TO THE DEAD

TO THE DEAD
Berkemas



Anaya sudah pulih dari kondisinya yang tadinya memburuk, beberapa hari dia telah dirawat di rumah sakit lalu dipindahkan ke rumah janson, lagi lagi ia merasa tidak enak karena terus menerus menyusahkan keluarga Janson padahal Janson juga tak merasa telah direpotkan. Hanya galih yang berfikir mereka merepotkan.


Sejak tau bahwa Anaya memiliki kakak siluman, semua orang termasuk Galih dan Fariz membiarkan Anaya pergi dengan Janson, Galih bahkan dengan segera mengantarkan mereka kembali ke kompleks perumahan Anaya.


"Janson ingat jangan bilang kita mau ke rumah nenekku," Anaya sempat berbisik di anak tangga.


"Iya aku tau.." Janson balas berbisik.


Galih semakin waspada pada mereka dan tindak taduk kedua bocah ini, aliza yang tampak tak bangun dari tidur saja merasakan hal yang sama, kini suasana senda gurau berkurang dan tak ada lagi pertengkaran antara Aliza vs Janson.


...*****...


Entah suasananya yang sepi, atau perasaan Galih yang tak tenang. Ia merasakan kompleks itu semakin sepi setelah tiga hari tak kesini, pintu gerbangpun masih terkunci dari dalam.


"Anaya apakah kau tak membawa kunci?" Janson bertanya padanya.


Anaya menggeleng, "Tiga hari lalu aku kehilangan kunci rumahku sendiri, dan aku tak tau bagaimana membukanya."


Kedua bocah itu masih berbicara di dekat gerbang. Sedangkan Galih tengah memperhatikan sesuatu di balik semak, seseorang tampak sedang mengintai mereka. Galih langsung melangkah mendekati semak semak yang ada di seberang jalan mencoba mengetahui siapa yang memata matai mereka.


"Lalu bagaimana caranya kita masuk?"


"Eh eh.."


Gembok itu diselimuti cahaya terang tipis dan terbuka dengan sendirinya, janson tak tau ia akan melihat sihir sedekat itu saat ini, ini lebih keren dibanding melihatnya di film.


Galih telah sampai di semak semak dan hanya menemukan satu jepit rambut di sana, berwarna hitam jadi ia menyimpannya dalam jaket. Galih sadar ia dikelabuhi dan bergegas kembali ke mobilnya yang bewarna merah mengkilap.


"Gawat bagaimana bisa aku teralihkan," Galih berhenti karena Anaya dan Janson kini telah masuk ke dalam rumah, karena gerbang itu sempurna terbuka sejak tadi.


Galih segera menyusul masuk dan melewati taman kecil yang tak terurus.


Anaya menarik tuas yang ada di balik tangga dan melangkah masuk ke dalam sebuah tangga yang menurun, terlihat seperti gua bawah tanah namun dengan dinding besi tebal.


"Wow, ini tak pernah kulihat Anaya.. Dari mana kau tau ini. Oh pasti dari kakakmu kan?"


Anaya mengangguk menanggapi rasa penasaran Janson, ia beranjak menarik tuas yang menutup ruangan bawah tanah dan pintu besi dengan sempurna tertutup dan terkamuflase dengan baik.


Dinding dinding itu memancarkan cahaya acak di besinya lalu mereka mengikuti cahaya itu, tangga berhenti di pintu yang ada sensornya. Anaya mendekat dan menatap sensornya tanpa berkedip. Pintu selanjutnya telah terbuka dan disana Janson terdiam.


Xin, kakak kandung Anaya yang tingginya mencapai 170 cm, dan sudah berumur dua puluh tahun kini menatap keduanya yang melangkah dari atas anak tangga besi. Xin hanya menoleh ke arah mereka selintas lantas fokus kembali menatap peta peta yang ada di daerah kota soro tempat tinggal neneknya Laras, di sisi lain juga membentang luas perairan pantai di balik lereng lereng gunung kota soro. Kebetulan Rumah Laras berada tak jauh dengan tepi pantai dan jauh dari pemukiman warga. Sulit menempuh perjalanan yang melewati rumah Laras namun Xin tak punya pilihan lain selain itu.


Jarak kota bansar saat ini ke daerah itu sejauh 258 kilometer.


Janson dan Anaya berbicara sejenak setelah melihat sapaan Xin yang dingin.


"Aku merasa kakakmu tak menganggapku disini, apakah ini akan terasa canggung."


"Memangnya aku tak canggung saat mengobrol dengannya, ayo masuk!"


Xin melirik di ujung matanya, ia menatap lagi ke arah peta. Kedua bocah itu kini berada tak jauh dari meja tempat peta itu di letakkan.


"Nak Janson dan Naya ingin camilan apa?" Xin menanyai mereka.


"Kue dan jus saja kak."


Xin mengangguk dan menggerakkan sebuah kulkas yang terletak di ruang sebelah, camilan yang terlihat seperti bentuk camilan dan tanpa ada sihir seperti memanipulasi fikiran atau penglihatan, itu benar benar makanan sungguhan. Kursi dan meja tampak terbuat dari kayu yang bercampur besi, kulkas itupun tampak baru dan terawat.


"Aku selalu membeli bahan pokok setiap minggu di rumah, setelah Ayah dan Ibuku tak sering mengunjungiku, aku yang membuat semua makanan itu disini, aku punya dapurnya di pojok ruang sana. Lengkap ada pemanggang dan peralatan lainnya, bahan bahannyapun tak terbatas ada di gudang. Bahan mentah semuanya namun itu tak masalah ada kompor di sini. Silakan dimakan camilannya. Lalu kita berkemas dan berangkat."


Anaya yang memperhatikan Kakaknya berbicara secara langsung terasa berbeda dari biasanya, senyuman itu sedikit mengerikan. "Apakah kita akan bertemu nenek Kak?" Anaya refleks bertanya tentang pertanyaan yang diulang beberapa hari lalu.


"Naya apa kau gugup?"


Anaya merasa aneh ketika dipanggil begitu, "Jangan panggil dengan nama itu, Anaya tak suka."


"Mengapa? Bukankah kau sering disebut begitu oleh teman teman di sekolahmu? Kau kelihatannya lebih bahagia saat itu."


Janson merasakan aura di sekitar ruangan mengalami tekanan, dadanya sedikit sesak dan udara terasa tipis. Meski Anaya juga merasakan hal yang sama tapi ia berusaha abai, sampai pada kalimat berikutnya yang terucap bukan kalimat mereka.


"Janson!! Anaya!! Kemana kedua anak itu?"


Galih yang mengikuti mereka kehilangan jejak di anak tangga lantai tiga, suara galih terdengar dari bawah tanah melalui pengeras suara dari lorong pipa seperti saluran Air, ternyata Xin sudah tau kala mereka dikejar siluman bernama Wayana. Namun entah kenapa Xin hanya diam dan tak menolongnya, ia fikir yang menolong justru hal lain. Karena waktu itu Anaya hanya memikirkan Amelia.


Galih memutari setiap sisi yang ada di rumah Anaya, hingga ia kelelahan dan duduk di balik tangga tempay Janson dan Anaya masuk dari sana. Ia bersender di dinding tangga, lantas sikunya menekan satu tombol yang terkamuflase di dindingnya. Sekejap Galih terperosok menuju lubang tangga.


Suara bising yang disebabkan Galih yang sedang terjatuh dari anak tangga besi membuat Xin, Anaya dan Janson menoleh ke arah pintu.


"Manusia itu sepertinya sudah masuk ke dalam lorong sana. Aku mendengar suaranya." Xin berseru kepada kedua bocah bocah itu. Anaya menatap Janson yang tengah bingung dengan kalimat Xin.


Anaya tak tau dengan maksud dari kalimat kakaknya namun ia segera mengerti kala seruan teriakan selanjutnya yang datang dari arah pintu besi yang sekarang mengeluarkan suara gebrakan keras.


"Dasar sial!! Tenrnyata kalian di dalam sana, bocah bocah buka pintu ini, gelap sekali. Kakak punya kewajiban menjaga kalian ya, jadi jangan main main!!" Galih berteriak seraya menggebrak gebrak pintu besi itu dengan amarahnya karena berjam jam merasa dipermainkan oleh Janson dan Anaya.


Anaya jelas mendengar suara teriakan itu dari luar pintu, ia hendak melangkahkan kakinya ke arah pojok ruangan rapi Janson lebih dulu berlari dan membuka tuas di sisi pintunya.


Pintu besi di sana segera bergeser dan terbuka, belum sempat Janson menjelaskan maksud kelakuannya meninggalkan Galih, tangan galih sempurna telah menjitak kepala Janson.


"Aduhh.." Janson merintih karena jitakkan Galih cukup keras.


"Kakak!!"


"Dasar bocah nakal, kau mau membuatku mati cemas hah!! Tiba tiba menghilang dari rumah, ternyata kau ada di ruangan seperti ini ya!! Kau-"


"Maaf kak, ini salahku." Anaya lebih dulu mendekat pada Galih untuk meminta maaf.


"Salahmu, oh ya kalian menghilang berdua, apa alasan kalian hilang dan tidak memberitahuku?" Galih bertanya, ia akan siap siap menjitak kepala Anaya jika ia menjawab tak serius.


"Kakak menyuruhku kemari dan tidak bilang pada siapapun. Kami mau menyelidiki masalah keluarga kami kak. Maaf kalau kak Galih cemas." Jelas Anaya singkat.


Galih tak mampu berkata apapun lagi karena Anaya menyebutkan 'Masalah keluarganya', sedetik kemudian Galih menghembuskan nafas perlahan.