TO THE DEAD

TO THE DEAD
perjalanan menuju kota bansar.



kegiatan di sore hari untuk mempersiapkan bekal untuk keperluan di perjalanan pun berlangsung cukup singkat karena waktu yang kian mendesak.


Heng, Rey dan Quen menyiapkan kuda untuk ditunggangi. Sebelum keberangkatan Quen sempat berkata ia akan mengambil jalur berbeda dari yang seharusnya. Ia akan memantau sitiasi jalan yang mereka lalui. Begitulah alasannya tidak bersama rombongan.


Quen berkuda lebih awal dari mereka.


Kuda Quen berpacu dengan cepat ke arah timur, kuda itu pula yang menyarankan agar dirinya menjauh untuk sementara waktu, karena bahaya akan mendekat jika Quen masih di sana. Karena kuda itu bilang Quen sedang diawasi.


Hal itu membuatnya tidak ambil resiko untuk keselamatan Anak anak dan juga sahabatnya. Dia hanya harus menghilang dari sana.


"Kenapa dia sangat buru buru begitu Heng?"


"Entahlah, tapi aku rasa ini baik untuk kita." Heng menggebah kudanya. Ia yang memimpin perjalanan itu untuk beberapa jam kedepan, jika ia kelelahan Rey bisa menggantikannya memimpin.


Suara lari kuda terdengar hingga jarak 10 meter. Namun perjalanan masih lancar hingga malam datang.


Cahya mentari sudah terbenam sedari tadi, kini semuanya berkumpul di dekat api unggun untuk menghangatkan diri. Mereka tidak tidur di tenda seperti orang yang kemping, mereka hanya tidur dengan kantong tidur, jika hujan mereka akan berteduh di dekat gua, banyak celah gua di sekitar sana. Beruntung cuaca sedang normal, jadi hanya angin masalah mereka.


Rey mengeluarkan bekalnya berupa jamur putih mentah, ia sudah membawa bumbu perasa jadi tidak kesulitan membuat sup jamur dan jamur bakar untuk menu makan malam.


"Trimakasih Nek" Anaya menerima sup jamur itu dengan wadah berupa batok kelapa yang dihaluskan. Rey tidak mempunyai sendok untuk mengaduknya, jadi sebagai hantinya ia menggunakan bambu yang sudah dicuci bersih, tangan Rey juga terbiasa dengan panas jadi ia hanya perlu menuangkan Sup itu ke mangkuk.


Makan malam bersama pun berlangsung dengan hening, kuah bening dari jamur terlihat mengepul hangat di wajah, Anaya menyeruputnya perlahan supaya tidak membakar lidahnya.


"Sup ini enak sekali Nek, ini dari jamur apa?" Dian yang merasakannya dengan perlahan pertanya, karena sup buatan Rey memang sangat enak.


"Ini dari jamur putih hutan, aku mencarinya bukan menanamnya, kalian harus mengetahui fakta ini anak anak, di dahan pohon yang tidak banyak terkena sinar matahari dan pepohonan itu cenderung lembab maka disanalah Jamur tumbuh, tapi memetik jamur juga harus hati hati, banyak jamur beracun. Yang terpenting adalah 'Jamur yang tidak mempunyi cincin itu jamur yang aman' kalian bisa lihat kepala jamurnya tidak memiliki cincin bukan, berarti jamurnya bisa diolah dan dinikmati" Rey menjelaskan pengetahuan yang ia pahami.


"Ooh jadi begitu. Pantas saja nilaiku jelek di pengetahuan alam. Aku tidak tau ada jamur beracun dan tidak. Aku fikir semua jamur itu bisa dimakan! Ternyata tidak." Dian berceloteh atas penjelasan Rey.


"hahaha, kamu ini anak yang unik dian. Ada ada saja. "


semua orang di situ tertawa ramai, hanya Anaya yang tidak tertawa. Gadis itu hanya tersenyum simpul menatap keadaan.


...*****...


Semua orang sudah tumbang tertidur memakai kantung tidur, malam berbintang yang menghias angkasa masih memancarkan cahayanya ke bumi.


Anaya membuka matanya saat langit masih gelap. Ia meraih ransel rajut di kuda dan mengeluarkan lagi kotak kayu itu.


"Apa isi dari kotak ini? aku penasaran sekali bagaimana isinya dan cara. membukanya. Heh kayu bakarnya harus di bakar, api unggunnya mengecil." Anaya meraih kayu kayu ranting untuk menjaga api unggun tetap menyala.


Sret..


"Aduh.. ssshh.. perih sekali ranya, aw" Jari anaya tertusuk ranting tajam dan tangannya berdarah seketika.


Janson yang sedari tadi belum tidur dan menemani Anaya, juga tak henti henti melihatnya pun mendekat dan langsung khawatir.


"Anaya, sebentar aku akan membersihkan lukamu." Janson meraih kain bersih dalam tasnya.


"Janson kau berlebihan, ini cuma luka kecil. Sudah ah jangan. " Anaya menolak.


Janson kini mengangguk dan membiarkan Anaya mengobati lukanya sendiri, kotak kayu unik yang terletak di sebelah Anaya mulai sedikit terbuka ada luwongan kecil seukuran jari di satu baris kotak. terbuka kecil saja namun cukup membuat Anaya kaget.


"Haa, ko kotaknya terbuka? Bagaimana bisa!" Anaya mudur beberapa inci, sedangkan janson di sebelahnya sudah mulai menguap karena mengantuk.


Anaya mengambil kembali kotak itu dan memeriksanya, ia melihat di salah satu lubang kotak ada darahnya yang menetes di salah satu kotak.


"Jadi kotak ini akan terbuka dengan darah! Pantas saja tidak ada kuci gemboknya." Anaya yang paham sedikit menjadi yakin. Ia menggores tangannya dengan ranting tajam darah langsung keluar dari jarinya, meskipun itu perih dan sakit Anaya tidak terlalu peduli ia meletakan tetes darahnya pada lubang kedua. Setelah ia meletakan darahnya kemudian tidak ada perubahan pada kotak itu.


"Kok tidak terbuka, apa darahnya kurang banyak ya?. Tapi itu tidak mungkin, setetes darahku tadi bisa membuka sedikit kotaknya jadi berikutnya darah siapa?" Anaya yang lelah berfikirpun memutuskan untuk tidur, ia menyimpan kotak itu kembali dan bergelung di kantong tidurnya.


Sambil menunggu matanya tertutup dengan sedirinya Anaya terus berfikir kenapa kotak itu tidak mau terbuka. Dan ia menatap bintang gemintang di langit sana tampak indah sekali.


'Aku masih bisa bahagia kan Ayah, Ibu. Aku masih memiliki keluarga di sini, banyak sekali dan juga aku memiliki Janson yang selalu ingin bersamaku. Apa ayah dan Ibu punya rahasia hingga meninggalkan kotak ini bersamaku? Dan aku binggung saat bertemu nenek misterius di tepi danau tapi aku tidak ingat setelahnya. Aku seperti sedang dikendalikan oleh sesuatu tapi entahlah, itu hanya mimpi. Janson bilang aku cuma bermimpi. Tapi mimpi itu terasa sangat nyata.'


Anaya menutup matanya, 'Ayah.. Ibu.. Aku rindu kalian.'


...******...



Anaya menangis sambil memeluk boneka kelinci yang selama ini dirajut oleh Ibunya, benda satu satunya yang selamat ketika rumahnya terbakar. Boneka itu hanya seukuran tangan Anaya jadi dia mudah membawanya kemanapun ia pergi.


Angin di lembah perbukitan itu terasa dingin sejuk di malam hari, suara lolongan serigala hutan dan derik derik serangga kadang terdengar di kejauhan maupun di semak dekat tempat mereka bermalam.


Malam terasa hening sekali, Quen di atas bukit sana hanya sedang mengawasi mereka dari kejauhan. Ia tidak tertarik untuk tidur dan beristirahat.


Ia memutuskan berpisah dari rombongan bukan karena ingin berpisah dengan mereka ataupun melepaskan tugasnya untuk menjaga mereka, tapi ada sesuatu hal yang dapat membahayakan mereka jika Quen terus berada di dekat mereka.


Quen kini bertugas sebagai pengintai malam dan ia akan beristirahat saat siang, sebenarnya sejak ia berpisah dari titik awal rumah Heng Quen hanya mengikuti mereka dari jarak jauh ia melajukan kudanya dengan cepat ke semak semak dan menunggu mereka berangkat terlebih dahulu.


Saat Heng dan Rey meninggalkan desa, Beberapa hewan yang entah dari mana muncul dari belakang Quen dan menyergapnya, itu adalah macan tutul hitam dari kerajaan Hirina.


GRAAA..


Macan Tutul hitam itu secepatnya menyerang Quen dengan cakar hitamnya yang mengkilap ditimpa mentari sore.


"Dasar hewan buas, bisa biasanya kau menyerangku dengan cakar yang kecil itu. Itu hanya seperti garukan Macan bo*oh. Kau bukan lawan tandinganku!" Seru Quen lantang pada macan itu.


Grrrr... Grrr..


Macan tutul hitam itu terus menggerung gerung marah pada Quen sebab terus menerus diejek. Tentu saja hewan itu bisa tersinggung dengan perkataan Quen, karena Quen mengerti apa yang mereka ucapkan.


"Berikan anak gadis itu pada Ratu. Grrr!!! " Macan Tutul itu menggerung marah sambil menjerit memerintah Quen.


"Heeeh, kau. membicarakan hal apa? Aku sendirian disini tidak ada siapapun yang ada bersamaku!" Quen mengulur waktu supaya mereka terus menjauh dari sini dan Quen akan menghilangkan jejak bau mereka.


"Jangan fikir aku tidak tau kau tengah mengulur waktu, maka terima ini Grrr!! " Macan itu melompat dengan gagah dan cepat ke arah Quen.