TO THE DEAD

TO THE DEAD
Maya dan Farhan



Sejak menikah di usia yang cenderung muda kedua pasangan ini telah memiliki satu anak yaitu Aliza.


Kini usia mereka memasuki usia tiga puluhan, dan di tahun depan genap empat puluh. Membesarkan Aliza merupakan kebahagiaan tak terkira di hidup keduanya.


Aliza kini sudah berusia 13 tahun 11 bulan, bulan depan genap 14 tahun ulang tahunnya. Dan bersamaan dengan itu Janson juga akan genap berusia 13 tahun, bulan lahir kedua sepupu ini memang sama Januari. Dan ini adalah bulan desember, menuju hari hari terakhir.


"Aku tak sabar merayakan hari pernikahan kita, dan juga ulang tahun putri kita."


Maya duduk memandang matahari terbenam dari atas kapal. Sambil bersender di lengan Farhan.


"Aku juga tak sabar menunggu pulang maya, betapa rindu aku pada Aliza. Kita telah memberikan yang terbaik juga perlindungan untuknya jadi aku sedikit cemas ia tak dapat bergaul. Karena di usia itu ia suka sekali dengan orang berkulit putih itu, mencintai drakor. Aku agak khawatir dia terlalu terobsesi.."


Maya menggeleng, "Janson takkan membiarkan ia terobsesi Ayah, ingat bulan lalu gara gara Janson Aliza jadi marah dan melupakan drakor, dan mengejarnya karena ia selalu resek. Aliza jadi melewatkan drakornya lantar marah marah pada Sepupunya."


"ia ya, janson kan selalu mengejek Aliza tentang ini."


Keduanya tertawa. Merindukan pertengkaran di antara kedua bocah itu.


*****


Di malam hari yang larut seseorang masih memeriksa suatu info yang ada di layar laptop, ia adalah Fariz setelah galih kembali saat ia mengantarkan Aliza dan Janson ke restoran, pemuda itu mengobrol dengan Fariz di telepone genggamnya memberikan alasan pekerjaan sebagai jawaban Galih.


Bahkan Galih membuat rekaman untuk meyakinkan Ayahnya Fariz.


"Sudah kuduga, Anaya adalah putri misterius itu, dan dimana kakaknya yang bernama Xin itu. Aku takkan membiarkan kejadian Empat puluh tahun itu kembali saat ini, aku tak menduga dia datang membawa masalah yang sudah terkubur, siluman itu pasti mengenali wajahku melalui janson. Ia pasti membenci mata birunya yang menguras energi." Fariz memegang kepalanya.


"Akhh.. Ini sangat rumit!!" dilayar laptop yang tertera di atas meja, ia kini tak bisa berfikir lagi selain mencemaskan apa yang akan terjadi.


Malam yang hening itu mengingatkan betapa dulu ia pernah sendirian menghadapi masa lalu sendirian, kemudian kehadiran seseorang yang ia sayang setelahnya hadir.


Goresan terasa di dada fariz seketika, Fariz menatap kembali layar laptop dan memutar satu vidio berdurasi 5 menit.


"Ruth, aku merindukanmu..." Gumamnya, "lihatlah anak kita sudah besar dan memiliki mata yang sama seperti dirimu. Aku tak tau apa yang terjadi padamu kala selesai melahirkannya namun kau menghilang dari rumah sakit. Apa itu benar ruth! Jadi kau kemana? Aku selalu berfikir kau marah atau tak ingin melihatku, namun aku sama sekali tak bisa menemuimu lagi. Bahkan keberadaanmu tak terlacak lagi. Seolah menghilang." Fariz merenung sedih.


Gelapnya malam kini perlahan menghilang digantikan sinar matahari pagi, Tak terdengar apapun lagi di dalam ruangan Fariz, di luar kamarnya pembantu sudah sedari tadi berlalu lalang memulai kegiatan dengan bersih bersih.


Salah satu pembantu yang kerap memeriksa keadaan Anaya dan Janson satu satunya adalah Bi Ina, yang lainnya adalah pembantu biasa. Bi Ina ini sudah dianggap keluarga karena melayani keluarga itu sudah lama. Sejak sepuluh tahun ia bekerja di sana dan sudah mendapat kepercayaan sepenuhnya. Ya, Bi Ina adalah pembantu pertama di rumah itu sebelum rumahnya ditingkat menjadi lima. Karena itu Ina menganggap Janson seperti anaknya sendiri. Bi ina sedari dulu tak memiliki keluarga, karena ia memang dijual oleh orang tuanya ke tangan Fariz. Bi Ina waktu itu masih berusia 21 tahun. Karena ia pernah melahirkan jadi ia yang mengurus Janson yang masih 2 tahun. Janson dengan imutnya langsung minta digendong olehnya. Fariz mengizinkan jadi Ina mendapat kepercayaan karena si kecil Janson. Sejak Raina mengurusnya penyakit Janson yang sering kambuh mulai berkurang karena kasih sayang Raina sangat besar.


Kini pintu perawatan ruangan Janson dan Anaya didorong ke dalam. Raina melangkah dan meletakkan dua mangkuk bubur di atas meja sembari tersenyum. Berbalik lalu meninggalkan ruangan.


Anaya terbangun karena Aroma bubur yang tercium ke mana mana.


"Aku lapar, kemarin kemarin belum makan." Anaya sempurna duduk lalu menoleh ke arah meja. Disana telah ada mangkuk bubur lengkap dengan air putih.


Raina meletakkan secara terpisah sebelum mereka bangun.


"Bagaimana cara mengambilnya, buburnya masih panas bukan. Tapi di lantai itu jalan apa." ada garis daris di lantai yang terlihat sampai bawan meja. Anaya mencoba menebak dan menekan tombol di sisi tempat tidur.


Meja itu bergerak seketika dan berhenti persis di depan Anaya.


Anaya terlihat bingung menatap meja itu, ternyata setelah melongok ke bawah ia mengert"i, meja itu bisa bergerak karena ada rodanya.


"Buburnya enak." Anaya menghabiskannya dalam sekejap, ia kemudian berbaring lagi di ranjangnya. Melirik tirai di sebelahnya tidak ada suara membuatnya heran.


Benar dugaan Anaya Janson masih tertidur di tempatnya, punggungnya terlihat karena posisi janson membelakanginya.


"Janson bangun."


Anaya bersuara beberapa kali hingga tubuhnya bergerak dan kini beralih pandangan. Terlihat wajah janson yang masih menutup karena masih pukul 06.59 WIB.


Satu menit berlalu cepat dan Janson kini membuka matanya perlahan.


Anaya terlihat tesenyum kecil melihatnya yang masih punya penyakit itu.


"Apa penyakit putri tidurmu itu sudah hilang?" Anaya langsung bertanya setelah janson membuka matanya.


"Anaya harusnya kau menyapaku, bukan malah bertanya tentang penyakitku."


"Maaf, tapi aku hanya penasaran."


Janson bergegas duduk dan memperbaiki posisinya agar menatap lurus ke arah Anaya, tatapannya tak terlihat seperti habis bangun tidur.


"Kau sudah bangun dari kapan?"


"Entahlah, mungkin saat mentari muncul di ujung jendela. Aku merasakan perubahan setelah aku bertemu denganmu dan juga kakakmu, Anaya sejak kapan kau menyembunyikannya dariku?" Janson bertanya pelan.


"Aku juga baru tau, sejak hari aku pingsan aku banyak memimpikan hal aneh tentang kakak. Dan semua ini aku tak bisa menjelaskannya lebih dari ini. Maaf,"


Mereka terdiam lagi sejenak, terlepas dari penyakit janson yang sudah mulai hilang, kini prioritasnya hanya tentang pergi ke rumah neneknya.


"Setelah ini aku ada urusan dengan kakak, kau tak perlu mampir lagi janson aku tak mau membahayakanmu.."


"Aku akan ikut bersama kalian, pokoknya aku harus ikut!"


Anaya yang mendengar Janson memotong kalimatnya karena tetap ingin bersama mereka menjadi kaget sekali hingga ia rasanya ingin berdiri dari tempat tidurnya dan berseru.


Namun Anaya menggeleng keras, "Kau tak ada hubungannya dengan masalahku janson, akan sangat bernahaya membiarkanmu ikut bersama kami." Anaya mengepalkan tangan, janson lebih merasa emosi karena ia juga punya masalah dengan keluarganya.


"Kau tau Anaya, bukan cuma kalian yang ingin menyelesaikan masalah di sini, aku juga. Bahkan aku hanya ingin melihat hal itu dari masa lalu, aku takkan mencampuri urusanmu. Biarkan aku ikut!"


"Tapi,"


"Sistem itu memperlihatkan wajah ibuku, aku harus melihatnya lagi darimu sebulan lagi. Pokoknya biarkan aku melihat hal itu bersama kalian." Janson terlihat marah pada Anaya kali ini.


'Sepertinya itu sangat penting baginya, baiklah jika begitu.'


"Baiklah, kau boleh ikut tapi aku akan pergi dulu ke rumah nenek selama beberapa minggu, jadi kau tak bisa ikut."


"Aku tetap akan ikut meski kalian melarang, aku ingin ikut perjalanan ini. Kau tau mengapa kita bisa pergi ke portal itu, mata kita yang saling bersinar. Mustahil aku meninggalkanmu." Seru Janson.


"Kalau begitu, aku hanya bisa minta satuhal darimu.. Sebelum kita melakukan perjalanan bahaya."


Janson menoleh pada Anaya, "Janson jangan pernah bertarung dengan musuh kami karena alasan kita berteman, larilah segera!"


Dedaunan kering di balik jendela itu berhembus membawakan angin hingga ke kamar Anaya dan Janson, tatapan Anaya tegas dan serius. Kedua mata itu tampak bersinar di ujung ujungnya. Janson perlahan mengangguk.