TO THE DEAD

TO THE DEAD
Tentang Yu Jian dan kematian Mayana.



Debu debu beruap panas terus mengepul di sekitar pasukan tersebut, tidak hanya butir bitiran debu yang membuat nafas terasa sesak. Uap panas juga turut serta keluar. Kepul kepulan uap itu bukan dari serangan itu sendiri, melainkan saat ledakan terjadi, tanah yang tadinya rapat mulai terpecah pecah lantas dari tanah yang terpecah belah itu meluncur uap panas, panasnya tidak bisa di ukur.


Berbeda dengan kulit manusia biasa, kulit Siluman cenderung tahan terhadap uap panas, berbeda dengan Anaya dan Janson yang merupakan seorang manusia. Kulit manusia akan melepuh jika terkena uap panas bukan?


Maka dari itu Yu Jian bergegas melindungi mereka berdua dengan cara menurunkan suhu di sekitar mereka.


 


 


Walaupun Yu Jian merupakan Siluman ular namun ia bisa membuat angin dingin. Biasanya Siluman ular putih sepertinya jarang sekali yang bisa menguasai teknik PENYEJUK, hanya sekelompok ratu atau keturunan bangsawan saja yang bisa menguasainya. (Mayana dan Wayana Termasuk keturunan bangsawan ya 😄)


Dahulu sebelum ia dilantik sebagai Panglima oleh Ratu Shi ya, ia merupakan Siluman kalangan Bawah. Tetapi berkat kebaikan hatinya dan kerja kerasnya yang tulus pada (Putra Mahkota) Ia perlahan mulai naik jabatan. Banyak gelar yang pernah ia raih dari mulai : (Prajurit terbaik), (Ketua medan perang), (Bendahara kerajaan) dan yang terakhir adalah Panglima kerajaan.


Saat ia dilantik sebagai panglima kerajaan, Wayana muncul dan menyerang Yu Jian yang masih belum terbiasa dengan gelar barunya.


"BERANI BERANINYA SILUMAN RENDAHANSEPERTIMU INI MENGGESER POSISIKU DI ISTANA!!" Wayana adalah Panglima kerajaan sebelum gelarnya dicopot oleh Putra Mahkota.


"Ini bukan salahku, kau sendiri yang berhianat pada kerajaan seberang Wayana. Jadi jangan menyalahkanku!" Yu Jian yang tengah duduk sambil membaca buku tebal berisi peraturan istana itu tidak ingin meladeni kemarahan Wayana yang tidak berunsur. Dia punya kesibukan lain di istana.


"Hentikan kegiatanmu ini!" Wayana membanting meja tempat Yu Jian meletakan berbagai buku di sana, buku buku itu tidak hanya berisi peraturan kerajaan saja tapi setiap detil kegiatan di istana telah dicatat di setiap lembarnya. Karena Wayana telah mengganggu aktifitasnya sebagai seorang panglima, Yu Jian mendadak bangkit dari duduk.


"Tidak ada yang menyuruhmu menemuiku, dan tidak bisakah kau berhenti MENGUSIKKU. Aku akan mencoretmu sebagai bendahara istana, Aku takkan segan untuk melaporkan semua tindak tandukmu selama ini Wayana!" Yu Jian balas mengancamnya.


Hal itu membuat Wayana tertegun sejenak, Lantas kedua tangannya membuat benda benda di sekitaran melayang layang.


"Aku akan merebut posisi ini lagi darimu!!" Wayana membuat benda benda itu siap menghujam kepada Yu Jian yang masih beberapa minggu di lantik, Yu Jian tau Wayana bukan Siluman sembarangan.


Yu Jian menghindar setiap saat, kadang kekiri, kanan, atas dan bawah. Beberapa pisau bahkan tertancap di kedua bahunya.


Langkah berderap dari arah lorong menghentikan gerakan tangan Wayana yang hendak kembali menyerang Yu Jian.


Wayana menoleh. "Ingat ini, CEPAT ATAU LAMBAT. SEMUA ITU AKAN KEMBALI PADAKU! CAMKAN ITU!!" Bentak Wayana sebelum pergi meninggalkan Yu Jian.


 


 


Mayana kini telah selesai menyerang pasukan itu dengan ledakan panas dari energi yang berhasil ia keluarkan. Tentu saja dampak serangannya itu sangat berefek pada tubuhnya sendiri. Mayana mulai terkulai jatuh ketanah.


BRUKK


Tubuhnya telah lenyap karena di pindahkan oleh seseorang.


"Ahhh" Mayana mulai membuka matanya secara perlahan, dengan kondisi seperti itu mustahil bagi Siluman Mayana untuk pulih apalagi sembuh.


(Jikalau tenaga siluman sudah menipis dan hampir habis, maka siluman itu harus mengakhirinya. Jikalau di teruskan akan mengalami kelelahan sampai kematian untuk siluman itu sendiri.)


"Kenapa kau lakukan semua itu." Wayana yang telah memberikan sesuatu di bajunya sebelum ia di pindahkan secara paksa.


"Akuu, Aku melakukannya untukmu.." Mayana menghela nafas tipis tipis. Semua serangan tadi membuatnya merasakan rasa sakit yang luar biasa. Itu tidak bisa terucap.


"Menolongku?" Wayana tidak bisa mempercayai Mayana. Bagaimana bisa Wayana membiarkan Wanita itu korbankan dirinya.


"Aku akan mencoba mengobatimu. Setidaknya jangan pergi sekarang!" Wayana berbalik dan berusaha mencari beberapa ramuan tidak jauh dari Mayana.


Percuma, semua yang Wayana lakukan itu percuma karna racun dan efek pertempuran itu sangat fatal. Tapi Wayana tetap mencari di pinggiran hutan. Ia yakin ada di sana. Wayana terpaksa meninggalkan Mayana sejenak.


Mayana sudah kehilangan pendengarannya, sedangkan Wayana masih berusaha mencari. Kini Mayana telah kehilangan penglihatannya, Wayana akhirnya menemukan obatnya ia membawanya dengan gembira. Lalu menyusul denyut nadi hilang di dadanya.


"Aku sudah... MAYANA, TIDAKK!" Kosong. Wayana menatap kosong ke bawah. Mayana yang tadi ia baringkan di tanah kini hanya seonggok debu.


"Aku padahal belum mengucapkan kalimat terakhir padamu, kau sudah pergi.. Lalu untuk apa mustika penyembuh yang kau tanam di hutan dunia Manusia hahh! " Wayana bersedih karena Mayana telah pergi, beberapa tetes air jatuh dari matanya.