
Saat pemuda itu tengah menyisir rambut di dalam mobil terdengar suara aneh dari luar mobil Yohanya, membuat Galih menoleh karena bingung dengan suara barusan.
Betapa tidak bingung. Ini adalah hutan dan pepohonan lebat. Siapa yang akan meletuskan balon seperti itu memangnya disini ada pesta ulang tahun? Begitu fikirnya.
"Hei, manusia."
Sosok itu tiba tiba muncul dan membuat Galih yang baru keluar dari dalam mobil tersentak kebelakang lalu terjengkang, dia merintih di atas trotoar karena luka gores kecil.
"Adu duh.. "
Galih tak langsung bangun setelah terjatuh, justru ia terlihat kesal.
"Hei Xin, kalau mau muncul bilang bilang gak usah ngagetin tau!!" Wajah Galih yang kesal dan mengomel tidak terarah ke depan menatap Yui, melainkan menatap tangannya yang tergores oleh jalanan trotoar itu.
"Sakit tau, ini kan trotoarnya panas. Mana udah mandi lagi.. Kalau kau mengotorkan pakaianku lalu aku disuruh mandi lagi, begitu? Seenaknya saja menyuruhku. Walau kau siluman tau batas lah Xin!!" Galih masih mengomel ke arah depannya, wajah Yui yang menatap Galih heran sambil di penuhi tanda tanya.
Percakapan ini aneh karena menurut Yui, Galih hanya berbicara ngelantur padanya saat ini. Mana Galih tidak tau pula sedang berbicara dengan siluman asing dan bukan orang yang namanya di sebut tadi.
"Xin siapa, siluman? Kau bisa melihatku?" Yui menatap Galih bingung, baru kali ini ada manusia yang mengomelinya separah ini. Yang terlebih lagi ini kali pertama bagi Yui berbicara dengan manusia, sudah kena omelannya.
"Bukankah kau- Eh, kau siapa?" Galih yang tertegun setelah ditanya dengan aneh begitu, sedari tadi Galih tidak menyadarinya dan asyik dengan emosinya sampai ia
melupakan suatu hal yaitu suara Xin tak mungkin selembut ini. Untuk memastikannya Galih mendongak ke atasnya dan wajah putih dengan mata kemilau merah muda yang indah menyambutnya.
"AAAAA.."
Burung burung kecil seketika bergerak menjauh karena teriakan yang ditimbulkan oleh suara Galih yang kencang dan berdengung dengung.
'Siapa dia? Wajahnya mengerikan dengan bedak tebal itu. Tapi ia berpakaian rapih. Dan kenapa dengan adikku itu! Apakah ia baru saja dibuat pingsan oleh siluman ini? Astaga! Sebenarnya apa yang terjadi dengan situasi ini aku sama sekali tak ingin terlibat lebih jauh lagi dalam urusan Siluman namun Janson tak mau meninggalkan bocah kecil ini, jadi aku terpaksa, apa boleh buat.' Benaknya.
Galih kini terlentang dengan keadaan tangannya dibalik punggung, sedangkan Yui sudah menunduk hingga ada sekitar lima senti di wajah Galih, sinar matahari ditutupi oleh kepala Yui saat ini yang masih memandang Galih dengan tatapannya.
"Menjauh dariku!" Celetuk Galih.
Yui yang dengan tatapan penasarannya kini melepaskan ekspesi penasarannya setelah mendengar celetukan penuh rasa kesal itu. Ia berbalik dan meletakkan Anaya dan Janson yang masih mengambang di udara di sisi sisi pohon dibawah bebatuan kerilil kecil.
Tatapan mata Yui menjadi datar dan tegas, sesekali hembusan angin panas menerpa helai helaian rambutnya yang panjang dibagian samping namun tak menyurutkan raut wajahnya agar terlihat seperti sebelumnya yang ramah.
"Kau harus tau manusia, tak banyak manusia yang bisa menembus pintu perbatasan milikku, namun adikmu dan anak yang satunya lagi itu malah menerobosnya secara tidak sadar, itu jelas suatu kesalahan. Jika aku adalah siluman jahat akan kuhabisi mereka saat pertama kali bertemu. Tapi karena sisi positifku aku memutuskan untuk mengembalikannya. Meski harus merusak jadwalku di dunia siluman sana, kau harusnya berterimakasih sudah kutolong, kalau kau mencari adikkmu dari sekarang, entah kapan kalian bisa bertemu lagi. Karena gerbang penghubung itu sekarang pasti sudah berpindah, dan jaraknya pasti puluhan kilometer dari sini, dan harus ditempuh dengan berjalan kaki." Tatapan Yui semakin lama semakin tajam, semenjak dari awal kalimatnya ia sudah mengerutkan alis menandakan ia mulai terbawa emosi.
Galih kali ini menatap ngeri padanya karena semakin marah Yui terlihat mengubah wajahnya, menjadi pucat kehitaman. Warna matanya yang merah merambat hingga kelopak mata.
"Aaahh.. Kakak. Ada apa sih berisik sekali, aku jadi bangun nih!!" Bukan Galih yang melontarkan kalimat itu, tetapi itu berasal dari mulut adiknya Janson.
"Dia memanggilmu kakak?" Yui menoleh sekilas ke belakang.
"Iya, apa ada masalah dengan itu. Kau datang datang langsung bertanya hal aneh padaku. Dia memang adikku namanya Janson bram." Jelas Galih pada Yui sambil ia mencoba berdiri dari keadaanya yang tadi terduduk karena didesak terus oleh pertanyaan dari Yui.
"Oh." Jawaban pelan nan singkat itu membuat kekesalan Galih memuncak lagi, ditambah lagi sekarang Yui malah memunggungi Galih dan berbalik menatap Anaya, tak peduli bahkan Galih sedang bergaya mencekiknya dari belakang karena menahan kekesalan.
"Ada apa ini? Kak apa yang terjadi, kenapa wanita ini mendekat ke Anaya dengan tatapan aneh, apa maunya?" Tanya Janson, ia bingung karena melihat situasi aneh yang melanda. Ditambah lagi ia heran mengapa bisa berada di mobil kakaknya bersender, bukankah mereka sedang ada di antara lebatnya hutan.
'Apa tadi itu bukan mimpi, ssshh.. Tanganku.' Batin Janson karena masih merasakan nyeri di tangannya.
"Hah, sem sembuh!" Janson tak bisa berkata apa apa lagi setelah melihat tangannya yang hanya terdapat luka gores kecil, dalam benaknya ia yakin kalau tangannya sudah mengucurkan banyak darah di dalam hutan dan entah bagaimana luka itu bisa sembuh dengan cepat.
Yui ingin menyentuh ujung kepala Anaya untuk mengetahui semua rahasia yang ada disana.
Belum sempat tangan Yui sempurna memegang Anaya, bocah itu sudah menghalanginya dengan merentangkan kedua tangannya dan menghalangi tangan Yui agar ridak menyentuh Anaya sama sekali.
"Mau apa dengan Anaya, aku takkan membiarkanmu!" Janson menghalangi Yui dengan tatapannya yang marah. Terlihat sekali nafasnya mendengus dengus tanda ia tak mau menyingkir untuk memberikan Yui jalan.
"Nak, bisakah kau minggir sebentar ada urusan yang harus aku selesaikan dengan segera, kalau tidak jadwalku bisa kacau nanti." Yui berusaha tersenyum dan membuat Janson tenang hingga memberikan Jalan kepada Yui.
Keras kepala, percuma Yui bercakap cakap dengan Janson karena ia tak akan melangkah meninggalkan Anaya yang masih terbaring pingsan sambil bersender di mobil yoha kakaknya, terlihat sangat tenang dan tak terganggu dengan percakapan mereka di jarak dekat. Menunggu berjam jampun takkan memberikan pengaruh apapun pada Janson, ia tak mudah dibujuk seperti anak anak lainnya.
Keberadaan Yui dimata Janson merupakan sebuah ancaman, apalagi wajah Yui tampak sangat mengerikan saat ini, wajar jika Janson tak mempercayainya. Karena sedari tadi wajahnya memang berubah menjadi seram untuk memperlihatkannya pada Galih kakaknya.
Yui tak bisa menyerang manusia kecil ini, bisa bisa reputasinya sebagai panglima terhormat di kerajaan siluman bisa tercemar menjadi buruk, di duania sana sekalipun penghuninya mempunyai aturan layaknya manusia, juga adat dan tatanan menjalani kehidupan.
Yui yang mengambang di atas ketinggian setengah meter dan dengan keadaan merunduk menegakkan tubuhnya dan menjauh dari Janson.
"Baiklah nak, kamu sepertinya tak akan menyerah untuk menghalangiku ya. Baik baik. Aku tak akan menyentuh gasis ini bagaimana? Tapi sebagai gantinya kau bisa kan tunjukkan ingatan tentang kakak Anaya ini." Yiu membujuk dengan kata katanya.
"Bisa, tapi aku mempunyai fotonya. Ada di dompet kakakku." Jawab Janson dengan cepat dan meyakinkan.
"Dompet kakakmu?" Yui menatap Janson heran.
"Iya, nama kakaknya Anaya adalah Keysha. Pacar kak Galih." Jawab Janson semvari bersedekap.
'Kalau itu benar berarti mereka berdua cuma kebetulan melintas ke dunia siluman, aku sudah membaca isi hati pemuda itu, kufikir ia tak akan membicarakan tentang sahabat pacarnya ini. Aku yakin bahwa nama yang tadi disebutkan bukan asal asalan tetapi petunjuk.' Benak Yui, namun ia tak menemukan wajah bernama Xin di sekitar sini dari ingatan Galih, karena Yui hanya melihat Xin dari ingatan mata Galih dan bukan fikiran Galih.
Terdiamnya Yui jiyan membuat Galih tergerak untuk berseru.
"Sebaiknya kau pergi, tak ada lagi yang perlu dicari bukan? Dan terimakasih telah mengantar adik saya. Ini sebagai tanda terima kasih saya membawakan makanan buatan manusia. Silakan di ambil dan pergilah." Ketus Galih tidak sabar dengan perlakuan Yui Jiyan padanya.
Karena tersinggung dan kehabisan waktu Yui memutuskan benar benar pergi dari sana.