TO THE DEAD

TO THE DEAD
Kezi kembali ke istana



Seorang pangeran Siluman yang terhormat di mata kerajaan tentunya tidak boleh sampai ketahuan menyelinap keluar diam diam. Dari turun temurun tidak ada sejarah pangeran kerajaan Hirina yang menyelinap diam diam keluar tanpa sepengetahuan Raja.


Hal itu tentu akan membuat aib di mata masyarakat sekitar kerajaan dan akan membatalkan acara pertunangan antar dua kerajaan yang sudah lama terjalin hubungan baik, kerajaan Hirina dan kerajaan Rahyana. Kedua kerajaan tersebut hanya dipisahkan oleh sungai besar. Sungai besar yang menjadi pemisah itu dikenal dengan sebutan "Sungai Abadi." Nama itu berasal dari legenda lama.


"BAHWASANYA SAAT SEMUA NEGRI DI DUA KERAJAAN KOSONG, LAHIRLAH SESUATU YANG ABADI. MENCIPTAKAN SUATU TITIK AWAL DIMANA DUNIA SILUMAN BERKEMBANG UNTUK PERTAMA KALINYA. TERUS - MENERUS MENGALIR BAGAI SUNGAI ABADI,.."


Itu merupakan kutipan terakhir dari sebuah buku sejarah paling kuno dan tua milik dua kerajaan sekaligus.


#####


...." Wayana Aku tidak mengerti apa itu SUNGAI ABADI, apa kau bisa menjelaskannya secara rinci padaku?" Amelia memotong cerita Wayana saat itu juga.


Ia benar benar tidak mengerti tentang Laras, bagaimana mungkin dia masih muda sekarang? Sedangkan di cerita Wayana tadi Laras muda saat peperangan belanda bukan? Tidak masuk akal di fikiran Amelia.


"Meli, meli, kenapa kau memotong ceritaku jika masih penasaran dengan kelanjutannya. Kau merusak semangatku dalam bercerita. Ah sudahlah, uhuk." Wayana mengeluarkan darah hitam banyak ke bajunya.


Amelia sungguh cemas dan nampak ketakutan, ia harus segera membawa Wayana agar bisa diobati.


Semilir angin menyelimuti keduanya, dedaunan kering yang berwarna kecoklatan berimbun menutupi mereka berdua. Dalam sekejap angin perlahan mengecil dan hilang. Merekapun ikut menghilang tanpa bekas.


****


Amelia melayangkan tubuh Wayana yang lemah di atas batu lurus di tepi air terjun yang sejuk di sore hari.


Dengan seluruh tenaga yang Amelia miliki dan beberapa obat herbal yang telah ia kumpulkan, Wayana mengalami luka yang cukup serius di bagian dada dan perutnya.


Seluruh tubuhnya mengalami lebam biru. Sekuat apapun Wayana ia tetap tidak bisa bertahan lama dari para pasukan dan Seorang Wanita yang menyerangnya tanpa alasan beberapa saat barusan. Terlebih lagi mereka itu jelas Siluman dengan tingkat kekuatan yang tiada tara. Amelia hanya bisa mengalihkan perhatiannya saja, tidak bisa menyerang karena perbedaan kekuatan yang terlalu menonjol.


Wayana dibaringkan di bebatuan dan Amelia mulai bergerak mengobati. Angin kembali berkumpul berputar putar di sekitar Amelia, awalnya hanya desau kecil beberapa menit berlangsung angin kecil itu membesar dan menghembus pada apapun yang ia lewati, pohon pohon bergoyang dedaunan beterbangan jauh bahkan hewan hewan mulai menjauh serangga hanya terdiam tak bersuara. Luka Wayana perlahan lahan mulai tertutup dengan sendirinya.


Amelia menggunakan kemampuanya dalam mengobati sel sel, merajut sel dalam dan membuat sel itu melakukan penyembuhan. Tapi Amelia harus menemukan obat dasarnya terlebih dahulu di hutan. Ia mempelajarinya dari buku tua, jadi bisa dibilang ia baru pemula.


Angin kencang tadi membuat suasana hening beberapa jam kedepan, setelah waktu yang merangkak beberapa lama Amelia menghentikan tekniknya.


Wayana sekarang tidak lagi terluka, seluruh lukanya telah disembuhkan. Hanya menyisakan beberapa lebam kecil di pipi dan leher.


Perlahan lahan mata Wayana yang tadi tertutup perlahan terbuka.


Amelia mendekat padanya wajah sendunya kini telah berubah menjadi bahagia.


"Oh, syukurlah kau bisa sadar Wayana." Amelia mendekat. Akan tetapi raut wajah Wayana sama sekali tidak senang dengan itu.


"Ada apa?" Amelia berhenti tersenyum.


"Kau, kenapa menyelamatkanku, padahalkan aku ini musuhmu. Harusnya kau senang jika aku musnah bukan?" Wayana tersenyum di sebelah bibir.


"Kenapa aku harus mengabaikanmu, sedangkan kau tadi memberikan Info yang sangat berguna untukku. Ceritakan saja secara singkat padaku, apa yang sedang terjadi Wayana? Kenapa kau dan Rekanmu bermaksud menghancurkan kota bansar?" Tanya Amelia lagi setelah tau ada dua kerajaan yang berkuasa di kota Bansar dan kota Soro. Kota Bansar dikuasai kerajaan Hirina san sedangkan Kota Soro (?) masih menjadi misteri.


"Aku tidak tau nama kerajaannya Meli, yang tau nama kerajaan itu hanyalah Rekanku. Mayana, dia sekarang kan - kau tau sendiri Meli." Raut Wayana kembali tersirat kesedihan.


"Maaf harus merujuk ke sana lagi, kau hanya sebutkan tujuanmu saja-" Meli mendesak.


"Kau ini Anak yang sangat serba ingin tau ya. Baiklah -, Meli sebenarnya aku tidak memiliki tujuan pribadi mengusik dunia manusia. Itu hanyalah sebuah Misi untukku, sebuah Perintah, Maka aku tak punya pilihan untuk mengambilnya. Aku dulu adalah panglima yang dikeluarkan oleh kerajaan, nama baikku rusak. Maka Seorang itu menawarkan sebuah penawaran yang membuatku lupa siapa dirinya. Aku dan Mayana terjerumus dan berakhir seperti ini." Wayana menjelaskan secara singkat pada Meli.


"Jadi, kau tidak bermaksud jahat padaku?" Tanya Amelia. Wayana menggeleng tegas.


"Aku tau itu," Wayana bergumam.


"Lantas," Amelia berdiri dari batu tempat ia terduduk, dibalik air terjun yang turun ke bawah dan turun berdebam di kejauhan. Wayana hanya bisa terdiam.


"Kenapa kau lakukan itu jika tidak mau, kau bisa menolaknya bukan?" Amelia merasakan ada secercah kecewa pada Wayana. setelah ia mencoba membuat Wayana sadar selama ini.


"Aku tak punya pilihan lain Meli, Mayana dan keluarganya akan berada dalam masalah jika aku menolak, dia berbeda dari diriku yang kemana mana selalu sendirian. Mayana punya keluarga di dunia siluman, mereka mengancam akan menghabisi keluarganya, sehungga..


...------------...


'Wayana kumohon padamu, Ayah dan Ibuku akan berada dalam masalah kalau kau menolak bersekutu, kumohon..'


'Mayana, mereka itu bahkan lebih keji dari itu. Aku tidak ingin berurusan dengan ambisi orang itu. Apapun Harganya!'


'Tapi, kau harus menolongku..''


'Tapi..'


'Lihat Wayana, mereka akan dihabisi di sana, mereka akan menghabisi orangtuaku.. Hiks..'


'Ukhhh.. BAIKLAH.. AKU AKAN MELAKUKANNYA. HENTIKAN ITU!!'


'Wayana.. Maaf,.. Huhuu'


...-------------...


"... Kau bisa menebaknya Meli,"


Amelia tertegun sesaat. "Apakah Ratu itu? Siapa namanya!"


"Ratu Shayana. Ibu dari Putri Shi ya, kerajaan yang membantu Anaya saat melawanku, dan Yu jian Adik tiri Shi ya. Aku jelas tau pangeran itu tidak bersalah, tapi entah mengapa aku membencinya." Wayana berujar.


"Lantas kenapa kau mengincar Anaya, Gadis kecil itu lebih tidak tau apa apa kan!" Seru Meli.


"Ya, kau benar Meli, tapi juga salah -" Wayana menjawab.


"Eh, kenapa?" Amelia terkejut.


"Aku merasakan aura Anak itu berbeda dari auramu dulu, aura Anaya yang seperti manusia namun ada sesuatu yang misterius di dalamnya, menelisik dari Ibunya Linda yang kebetulan lahir bertepatan saat aku menyelesaikan misi terakhir Maka - " Wayana kembali bercerita.


"Apa Misi itu?" Amelia bertanya.


"Melenyapkan Laras dan keturunannya. Tapi karena aku terkurung. Mayana yang melakukannya untukku."


Amelia duduk kembali. "Tunggu dulu! Jadi dia dan Pangeran itu, lantas bagaimana mungkin. Ini masuk akal.. Tapi pertanyaan besarnya adalah.. Dimana keturunan Putra mahkota itu sekarang, Laras juga sekarang hilang setelah aku gagal dimanfaatkan. Aku gagal mengoleskan lendir itu. Setelah itu juga tidak ada yang tau seperti apa rupa Anak itu. Dan bagaimama dengan Putra mahkota Kezi?" Amelia kembali melontarkan pertanyaan.


"Entahlah, yang tau hanyalah Ibu tirinya, Shayana. Bukan aku," Wayana beranjak berdiri dan meninggalkan Amelia.


"Kau mau kemana?"


"Aku akan pergi ke selatan Meli, menyepi. Dan trima kasih untuk apa yang kau lakukan. Lipakan saja ceritaku itu tentang Laras dan Pangeran. Kalau ada yang penasaran, biarlah waktu yang menjawab. Saranku tetaplah lindungi Anaya, dia mungkin membutuhkanmu di sisinya. Tidak akan mudah bagi kalian menghadapi lawan selanjutnya. Hati hati." Wayana perlahan menghilang di terpa angin, sosok hitamnya perlahan memudar.