TO THE DEAD

TO THE DEAD
Kesedihan Fariz



Waktu terus berlalu tiada berhenti, detik berganti menit kemudian menuju jam. Hari hari Fariz hanya diam didalam kamarnya. Pria usia lanjut itu tak mau makan atau diajak bicara sepatah kata saja. Berkali kali Galih mengetuk pintu kamar Ayahnya sambil berkata pada Ayahnya.


"Ayah kumohon buka pintunya Ayah, percayalah Janson masih hidup. Ia ada bersama-" Perkataan Galih terhenti bukan karna ada yang menyela, melainkan tenggorokannya kelu mendadak. Ia tidak berani menjamin Adiknya selamat dari tragedi kebakaran dasyat di rumah Anaya.


Galih menundukkan kepalanya di bingkai pintu kamar Ayahnya, kenapa semua kejadian ini menjadi rumit sekali. Padahal ulang tahun Adiknya hanya tinggal menghitung minggu saja.


Walaupun Galih hampir merelakan kepergian Adiknya, juga supaya arwah Janson tenang di alam sana. Galih terpaksa merelakan kepergian Janson. Tetapi anggota keluarga yang lain belum bisa seperti dirinya. Kakek Burhan, Aliza dan Ayahnya belum rela Janson pergi begitu cepat.


Beberapa kali Ayahnya membanting sesuatu di dalam kamar, entah itu cermin besar, Vas bunga dan lain sebagainya, hal itu ia lakukan hanya demi menepis fikirannya yang terbang melayang. Ia tidak rela jika Janson meninggal, ia marah tanpa sebab selama itu.


DUK DUK DUK!!


"Ayah! kau baik baik saja, apa itu yang jatuh? Ayah, tolong buka!" Belasan kali galih berteriak dari luar kamar tapi respons yang ia terima sangat menyakitkan.


"Galih.. Tinggalkan Ayah, cari Janson sampai ketemu! Mau sampai kapan ia marahan dengan kita, Galih cepat!" Reaksi Ayahnya sangat dingin, suaranya pun terdengar begitu samar dan lirih.


Galih yang sedang tertunduk dalam dalampun manjadi sedih melihat kondisi Ayahnya. Galih beranjak pergi dari sana dan mulai menuruni tangga kembali ke lantai bawah.


"Aku sedih melihat keadaan rumah ini sekarang,.."


Galih terhenti saat itu juga karena mendengar sebuah isak tangis, suara itu terdengar sedikit karena jaraknya jauh, Galih bergegas mempercepat langkahnya menuju lantai bawah.


"Hiks.. Hiks.. Kenapa kalian begitu cepat meninggalkanku, Janson, Anaya. Kalian telah pergi begitu cepat! Mengapa begitu tragis!" Suara itu semakin terdengar jelas di telinga Galih. Rupanya itu adalah Aliza yang tengah bersedih.


Pintu kamar Gadis itu terbuka separuh. Galih terlebih dahulu mengetuk pintunya, Aliza seketika menghentikan tangisannya sembari mengusap air matanya.


"Ehh, Kak Galih ada apa?" Aliza bicara dengan nada setengah tersendat.


Galih tersenyum tanggung, "tidak Aliza, Kak Galih cuma ingin melihat keadaanmu. Boleh Kakak masuk?" Tanya Galih berusaha tidak mencari tau kenapa Aliza menangis. Semua orang di rumahnya memang dalam keadaan yang sentimental sekarang. Maka Galih tidak ingin memperkeruh suasana, malah sebaliknya. Galih ingin membuat semua orang kembali ceria seperti sedia kala, meskipun itu tidak akan sama seperti dahulu.


"Kakak ingin tanya, Aliza tidak lapar? Seharian bukannya Aliza tidak makan?" Tanya Galih lembut padanya.


"Su-sudah kok, Aliza sudah kenyang Kak. Tadi Bi Ina memasakan makanan dan dibawa kemari." Jawab Aliza datar. Galih melirik meja di dekat kasur, 'Aliza, kamu bilang kamu sudah makan. Tapi yang ku lihat di meja makan hanya piring dengan tumpukan tisu bekas, apa kau menangis selama itu? Ooh mengapa semua ini terjadi pada keluarga ini. Aku tidak tahan untuk tidak menangis sekarang." Galih mendadak berdiri dari ujung kasur, ia meninggalkan Aliza tanpa kalimat terakhir untuk Aliza. Gadis itupun tidak menganggap penting kehadiran Galih, ia hanya tak ingin terlihat jadi Anak Perempuan yang cengeng.


Galih telah sampai di bingkai pintu kamar Aliza, perlahan tangannya menutup kembali pintu yang terbuka separuh. Galih telah menitup kamar Aliza rapat.


Aliza yang masih terdiam sambil menatap Foto piguranya dengan Janson dan Anaya pun kini mulai beranjak dari kasur, Aliza tentu membawa foto itu bersamanya. Gadis itu melangkah di jendela besar menuju balkon, menyingkirkan tirai tirai putih dan perlahan membuka pintu balkonnya yang memang terbuat dari kaca putih.


Setelah tempat itu sempurna terbuka angin kencang yang menghembuskan beberapa dedaunan tiba menerpanya dengan lembut, rambut panjang coklatnya terlihat menawan di bawah sinar mentari yang terlihat dikala sela sela awan mulai renggang. Suasana hari tidak suram dan tidak panas tetapi berawan.


Aliza hanya menatap pelataran di rumahnya dengan tatapan sedih, namun ia sudah lelah menangis satu jam lebih, lebih baik terdiam saja.


Fikirannya yang sedang kosong itu membawanya kembali teringat masa masa itu, saat mereka bertiga sering bermain bersama di pelataran rumah.


Otak Aliza seakan memutar balik kenangan tersebut.


Persis tahun baru lalu, saat mereka berkemping di halaman rumah yang dipenuhi bunga yang indah dan suasana sejuk mirip hutan.


Galih sengaja mendirikan beberapa tenda. Satu keluarga tengah berkumpul di sana, karpet tempat alas untuk duduk dan bersantai, pemanggang BBQ dan juga kursi taman yang bisa lipat pasang itu. Tak lupa menyalakan api unggunnya di sebuah galian tanah. Itu sengaja di gali untuk tempat api unggun. Bebatuan yang tertata rapih mengelilinginya.


Kebetulan beberapa jam lagi tahun baru tiba untuk mereka. Hanya beberapa jam lagi.


"Hoaamm, Kak Galih Aliza mengantuk! Kapan ini akan selesainya." Aliza sudah menguap parah karena memaksa tidak mau tidur.


"Aliza payah baru segitu saja sudah mengantuk!" Terdengar seruan yang bernada menyebalkan terlontar dari sepupunya.


"JANSOONN!!" Aliza mendadak melupakan rasa kantuknya, Gadis itu berdiri dan melempar sandal plastik ke arah Janson.


"Wleee gak kena, gak kena! Lihat lemparanmu saja sepayah ini! Apalagi kau merengek ingin begadang, kau gak akan bisa menyerah saja. Aku yang akan menang. Kak Galih akan memberikan hadiah lebih banyak untukku nanti, termasuk hadiah jatahmu tahun ini!" Janson kembali mengejek Aliza.


Wajah Aliza saat ini merah padam karena rasa kesal, Aliza terus memutari taman untuk mengejar Janson, keluarganya yang melihat tingkah mereka tengah tertawa ramai.


"Hahaha.. Ayah lihat kedua cucumu itu. Tidak mau akur! Selalu saja membuat keributan, terutama Janson. Ia tidak mau membiarkan Aliza tenang walau hanya semenit. Anak nakal!" Fariz tertawa sambil menjelaskannya.


"Memangnya kau tidak nakal dulu Fariz! Kenakalan Janson tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan dirimu Nak!" Burhan menceletuk pada Fariz.


"Eh, Ayah dulu nakal ya Kakek?" Mendengar kalimat Burhan Kakeknya, Galih yang sedang menuangkan air soda mendadak menghentikan gerakannya.


"Iya, Farhan juga mendengarnya dariku. Iya kan Farhan." Burhan meminta suara kepada Anaknya yang lain. Farhan hanya mengangguk selintas sambil tersenyum simpul.


"Akh Ayah, tolong jangan bahas itu lagi Aku malu." Fariz bersedekap. Tingkahnya seperti Anak kecil yang merajuk.


"Lihatlah Galih. Sampai sekarang saja tingkahnya masih belum dewasa, merajuk seperti Anak Anak!" Setelah mengatakan kalimat tersebut Burhan tertawa. Disertai gelak tawa Farhan, istrinya dan Galih. Para pembantu hanya ikut tersenyum memperhatikan. Sementara wajah Fariz merah merona, apalagi di bagian pipinya.


BERSAMBUNG....


...............................


...............................


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊


Selamat tahun baru semuanya... Maaf telat ya, ini sebenernya di edit tanggal 1 January, tapi Spesial terbit di awal February.


😭😭 Maaf ya kalo ada yang kecewa kemaren kemaren karna tiba tiba tamat, Jangan pindah juga karena cuma dikit ya.


Thor akan kasih yang terbaik bulan ini...