing.
'Kenapa Putri berubah?' Batin lansia tersebut.
"Anda jangan melakukan itu padaku, aku jadi tidak enak menyuruh orang seperti Anda." Anaya menyuruhnya untuk berdiri dari posisi seperti orang orang biasa tengah memberi hormat pada raja.
Tentu saja Anaya Bukanlah Putri kerajaan, silsilah keluarganya tidak seperti itu. Entah mengapa meskipun begitu Anaya memberikan hormat padanya juga, ia ikut menundukan dirinya.
Wanita tua itu sekarang melihat terus kearahnya, 'Dia memang Putri, carannya memberikan penghormatan ini adalah pertanda baik. Tapi sepertinya Putri telah lupa akan jati dirinya. Maka itu akan menjadi tugasku untuk membantu Tuan Putri dengan ingatan itu.'
"Maafkan hamba Tuan Putri Qiunaya, hamba harus mengingatkan anda tentang diri anda sekarang ini, maaf jika cara hamba ini salah." Entah apa yang sebenarnya Wanita lansia itu katakan, kalimatnya tidak bisa dicerna ataupun dimengerti oleh Anaya, justru itu membuat Anaya menjadi waspada terhadap orang di depannya.
"Aku tau sejak awal, anda memang ada niat tersembunyi kan!?" Anaya mencoba berteriak di tengah angin yang mulai menerpa secara tiba tiba ke arahnya, padahal tetumbuhan sekitar sama sekali tidak terkena angin itu, hanya Anaya yang kena.
"Hamba minta maaf Putri.. Ini adalah cara yang paling tepat dan mendesak, anda harus tau siapa sebenarnya anda.." Kalimat aneh itu lagi yang terlontar.
Angin kencang tersebut sekarang berhembus kencang sembari membawa ular ular hijau kecil yang berbisa kuat, seperti rintikan hujan yang deras. Hujan ular berwarna hijau turun di atas Anaya.
"Aaaa... Ular,.. Aaaa.. Apa yang kau lakukan! Ini sangat berbahaya apakah kau sudah tidak waras melakukan ini kepada manusia hah! Aku ini bukan anak raja, aku manusia!" Anaya berseru ketus kepada wanita lansia itu, hanya tawaan geli yang ia dengar.
"Putri Qiunaya manusia? Sejak kapan, Putri itu justru mempunyai darah siluman Putri, anda tidak perlu khawatir akan kematian, karena itu merupakan awal yang baru untuk setiap kaum istimewa seperti kita, kita tidak mengenal kata kematian melainkan kemusnahan. Itu yang selalu terjadi di dunia kita Putri." Jelas wanita di atas sana.
Anaya tetap menatapnya kesal, sekarang ular hijau itu menuju ke arahnya, Anaya menoleh ke sana ke mari, tidak ada jalan keluar keringat dingin mencekam di seluruh tubuhnya, rasa takut dan cemas menguasainya. Rasa ingin bertahan hidup untuk bisa bersama dengan orang yang terkasih, perasaan seperti itu bercampur menjadi satu.
Hujan ular itu selesai, sudah ada miliaran ular di sekeliling Anaya. Gadis itu tidak bisa melakukan apapun.
'Kita lihat sekarang..'
Detik pertama Anaya memejamkan matanya karena rasa takut dan pasrah, detik kedua miliaran ular hijau itu bersiap menyerang secara serempak ke arahnya, detik ke tiga mata Anaya terbuka menghentikan gerakan miliaran ular ular hijau itu secara spontan dengan sebuah ledakan api di berbagai arah, matanya berubah menjadi merah menyala seperti mata Wayana, Mayana dan Amelia.
Anaya masih dalam kesadarannya yang penuh, sekarang ia menatap heran ke segalah arah yang kini dipenuhi onggokan hitam di radius beberapa meter di sekitarnya.
"Apa yang terjadi di sini," Anaya berdiri patah patah dan mencoba menjauh dari area sana.
"Itu sangat luar biasa Putri, lihat mata anda akhirnya kembali seperti sedia kala.." Wanita lansia itu turun dari ketinggian dan memegang sebuah cermin di salah satu tangannya.
Anaya menatap heran, tetap tidak mengerti dan memutuskan untuk melihatnya sendiri ke depan cermin.
"A.. Apa yang terjadi pada mataku!" Anaya tidak percaya apa yang ia lihat sekarang ini.
"Anda bukan bagian dari manusia Putri, anda keturunan kerajaan entah kerajaan di wilayah Kota Bansar atau justru Kota Soro sana. Karena cerita di sana juga mirip seperti misteri di Kota Bansar. Para panglima siluman mencoba menemukan pewaris yang masih misterius setelah menghilangnya Putra Mahkota mereka. Dan itu semua menjadi pematik ketika salah satu panglima tewas oleh pukulan maut yang terlontar di hutan KIONH wilayah timur Kota Bansar, muncul tiba tiba anak manusia misterius berparas cantik dengan lengan yang hitam di sana, ia memakai gelang perak di salah satu lengannya. Putri Shi ya yang menyimpulkan semua itu, karena benda itu mustahil dimiliki oleh bangsa manusia biasa Putri," Wanita itu menjelaskan secara terperinci pada Anaya.
Anaya terdiam lalu berkata. "Aku sungguh tidak tau, kenapa ini semua terjadi padaku. Sejak aku berurusan dengan salah satu dari kalian saja hidupku yang bahagia bersama keluargaku berubah menjadi mimpi buruk, semua yang terjadi pada Ayah dan Ibuku, tetanggaku, pembantuku, dan juga mereka yang ada disekelilingku, termasuk orang yang aku sayangi ikut terseret dalam pusaran masalahku ini. Kenapa kalian datang padaku secara tiba tiba, KENAPA!! AKU TIDAK BUTUH KALIAN HADIR DALAM HIDUPKU! SUNGGUH TIDAK BUTUH!!" Mata Anaya yang merah kini semakin terlihat merah membara, Wanita lansia itu tertegun.
Kondisi Anaya saat ini tidak bagus untuk dilihat, karena ia berwujud mengerikan, tangannya yang tadi normal mulai terlihat berwarna kehitaman, dari kulitnya mengeluarkan api yang membara, Anaya siap maju kedepan untuk menyerang Wanita lansia di depannya.