
Anaya saat ini sedang terlelap dalam tidur, setelah ia membaca 20 lembar isi buku yang menceritakan pertemuan Fariz dengan sosok siluman hitam yang menguasai kota Bansar selama ini, dan hampir menghancurkan seluruh kota.
Kehadirannya datang secara tiba tiba serta misterius, bagaimana mungkin kota yang aman damai dan tentram ini kedatangan makhluk yang sangat tidak disangka sangka, tidak diduga oleh siapapun.
Siluman yang hanya mempunyai satu tujuan yaitu menghancurkan kota saja, tapi setelah Siluman itu dipukul mundur oleh hal yang misterius pula entah dari mana, tiba tiba semuanya kembali tenang seperti semula, seakan akan tidak pernah terjadi apa apa.
Semua kekacawan yang ada dianggap sebagai bencana alam yang mengerikan.
Dan itu semua sudah dikabarkan di berbagai televisi sebagai berita, sudah dicatat di berita koran ataupun majalah, bahkan ada beberapa penulis yang menuliskan isi inti dari seluruh kejadian di Kota Bansar.
Penulis itu bernama Linda, ia menuliskan buku berjudul " Ada Apa dengan Kota Bansar?" Buku tersebut laris dipasaran, saat itu usia si penulis sangat muda. Ia berusia 22 Tahun. ia sudah menjadi seorang penulis muda berbakat di kota seberang.
...ΩΩΩΩΩ...
Waktu terus berlalu lagi. siang hari kini sudah berganti ke sore hari yang kini langitnya berwarna emas bercampur jingga terlihat di atas, hingga membuat awan awan putih ikut berwarna kemerah merahan.
Setelah tau asal muasal Siluman yang bernama Wayana yang entah berasal dari mana Anaya tertidur dengan buku yang masih terbuka lebar di sampingnya.
"Anak ini tidak membacanya sampai akhir rupanya, hanya sampai kota Bansar yang selamat dari kehancuran. Nanti ku simpan dulu lah bukunya, dia pasti kelelahan bukan? Anak seusianya yang harusnya bersekolah dengan rasa senang mengapa harus menghadapi siluman seperti Wayana? Sebenarnya apa alasannya!" Fariz berguman diantara Janson dan Anaya yang tertidur di ruangan Kakek Burhan.
Bi Ina masuk membawa beberapa selimut untuk keduanya. Karena mereka tidur di sofa.
"Ina, bangunkan mereka suruh tidur di kamar masing masing." Fariz berseru tegas, Bi ina menoleh dan mengangguk tanpa banyak tanya.
Ketegasannya bukan timbul begitu saja, pasti ada alasannya. Fariz menghentikan langkahnya.
"Oh iya, Ina buat anaya melupakan sisa isi bukunya barusan ya. Ia hanya boleh membacanya sampai situ. Selebihnya bukan sesuatu yang penting apalagi kisah Gadis yang muncul dan kematian teman Ayahku, suruh dia berhenti membacanya mulai besok."
"Baik tuan."
Fariz menuruni anak tangga ingin menuju ruang kerja putra pertamanya Galih.
"Galih, nak apa kau di dalam?" Fariz mengetuk pintu dengan cukup kencang dan beruntun.
"Iya ayah, aku masih bekerja merapikan dokumen pak Hans kenapa?" Galih menjawab, "Masuk saja Ayah, karena pintunya tidak dikunci." Galih berseru.
Fariz membuka pintu dengan menekan gagang pintunya.
Fariz sempurna telah mendorong pintu tersebut dan memasuki ruangan Galih, Galih sendiri tengah sibuk berkutat dengan laptopnya bekerja merapikan dokumen penting.
"Ayah Pak Hans dari perusahaan yang mengelola obat herbal ingin menjual beberapa sahamnya pada perusahaan kita yang memang membutuhkan saham tinggi dalam waktu dekat, apakah ayah menyetujuinya?" Galih mengalihkan pembicaraan sambil beristirahat di kursinya bersandar nyaman.
"Ayah rasa itu bukan ide yang bagus karena saham Pak Hans yang kita jual beberapa tahun lalu saja sangat membuat kekacauan dan merugikan, ayah tidak percaya padanya. Terlebih lagi sejak kita berurusan dengannya banyak pembeli saham yang komplain terhadap produk yang kita jual itu, saat ini pemasok obat obatan herbal yang didistribusikan oleh perusahaan Pak Hans sedang diselidiki karena mulai ada laporan laporan serius mengenai efek samping obat obatan herbal yang dia produksi, Ayah sudah menyuruh salah satu karyawan Ayah untuk membawanya ke Laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut." Fariz menjelaskan secara terperinci.
"Hanya dilihat sekilas saja Ayah tau dia itu orang yang lebih licik dari yang lain, dia misterius. Terlepas dari apa yang dialami perusahaan kita perusahaan lain juga pernah dibuat seperti ini olehnya, anehnya dia masih tetap dibiarkan berkeliaran bebas, karna Pak Hans tidak pernah terbukti menjadi Distributornya." Fariz mendekat pada Galih dan mengambil alih laptopnya sebentar untuk membuka beberapa dokumen terkait dengan kejadian itu.
Tangan Fariz mengetik nama nama file dan membukanya satu per satu, dari layar monitor laptop langsung terlihat surat surat keterangan tentang laporan dan beberapa kasus penuntutan yang pernah tercatat di dokumen pengadilan kota, dan semua kasus yang dilayangkan pada perusahaan yang dikelola Hans selalu gagal atau ditutup, dikarenakan hanya berupa tuduhan dan kekurangan bukti untuk menjebloskan Hans dalam jeruji besi.
Tidak hanya dokumen saja yang ada di sana, semua vidio pengadilan serta vidio bukti juga tertera di layar monitor laptop, dari beberapa vidio yang ada disana, ada satu vidio pendek yang tidak berkaitan dengan bisnis, Hans dituntut telah menyakiti salah satu keluarga Hermawan.
Bukan hanya dituntut dengan itu, Hermawan memberikan kesaksian bahwa Hans pernah mencoba membunuh putrinya dengan menenggelamkannya di salah aatu danau wilayah timur.
Si penuntut Hermawan memiliki bukti yang cukup untuk bisa menyeretnya ke balik jeruji besi, tapi sang penuntut hanya meminta uang denda saja pada Hans, mengakibatkan ia gagal masuk penjara.
Kasus itupun ditutup dan keluarga mereka pindah ke kota bansar, kebetulan kasus itu ada di daerah kota bernama kota soro.
Galih menatap laporan yang ditunjukkan Ayahnya padanya, ekspresi Fariz seolah mempertanyakan siapa yang menjadi korban dari Hans tersebut, karena pada laporan itu tidak tercantumkan nama anaknya selain hanya tanda berupa Xin saja.
"Apa mungkin Anaknya bernama Xin Ayah?" Galih bertanya.
"Hm, mungkin saja itu benar tapi anaknya sama sekali tidak terlihat di pengadilan saat itu, apa kau memperhatikan vidio pada saat pengadilan itu berlangsung, di kursi korban hanya ada kursi kosong bukan. Padahal beberapa orang melihatnya ada yang duduk di kursi korban." Jelas Fariz
"Apa mungkin keluarga itu mempunyai anak siluman?" Tanya Galih.
"Mungkin saja, tapi setelah sekian tahun berlalu ada satu laporan kecil mengenai keluarga Hermawan ini. Setelah dua puluh tahun tidak terlihat di kawasan kota bansar mereka tiba tiba kembali. Dan ini laporan kecilnya beberapa tahun lalu."
"Dilaporkan penuntutan terhadap perusahaan PT Xxi yang menyebabkan anak dari Hermawan Purwa mengalami keracunan akibant makanan yang dubuat oleh PT tersebut, seorang anak kecil berumur 5 Tahun yakni putri dari Hermawan Purwa menjadi korban keracunan makanan." Isi surat itu.
"Dia anak keduanya, kenapa terlihat sangat normal dibandingkan kakaknya?" Galih menceletuk.
"Yang membuat Ayah tambah penasaran adalah, mengapa nama Gadis itu berinisial A, sama halnya dengan tuntutan sebelumnya, Hermawan Purwa lagi lagi menyembunyikan identitas Anaknya dari media. Tapi untungnya Ayah lega dia tidak membuat Foto putrinya di blurr. Ini Foto Anaknya.. Sepertinya.. "
Fariz terdiam beberapa saat ketika ua memperhatikan potret Gadis yang ada di foto tersebut, Galih tidak ikut melongok menengoknya jadi ia menunggu giliran.
"Galih, coba kau lihat apakah kau akan berpendapat sama dengan Ayah."
"Kenapa? "
Setelah melihat potret tersebut semuanya terdiam sambil terus berfikir.
"Sepertinya keluarga Hermawan Purwa memiliki konflik mendalam dengan Pak Hans dibanding perusahaan Ayah." Fariz melangkah dan duduk di sofa seberang, ia lelah memikirkan apa yang sedang terjadi selama ini.
Dibalik seluruh masalah Gadis itu ia juga ingin menemukan kembali cinta lamanya, Ruth.