
Galih bangkit dari duduknya dan menghampiri Xin dengan langkah cepat, ia menarik kursi dan duduk di depan Xin yang sedang menikmati teh hijau.
"Kau yang bertanggung jawab atas perjalanan bukan?" Tanya Galih dengan wajah serius.
Xin mengangguk, "Manusia ini, berapa kali lagi ku bilang. Aku akan mengurus semuanya." Jawa! Xin singkat.
"Jika begitu, aku akan ikut mengawasi kalian. Aku takkan membiarkan janson ikut pertempuran jika hal itu terjadi ya!"
"Baiklah, aku takkan membiarkan siapapun ikut bertarung. Jangankan anak manusia itu, aku bahkan akan menyuruh Anaya menjauh, dia juga manusia bukan. Jadi untuk masalah itu sudah kuputuskan."
'Aku tak harus khawatir karena aku sudah berlatih dengannya, aku bertemu dengan Yawana juga cucunya yang ternyata pak Wo. Mereka menyerangku dan mengatakan itu adalah latihan, di samping Anaya yang melihat adikku itu menyemangatiku dari jauh, kami bertarung di ruangan ini. Aku akhirnya mengerti bagaimana caranya mengendalikan aura seperti mereka, pancaran aura mereka rata rata dari tubuh atau mata, sedangkan aura terbesarku ada pada mataku. Terkumpul pada bola mataku. Mataku sudah memancarkan didinding aura selama sepuluh tahun terakhir, maka didinding tempat tinggalku memiliki auraku yang sudah memadat. Aku berhasil mengendalikan aura di dinding dan membuat kemajuan mengagumkan dengan mengalahkan mereka.'
(Ingat Xin kekuatan kami sejatinya memang jauh dibawahmu. Hanya saja kau sudah berkembang dengan cepat jadi kau harus bersiap saat menghadapi lawanmu nanti, jangan pernah anggap siluman itu remeh. Aku hanyalah siluman tingkat bawah di kompleks ini, sejak wayana datang kami para siluman rendah juga ketakutan. Termasuk cucuku ini Wowo.)
Xin mengagguk memahami kalimat Yawana, sekejap Yawana dan Wowo pergi dari kediamannya dan Xin menghapus jejak aura mereka dengan mengubahnya menjadi aura miliknya.
*****
Xin membentuk tubuh baru dari beberapa korban kecelakaan di suatu kompleks. Seorang gadis belia usia 19 tahun, dan ia paling mirip wajahnya dengan Anaya adiknya.
Sementara Galih sibuk dengan menaruh dan mengemas semua barang termasuk kunci rumah yang kembali ditemukan, kini galih menoleh ke belakang.
"keysa, kenapa kau di sini?" Galih menatap Xin yang berubah wujud.
Xin tak menyanhka kalau tubuh yang ia tiru merupakan orang yang dikenal Galih.
"Aku mau-"
"Bukankah kau selingkuh dengan Dava. Dan memilihnya untuk kau nikahi hah? kenapa kau sekarang bergaya ingin ikut rombongan kami. Kami tak sedang berlibur, Ayo Anaya Janson kita berangkat, tak usah hiraukan Wanita ini.."
Xin kesal sekali, ia menarik Galih dengan sihir.
"Keysa kau,"
"Aku bukan Keysa, aku Xin Bodo*! Huh, aku tak menyangka saja tubuh yang ku tiru dari insiden kecelakaan bisa dikenali olehmu."
"Kau bilang apa barusan?" Galih menoleh cepat.
"Gadis ini mengalami kecelakan, seluruh kepalanya hancur karena ia bunuh diri di rel kereta api. Menabrakkan diri setelah depresi. Sekarang aku mau memakai badannya, untungnya ruh itu setuju, meski dia sekarang sedang memanggil nama seseorang. Yaitu kau Galih. Dia menyesal telah berselingkuh dengan Dava, karena Dava melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Keysa padamu. Apa kau mau memaafkannya.."
Galih terduduk di kursi mobil, ia dan Keysa beru putus beberapa bulan lalu, dan Dava yang pacarnya, melakukan hal yang sama.. Ini benar benar diluar bayangan Galih. Keysa Gadis yang ia sayangi selama ini, yang selalu mengingatkan dia tentang bekerja, atau sering menghubungi jika ia sakit. Yang selalu peduli keadaannya. Kini setelah tau Keysa memiliki nasib malang tentu saja Galih memaafkannya.
"Tentu Xin, aku memaafkannya sejak ia bilang padaku beberapa hari yang lalu, dan aku sudah tau tentang Keysa melalui koran. Tragedi itu sudah seminggu silam. Aku hanya merasa kau arwah Keysa yang sering datang. Key.. Hiks.."
"Ukh. Aku mengambil tubuh yang salah, ini salahku Galih maaf mengenali hal ini, jadi perankunl saat ini menjadi kekasihmu. Aku menambahkan kacamata dan tahi lalat jadi aku sedikit berbeda dari mantanmu, Oke.." Xin mengubah sedikit wajah itu.
Galih mulai melirik lagi, "Kita takkan bisa memulai lembar baru jika terus memikirkan masa lalu, lupakan yang lalu dan mulai lagi dari awal, tak semua manusia sama seperti mantanmu.. Dan kapan kita juga berangkat ke kota Soro nanti kemalaman dan jalanan jadi gelap, lekas jalan." Xin menjitak kepala Galih sambil berseru jengkel pada pemuda itu.
"Kapan kau akan berhenti menjadikanku budak, sedari tadi selalu menyuruh nyuruhku. Kalau tanpa aku kalian tak berangkat!"
Galih mendengus sesaat karena kesal, terlebih lagi selama ini keysa memang tak seperti itu.
Galih tampak fokus pada kemudinya, sedangkan Anaya sedang memakan camilan yang ada di dalam mobil.
"Anaya kau makan camilan apa? Kelihatannya enak," Janson mendekat setelah mendengar anaya mengunyah sesuatu seperti biskuit atau semacamnya.
"Ini wafer tabati Janson, aku menyukai rasa susu dan ada beberapa farian rasa yang lain seperti coklat keju dan lainnya.." Anaya menjelaskan.
"Berapa harganya, kok aku gak pernah tau wafer ini!" Janson menoleh dan membalik balikkan kemasan yang Anaya pegang, ada beberapa bungkus wafer yang belum terbuka dan ada di tumpukan kotak putih terbungkus rapih dengan plastik.
"2000 rupiah, murah banget malah, kamu bisa kok menemukan wafer ini di warung atau minimarket, kamu sih jarang keluar rumah jadi gak tau kalau banyak biskuit atau wafer sejenis ini." Anaya menarik lagi satu batang wafer rasa susu tersebut.
"Aku mau ya, ada dimana rasa lainnya?"
"Di dalam plastik cari saja,"
"Wha ada yang rasa keju, aku suka keju."
"Selain rasa keju juga ada rasa coklat, tapi aku kurang suka. Lebih enak yang rasa susu. Karena krimnya lembut."
"Wha walaupun harganya murah tapi tetap gurih dan enak ya."
"Jelas, tapi aku makan ini cuma sesekali saja karena kalau berlebihan bisa sakit perut."
Xin memperhatikan mereka yang asyik berbincang tentang makanan ringan, Galih masih fokus pada jalanan dan memegang erat kemudi.
"Xin, bagaimana kau bisa tau tentang petunjuk pertama yang ada pada nenekmu, dan bagaimana kau bisa menyimpulkan bahwa keluargamu diburu oleh wayana itu?" Galih bertanya sejenak.
"Karena memory itu menunjukannya, saat kedua anak itu dan diriku berada pada lintas waktu diantara jutaan lorong waktu kami melihatnya di salah satu lorong waktu. Aku melihat banyak sihir dan kekuatan ditengah nenek yang melarikan diri, ada seseorang disampingnya yang tak kukenali yaitu satu siluman laki laki dan seirang gadis perempuan, setelah itu memory berganti ke masa kini dimana Gadis perempuan dan siluman itu tak terlihat, justru nenekku tengah bertemu dengan orang yang mirip denganmu Galih, mungkin itu ayahmu Fariz, setelah itu aku melihat satu nama yang disebut siluman Wayana, Sang 'Ratu'. Siluman itu dengan tunduk menghadap dan melaporkan sesuatu yang entah apa.." Xin menjelaskan.
Galih fokus mendengarkan setiap perkataan Xin.
"Sebelum aku tau wajahnya kilatan waktu selanjutnya adalah tentang kecelakaan orang tuaku, dan setelah itu kami kembali ke dunia manusia.." Xin selesai pada akhir ceritanya. Ia tak menceritakan tentang pulau ufalu dan batu misterius yang dilihat Anaya, juga tentang suatu kaum bermata biru seperti Janson.
"Begitu ya, jika itu yang terjadi maka hal ini sangat berhubungan dengan keluarga kalian, dan tak ada kaitannya dengan kami. Dan apa kau tak lapar atau semacamnya? Mau makan dengan Ayam atau darah?" Tanya galih lagi.
"Aku tak makan aku hanya butuh bunga yang tumbuh dengan perawatan khusus bunga 'Freziana' Itu makananku,"
"Aku tak tau bunga itu tumbuh dimana," Galih menggeleng pelan, ia tak tau tentang apa yang dimaksud xin dalam kalimatnya.
"Bunga Freziana yang kumaksud ada di hutan perbatasan, kalau tak salah ada di pedalaman Hutan Kionh. Tapi aku tak tau dimana tempat itu."
"Jadi kau tak pernah makan?" Galih bertanya pelan.
Xin menggeleng, "tapi kalau aku sedang berwujud manusia aku bisa mengubah makanan menjadi energi namun tetap tak sebesar yang kudapat dari bunga Freziana. Jadi aku akan makan nasi kotak tanpa garam ini." Xin mulai menyerapnya dalam tangan, makanan itu lantas langsung berubah menjadi aura yang menyatu dengannya.
Galih terpukau dan bergegas menepikan kendaraan untuk melihat kegiatan Xin.
"Keren sekali." Galih berdecak kagum.