TO THE DEAD

TO THE DEAD
Bertemu Shi ya



Tak dikira kedua Prajurit itu kewalahan menggendong Anaya dan Janson apalagi mereka harus melewati 700 tangga ke atas Tak terbayangkan penderitaan kedua prajurit ini.


Keringat terus bercucuran di dahi, pelipis, dan juga leher mereka. Baju keputih-putihan mereka kini juga sudah basah karena keringat yang terus keluar dari pori-pori kulit mereka. walaupun sebenarnya mereka itu siluman yang tangguh! Tapi tetap saja untuk anak biasa Anaya dan Janson terlalu berat.


Nafas yang terus menerus keluar masuk tapi belum teratur, kedua Prajurit itu ngos-ngosan menarik nafas panjang membuangnya perlahan, menarik nafas panjang membuangnya perlahan. Itu dilakukan berkali-kali oleh mereka. Keduanya bahkan hampir jatuh sempoyongan pingsan karena menggendong Anaya dan Janson yang seberat 100 kg. seberat itukah mereka berdua?


Tidak kuat lagi mereka berjalan akhirnya kedua Prajurit itu pingsan di tempat. membiarkan Anaya dan Janson yang ada di punggungnya. Tidak seperti Janson yang santai saja melihat keduanya pingsan, Anaya justru panik dan langsung berseru-seru histeris.


" Astaga! kenapa dengan mereka? Janson cepat panggil Shi ya Kemari atau cepat Panggil dokter!" Anaya berseru seru dan menggoyang goyang bahu Janson. Menyuruhnya segera berdiri dan mencari bantuan.


" Ada apa ini ribut ribut?" Seseorang memanggil dari arah berlawanan, karena arah pintu itu berada di utara sedangkan suara tadi berada di Selatan. keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara mereka bertemu dengan Seorang Gadis Cantik dengan sanggul rapi berpakaian hijau dan mata kuning cantiknya.


" Eh, ini ada yang pingsan. Apakah Nona bisa memanggil Nona Shi ya kemari Tolonglah." Anaya ya meminta bantuan kepadanya. Mata Wanita itu berkilat tajam yang menandakan Iya tidak suka panggilan itu keluar dari mulut Anaya.


" Jangan sembarangan memanggil nama Ratu Shi ya dengan sebutan 'Nona' ya anak kecil. Dia bukan orang sembarangan! kalian harus menghormatinya jadi panggillah Dia dengan nama yang sebenarnya. Yaitu Ratu Shi ya Kalian paham!" Anaya mengangguk-angguk mendengar ceramahan dari Wanita itu.


Melihat Anaya yang mengangguk-angguk, Janson ikut mengangguk.


"Jadi Apakah Nona bisa menunjukkan tempat Ratu Shi ya berada? Kami bermaksud bertemu dengannya. Ada keperluan pribadi Nona." Anaya bertanya dengan ramah kepada Wanita itu.


" Oh Baiklah, aku akan tunjukan kepada kalian berdua. Jadi Ikuti aku." Wanita itu melangkah Anggun meninggalkan mereka berdua, Anaya mulai mengikuti Wanita itu Bersamaan dengan yang Janson mengikuti dirinya tapi terpaksa.


...*****...


Setelah melihat-lihat dan menyusuri setiap lorong di istana tersebut. Mereka bertiga akhirnya tiba di sebuah pintu besar ukuran 4 meter yang dibuat oleh emas murni dan berkilau ukirannya, sungguh tak terbayangkan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata begitu indah dan eloknya.


Janson yang tadinya abai tentang fakta tersebut ikut terpukau.


"Ratu, ada kedua tamu yang ingin menemui." Wanita itu hanya bergumam kecil namun Entah mengapa pintu 4 meter yang ada di depannya mendadak terbuka. Kilau kilauan cahaya putih menerpa Janson, Anaya dan juga Wanita itu.


PRANK, SRINGH.. BUAKK!


Suara-suara memekakan telinga terdengar dari arah depan mereka bertiga. Ternyata Ratu yang dimaksud oleh Wanita itu adalah Shi ya, Shi ya sekarang sedang bertarung melawan puluhan Prajurit kerajaan. Shi ya memang di kepung oleh mereka, tapi itu bukan sebuah ancaman besar untuknya.


10 Prajurit mengapung dan arah kiri 10 Prajurit lain mengepung dari arah kanan. Shi ya tetap tidak menggeser kaki satu langkahpun dari sana. Ia hanya memasang kuda-kuda kokoh lalu ketika prajurit itu semakin dekat jaraknya hanya 1 meter. Shi ya mengacungkan pedangnya ke berbagai arah melingkar 360 derajat, seketika semua prajurit-prajurit yang mengepung tumbang secara bersamaan.


"AAAAA..."


Teriak para prajurit prajurit itu serempak. Shi ya masih dalam posisi kuda-kuda kokohnya, kini ia menatap kearah lain. Di jarak 30 meter ada tiga orang yang berdiri tidak jauh dari sana.


Shi ya mengenali mereka yang sekarang terlihat melambaikan tangan, Janson terpaksa melambaikan tangan hanya karena ikut-ikutan.


" Kita cukupkan latihan hari ini Semuanya berdiri dari posisi kalian masing-masing." Seru Shi ya tegas kepada Prajurit - Prajurit yang masih terkapar kesakitan.


Rerumputan terlihat memanjang namun rapih, bunga bunga bertebaran di sisi-sisi lapangannya, burung-burung terlihat di danau buatan itu, bahkan kupu-kupu berjumlah ribuan terbang seiring langkah Shi ya.


Pakaian Shi ya terlihat berbeda dari sebelumnya, kini Wanita itu memakai baju sederhana berwarna hijau. Sama seperti yang dipakai Wanita yang mengantar mereka berdua menemui Shi ya.


" Apa kabar panglima? Bagaimana keadaanmu seminggu terakhir ini Yu Jian?" Shi ya bertanya pada Yu Jian.


" Aku baik-baik saja Ratu. Terima kasih telah bertanya." ujian membungkukkan badan hormat terhadap Shi ya.


" eh" Anaya merasa familiar dengan nama Yu Jian itu.


Shi ya menyuruh mereka kembali ke dalam dan duduk di ruang tengah agar bisa mengobrol lebih nyaman.


Anaya dan Jian mengangguk setuju sementara Janson malah tak peduli.