
Angin kencang yang dari arah barat berhembus kencang menelusuri sampai arah lurus menuju arah timur, hanya dalam hitungan detik saja angin kencang itu tiba menerpa Janson dari arah belakang, belaian belaiannya layaknya sebuah sentuhan ketika melewati kulit.
'Janson..' Angin itupun seolah olah membawa suara bersamanya, Janson yang hanya selangkah lagi memasuki rumah itupun mendadak menoleh ke arah belakang, menatap jalanan bebetuan kerikil yang menuju padang ilalang di tepi sungai.
'Apa yang barusan aku dengar, apakah tadi hanya perasaanku... Uhhh dadaku terasa bergetar, aku seolah merasa was was, ada apa denganmu Anaya.' Janson termenung disana sambil terus menatap ilalang di tepi sungai.
******
Dian yang sedang melamun menatap halaman belakang menjadi agak bosan, ia hendak keluar mencari yang lain, Dian melewati ruang dapur dan terus lurus.
Ketika kakinya melewati beberapa kamar ia samar samar mendengar pembicaraan.
"Heng, kita harus segera mengembalikan Anak Anak itu ke Kota Bansar, kalau tidak bisa sangat berbahaya, kau tau kan hutan ini untuk warga desa ini saja berbahaya apalagi untuk Anak Anak kecil itu, setiap hari selalu ada perkara di desa ini. Aku tak ingin mereka juga mengalaminya." Seorang Wanita tua berambut pendek dengan dahi yang terikat kain merah berujar, Wanita tua yang disebelahnya berambut panjang juga mengangguk setuju.
"Aku tau Rey, tapi tidak mudah bukan melewati bagian itu.. Kau tidak ingat ya?" Heng, Pria tua yang seluruh rambutnya hampir memutih dengan ikat kepala warna kuning berujar.
"Kalian tau, mereka punya kuda yang kuat, aku jamin kita bisa melewatinya." Kali ini Quen yang berkata demikian. Menyela pembicaraan sejenak.
Rey dan Heng menoleh padanya. Saran Quen bagus untuk dicoba.
Krieet.
"Eh,.."
Ketiganya menoleh mendengar suara yang berasal dari arah pintu masuk, Dian tersungkur ke lantai akibat terpeleset oleh papan kayu yang basah di lantai. Ia tidak tau akan berakhir ketahuan menguping pembicaraan.
"Hei, nak apa yang kau lakukan di sini?" Dian yang sudah kepalang tanggung karena ketahuan mengupingpun beranjak duduk di lantai, kalimatnya gagap.
"Ak- aku hanya -"
Heng tersenyum melihat tingkah Anak Gadis itu, ia maju ke arah Quen yang berada di samping Anak itu.
Tangannya terjulur mengelus kepala Dian dengan gerakan yang lembut, "nak, tidak baik kau menguping pembicaraan begitu, kalau ingin masuk dan perlu sesuatu maka masuk saja, kami tidak akan keberatan atau mengabaikan dirimu dan kedua temanmu itu, kami tau betapa berat kehilangan keluarga, jangan terlalu larut dalam kesedihanmu ya. Jadilah Anak yang tegar." Heng memberikan Nasehatnya pada Dian, samar samar Quen memperhatikan raut wajah sahabatnya itu, bibirnya menyunggingkan senyum.
Heng yang telah selesai memberikan nasehat mendadak menoleh pada Quen, "Kenapa Quen?"
Quen mendadak terkejut dengan gerakan Heng yang menoleh tiba tiba begitu, "tidak ada,"
"Enak saja, kau yang salah melihat!" Quen segera melangkah keluar dari ruang rapat pembicaraan.
"Kau mau kemana? Pembicaraan belum selesai." Rey berseru mennahan langkah kaki Quen yang hendak menuju bingkai pintu.
"Aku hanya ingin mencari udara segar di luar sana Rey, aku akan kembali lagi kesini nanti. Aku pergi dulu," Quen bergerak meneruskan langkahnya, dibawah tatapan heran Dian, dan tawaan kecil dari Heng juga hembusan nafas dari Rey.
Pipi Quen agak hangat karena kerahuan mencuri pandangan pada Heng barusan, 'Uuuukkhh seharusnya tadi aku tidak melakukannya, malunya aku.' Quen terduduk di kursi kamarnya.
******
"Putri akhirnya mulai menunjukkan jati diri Putri yang sebenarnya di hadapan hamba ini, saya akan berusaha lebih keras lagi kali ini untuk memulihkan ingatan tuan Putri." Wanita tua itu terus berceloteh dengan kalimat yang aneh dan membingungkan.
Anaya tambah marah dan tidak bisa mengendalikan emosinya, ia kembali maju mengirimkan gumpalan bola api pada Wanita berbaju tiga warna tersebut, Anaya menyerang ke aras samping namun Wanita tua itu tangkas menghindar.
Tubuhnya meliuk bagai sebuah kapas yang ringan bergerak kemanapun angin berhembus, membuat serangan Anaya hanya bagaikan angin lalu, tidak bisa melukainya.
Wanita tua itu sekarang menggerakan kedua telapak tangannya ke samping bawah, keluar dari sana energi tak kasat mata seperti angin tipis yang terhembus namun ujungnya setajam pedang.
Serangan itu terarah pada Anaya, Gadis itu segera menunduk tiarap lalu berguling menghindarinya, beberapa bajunya tergores akibat terkena ujung serangan.
Anaya meringis menahan sakit di lengannya yang terlihat tergores hingga mengeluarkan darah.
Wanita itu belum selesai mengirimkan serangan pertamanya, ia bersiap dengan kedua tangannya kali ini, mata Anaya segera menatap waspada ke arah atas, ia harus mendongak karena posisi mereka bertarung adalah seperti jalan yang menurun.
Wanita tua itu bersiap dengan serangannya, kali ini ia menggerakan kedua tangannya membentuk huruf X, dari dua arah Anaya tidak bisa lari ke samping atau ke bawah ia harus meloncat dari kisaran 4- 5 meter ke atas.
Serangan itu melesat cepat ke arahnya, Anaya bersiap dengan posisinya lalu melenting ke atas.
'Hei, aku hanya berniat meloncat 4-5 meter saja, bukannya terbang!' Anaya tercengang dalam batinnya seolah tidak percaya.
"Hahaha.. Putri, Tuan Putri memang bisa melakukan itu, apakah Tuan putri melupakan itu juga?" Wanita tua itu berceloteh kembali.
"Diammm! Tutup mulutmu!" Anaya berseru jengkel.
"Nah, ini tingkah Tuan Putri Qiunaya yang tidak dapat hamba lupakan, cengeng dan cempreng." Nada Wanita Tua ini sedikit berubah menjadi lembut.