TO THE DEAD

TO THE DEAD
Keadaan rumah Anaya



Aura surat ancaman


Dari kejauhan tempatnya di atas pohon sana, seseorang sedang mengawasi dengan tatapan mata merahnya, tubuhnya ramping dan berambut panjang tengah duduk di dahan pohon besar sembari sesekali menyunggingkan senyumannya yang tampak manis, wajahnya putih langsat dengan tangan yang sedikit kehitaman dan bersisik ular. Tatapannya tertuju pada sebuah rumah yang tampak berantakan memperhatikan tiap jengkal keadaan rumah tersebut, termasuk mobil yang terparkir di depan rumah tersebut.


"Hehe, tampaknya aku kedatangan tamu anak anak yang kecil dan manis, sungguh tidak terduga sama sekali. Apakah kali ini aku bisa mencicipi daging mereka. Apakah dia akan mengizinkannya jika aku yang akan melakukannya ya.. Duh adik tersayangku.." Sosok itu kini menatap dengan tatapan mengerikan dengan mata yang merah mengkilap. Perlahan lahan ia berdiri dari dahan pohon, wajahnya terlihat sekali cantik dengan mata merah itu tapi ada retakkan dan sisik di salah satu matanya membuat wajahnya sedikit menakutkan, dengan rambut panjangnya yang terikat panjang ia pantas dijuluki siluman tercantik sekaligus mengerikan. Suara rintik hujan menyamarkan keberadaannya saat ini.


Sosok itu menghilang dalam waktu cepat dan tak terlihat di mata.


Dalam mobil keadaan yang hangat membuat Anaya menggerakkan matanya dan membuka mata perlahan. Kepalanya yang tadi bersandar pada pundak Janson kini ia duduk tegap di kursi bagian belakang. "Aku tidur berapa lama.." Anaya kemudian menoleh hendak melihat keadaan.


Ternyata di luar sana rintik gerimis kini menjadi hujan deras di luar sana, langit tampak gelap dan menutupi keadaan sekitar, angin mulai bertiup dan menerbangkan apa saja yang ringan dan mudah terbawa angin, dedaunan dan beberapa kertas terlihat dari jendela mobil saat Anaya mendekati jendelanya demi melihat keadaan lebih baik.


Sekejap berikutnya sosok berbadan besar tiba tiba muncul dari sampingnya. Membuat Anaya memundurkan badannya dari jendela mobil.


Sekejap alaram mobil dimatikan oleh seseorang, bunyi bip bip terdengar singkat. Membuat Anaya bertanya tanya dalam hati sembari wajahnya masih terlihat panik.


Pintu mobil dibuka dari luar dan terlihat sopir mobil bernama pak Mulyo ini.


Anaya menghembuskan nafas lega melihat sosok yang dilihatnya ternyata bukan hantu.


"Eh, nak Anaya sudah bangun?" Tanya Mulyo sambil menaruh bungkusan plastik hitam di kursi sebelahnya, setelah itu ia duduk untuk menghangatkan diri karena ia sempat kehujanan beberapa saat.


"Pak Mulyo ini bikin kaget saja.. " Anaya menjawab pertanyaan Mulyo dengan jawaban lain.


"Eh, emang kenapa nak Anaya terkejut?" Mulyo mulai mengeluarkan keringat dingin karena bingung.


"Tadi aku sedang melihat hujan di luar tiba tiba pak mulyo muncul di samping kaca, kan aku kaget. Ku kira ada hantu atau semacamnya begitu- eh ternyata Pak Mulyo, bikin khawatir saja bapak ini.. " Anaya cemberut sekaligus kesal.


"Kenapa nak Anaya berfikir saya itu hantu, apa salah jika saya ngopi dulu sebentar~" Mulyo menatap ramah tapi batinnya merasa kesal. 'Anak ini!! Dia kira aku hantu apa wajahku begitu miripnya ya sampai disamakan!! Tapi kenapa anak sekecil ini bisa berfikir seperti itu ya?'


Anaya menunduk, "Maaf Pak Mulyo, aku sudah berprasangka tadi, tapi aku akan tetap waspada seperti tadi jika cuaca seperti ini terjadi. Dia akan tetap mengintaiku dimanapun pak jadi aku tidak bisa lengah."


"Dia siapa nak?"


"Dia itu 'Siluman' Pak. Apa bapak mendengar tentang rumor aneh di warung kopi tadi?"


Mulyo berfikir sejenak dan mengingat ingat kejadian saat di warung tadi.


"Pak, saya lihat tadi anda berhenti di rumah itu ya apa tidak takut?" Tanya orang yang bertugas di warung tersebut.


"Takut, apa maksudnya?"


"Rumah itu kan terkutuk! 3 bulan lalu di halaman rumah sana ditemukan dua mayat yang merupakan pembantu di rumahnya, pemilik rumahnya juga sudah meninggal gara gara kutukan. Mungkin anak itu adalah iblis, haduh saya khawatir meski pindah kemana kalau gak jualan saya rugi.. Ini semua karena anak terkutuk itu datang ke kota ini!!"


"Saya tetap tidak mengerti tentang penjelasan ibu."


"Gini lho ya pak, keluarga yang tinggal di rumah mewah itu dulunya miskin dan setelah 3 tahun mereka tiba tiba kaya, musti itu mereka pake sesembahan apalah atau bersekutu sama iblis makannya berakhir jadi tumbal!" Celetuk pelayan itu.


"Duh bapaknya dibilangin juga, masih aja gak percaya. Awas aja kalau ada korban lagi orang orang disini akan bertindak tegas sama itu bocah!!" seru pemilik warung itu dengan wajah seriusnya.


Mendengar hal tersebut disampaikan membuat pria usia tiga puluh itu mempercepat kegiatannya makan dan minum, ia memilih membungkus sisa makanan dan kopinya untuk diminum dalam mobil, karena tidak tahan mendengar gosip. Ia adalah pria pembenci berita gosip. Jadi ia tidak mungkin mempercayainya, Ingatan mulyo kini pulih seutuhnya "Ooh jadi begitu, apa gosip itu benar? Apa kamu anak terkutuk."


Anaya terkejut dengan pertanyaan itu, "Tentu saja bukan. Aku bukan anak terkutuk! Pak mulyo ini pasti mempercayainya kan!" Seru Anaya marah.


Mulyo menggeleng kencang, "Saya tidak percaya nak tapi hanya memastikan, lagi pula saya membenci gosip. Jadi bagaimana cerita yang sebenarnya?" Tanya Mulyo halus.


Anaya menatap mulyo seperti menatap Ayahnya sendiri, tatapan mulyo persis seperti tatapan Hermawan yang selalu menyayanginya selama ini.


"Semuanya berawal dari kepindahan keluargaku ke kota ini, waktu itu usiaku masih lima tahun.." Anaya bercerita tentang dirinya yang selama ini hidup sebagai masyarakat biasa di kota bansar, hanya tinggal di rumah kecil yang hanya menyewa. Tempat asalnya adalah kota soro disanalah Anaya lahir dan besar hingga usianya lima tahun.


"Lalu kecelakaan itu menimpa keluarga kami, aku tidak tau mengapa jadi seperti itu.. Akupun bingung. Sebulan setelah kejadian kecelakaan itu menyusul kedua pembantu di rumahku,.. Mereka ku anggap sebagai keluarga keduaku, Bibi Marni kemudian menyalahkannku atas apa yang terjadi.. Dan gosip itu bermula dari kertas ancaman. Ini aku masih menyimpannya.. " Anaya memperlihatkan kertas yang bertuliskan ancaman tersebut pada Mulyo.


Mulyo gemetaran menerimanya. Setelah digenggamnya kertas itu bau busuk menyeruak dari kertasnya, aura hitam pekat menyelimuti di sekitar kertas itu.


Hal itu membuat Mulyo terkejut hingga menjatuhkan kertas ancaman itu dari tangannya.


"Apa yang terjadi pak,"


Mulyo terengah engah setelah menjatuhkan kertas berdarah itu, "Nak kau dalam bahaya.. Aura kertas ini saja sudah sangat mengerikan apalagi seseorang yang menulisnya untukmu.. Saya tak tau apa itu tapi, dia kuat sekali.."


"Aku tau iti paman, aku sudah bertemu dengannya jadi aku paham betul, jika paman bertemu dengannya jangan pernah menjawab pertanyaan atau menyebutkan pernah mengenalku ya paman. Karena dia menginginkan nyawaku, seharusnya Janson dan kak Aliza tidak kesini dan berencana menginap di rumahku. Selama disini paman harus berhati hati ya." Anaya berseru sambil dilihatbya wajah Mulyo yang masih sedikit pucat. Ia memang bisa merasakan benda benda yang beraura, tapi ia bukan seorang indigo.


"Hng.. Ada apa ini ribut ribut.. Kalian berisik sekali Anaya, Pak Mulyo tidak bisakah mengecilka suaranya?" Suara itu jelas sekali milik Janson yang terbangun akibat percakapanku dengan paman Mulyo. Janson mengucek matanya sembari menguap lebar, kepalanya masih belum seimbang dan matanya masih terkatup katup karena kantuk yang tersisa.


...*****...


Genangan genangan air terlihat di sepanjang jalan, hujan kini telah reda menyisakan genangan air dimana mana dan embun di setiap tempat.


Matahari kini hampir menuju jam sore, langitpun kini berwarna biru tua bercampur ungu.


Anaya telah turun dari dalam mobil dan melangkah turun, sedangkan Aliza dan Janson masih ada di dalam, mereka sedang makan nasi bungkus yang dipesan di warung yang tak jauh dari rumahku.


Aku beranjak ke arah gembok gerbang rumahku lantas mengeluarkan satu set kunci rumahku lalu memasukan dalam lubang gemboknya.


"Nah sekarang sudah terbuka, " Anaya sempurna mendorong gerbangnya di tepi tembok.


Mobil Mulyo bergerak lagi dan kini terparkir di dalam rumah Anaya, mobil itu berhenti di pelatarannya.


Anaya melangkah melewati kebunnya yang terlihat berantakan dan penuh dedaunan kering dari pohon di tamannya, bunga bunga tak ada yang bisa bertahan karena cuacanya buruk di bulan sebelumnya. Halamannya kotor dan berdebu, ia hanya punya sedikit waktu untuk bisa membereskannya.


Mulyo membuka pintu mobil dan melihat rumah Anaya yang sangat berantakan di setiap sisinya. Dari mulai cat rumah yang luntur, retakkan di dindingnya. Dan beberapa kaca yang retak di lantai 2 dan 3 rumahnya, selain halamannya yang hancur.