TO THE DEAD

TO THE DEAD
Pertarungan dan kedatangan Quen



"Pasukan bagian kiri segera menuju arah selatan, sedangkan pasukan kanan menuju arah utara! Kita harus bergerak serempak agar bisa mengepung lawan! Pastikan kalian tidak melukai sandra!" Perintah Yu Jian pada pasukannya.


Gadis itu semenjak berdiskusi dengan Shi ya dan Yu Jian sampai akan tiba di perbatasan tidak mengatakan sepatah katapun.


Yang terlihat dari wajahnya kini adalah airmata yang keluar, serta raut wajahnya yang serius.


'Gadis manusia ini sangat kuat, meski dia terlalu cengeng. Apa yang terjadi jika dia tau kebenaran selanjutnya setelah ini? Ooh, Putra Mahkota sampai kapan aku harus menahan diri lagi, ingin rasanya aku membantunya sepenuh hati, namun bahaya yang lain akan menantinya di kemudian hari, apahkah yang harus ku lakukan?" Batin Shi ya seiringan dengan teriakan dari Yu Jian dan pasukannya.


Kesedihan rupanya tengah melanda Ratu penguasa dunia siluman. Entah apa lagi yang ia sembunyikan, entah rahasia apa lagi yang akan terungkap?!


...******...


Tidak hanya keringat yang mengalir deras di dahi Rey, tetapi juga tetes tetesan darah yang mulai keluar sedikit demi sedikit.


"Sudah ku katakan, kau takkan bisa menang dariku! INILAH KEBENARAN MANUSIA! Kau itu LEMAH!" Mayana benar benar menyinggung Rey telak sekali, tentu saja Rey tidak terima di rendahkan. Rey menyerang secara membabi buta di karenakan ia marah, dikarenakan Heng di dekat sana juga terkapar terluka oleh Mayana.


Selama Rey mengobrol bersama Dian, Heng seorang diri menahan Mayana. Tentu Heng bukan lawannya, apalagi Mayana dengan Rey.


Serangan Rey yang mulai lengah membuat Mayana mudah menerobos pertahanannya dalam bertarung, satu kuku jari Mayana telak menggores perut lawan, darah mulai meluncur deras.


"Uhuk!" Sadar lukanya yang mulai parah juga telah kehilangan keseimbangannya Rey jatuh tengkurap di atas tanah.


Rey berusaha keras sekali lagi untuk bangkit berdiri untuk melawan, namun ia tidak bisa bangkit dengan kondisi seperti itu.


"Aku akan mengurus hal lain, tapi tampaknya ada yang sudah menyelesaikannya, jadi aku hanya fokus padamu saja! Bersiaplah bertemu Sang Penjaga MANUSIA!" Mayana berbisik tepat di telinga Rey dengan nada lirih, membuat mata Rey terbelalak tidak percaya.


'Dia akan membunuhku!' Batin Rey mengeluarkan kesimpulan, bersamaan dengan itu pedang tipis Mayana akan segera menyayat lehernya.


"MAYANAA! TOLONGG AKU!" Teriakan barusan benar benar membuat gerakan Mayana terhenti, suara itu tidak lain milik rekannya.


"Apa yang terjadi?" Mayana segera berlari ke arah timur untuk membantu rekannya.


"Apa yang terjadi sehingga Mayana panik begitu?" Rey juga heran dengan raut yang siluman itu tunjukan.


...*****...


"Tooloong!! Uukh." Suara Dian kecil sekali. Ajal Gadis ini sudah berada tidak jauh lagi.


Mulut ular raksasa tersebut telah sempurna terbuka. Menandakan ular itu siap melahap serta menelan mangsanya.


"ULAR MENJENGKELKAN!" Seru seorang yang muncul tiba tiba dari semak belukan, Wanita barusan sempat melemparkan pisau tajam yang tepat tertancap di kedua mata ular itu.


Desis desis kesakitan keluar dari ular. Hewan tersebut perlahan melepaskan Dian, Dia terkulai jatuh beruntung Wanita itu telah bersiap di bawahnya.


"Gadis malang, aku akan mengobatimu!" Wanita itu berujar di tengah desis kesakitan dari ular raksasa.


...****...


Quen membaringkan Dian di atas tempat tidur, Quen langsung membawa Dian ke desa, ia harus bergegas karna mungkin rekan rekannya dalam masalah besar.


...*****...


Mayana segera meninggalkan Rey dan segera menuju arah utara tempat Wayana sedang bertempur.


"MAYANAA TOLONG AKU!!" Wayana berteriak lagi, Siluman hitam itu telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghalangi pasukan Putra Mahkota. Wayana bahkan sudah membuat benteng benteng tinggi, juga beribu ribu tanah tajam untuk menahan pasukan itu mendekat, namun mereka malah membuat pertahanan kokoh dengan besi baja putih.


"Ada apa?" Mayana kesal setiba di sisi Wayana.


"Mereka tidak bisa ku hadang sendiri, Mayana. Mereka datang banyak sekali." Wayana berkata panik. Karena ia belum pernah mengalami situasi segenting ini.


"Makannya jangan bertindak Bo*oh lain kali, jelas jelas pasukan ular kita kalah jumlah dengan Pasukan Putra Mahkota. Dulu aku fikir sudah menghancurkan keturunannya. Namun nyatanya ia masih hidup." Mayana berujar.


"Hentikan dulu mereka, lalu kau bisa menjelaskan semua yang kau tau!" Wayana benar benar jengkel.


Mayana mendengus sembari mengentakkan kedua tangannya pada tanah, dan juga pepohonan.