TO THE DEAD

TO THE DEAD
Rencana Janson bagian 2



"Oh, baiklah. Tapi dimana Janson sekarang?" Anaya bertanya.


Anaya keluar dari kamar dengan pakaian rapih, meskipun pakaian itu memang tidak sebagus pakaiannya tapi itu lebih dari cukup.


Kain yang dibuat oleh penduduk lumayan nyaman meskipun agak gatal di beberapa tempat ketika di pakai.


"Janson dan Dian sedang memandikan kuda yang diberikan oleh teman Silumanmu Nak. Bukankah hari ini kalian akan kami antar pulang ke kota kalian?" Heng menjelaskan.


Mata Anaya membesar karena ungkapan itu.


"Sungguh, kami bisa pulang. Lalu kendalanya bagaimana?" Anaya balik bertanya.


"Kita akan urus itu nanti Nak, sekarang nikmatilah tempat ini selagi masih bisa bertemu." Heng berkata lurus.


"Maaf sudah membuat Kakek repot, Anaya jadi tidak enak." Anaya menggaruk kepalanya, Heng ikut tersenyum pada Anaya.


"Anaya! Kau sudah bangun belum!" Seseorang berteriak sambil berlari membawa ember yang setengah menampung air yang keruh di dalamnya.


"Ada apa Dian!" Anaya menoleh ke arah lorong tepat menuju arah dapur, melihat pakaian Dian yang terlihat kotor oleh lumpur.


"Ada apa denganmu?" Tanya Anaya.


"Kau harus ikut denganku, Anaya.!" Dian malah menggenggam tangan Anaya erat sekali.


"Ada apa sih memangnya, aku harus mengikutimu ke mana?-" Dian menyergah.


"Sudahlah, ikut saja. Kau akan tau sendiri nanti!" Seru Dian berusaha menyeretnya, Anaya mengalah mengikuti Dian dengan paksaannya, Heng hanya mengikuti dari belakang.


*****


Di halaman belakang yang luas dipenuhi rumput liar dan bunga, juga lengkap dengan kandang hewan di tengah sinar matahari hampir di atas kepala.


Janson, Quen, dan juga Rey tengah kesusahan memandikan kedua kuda Putih dan Coklat milik mereka.


Suasananya pun sudah terlihat ricuh, Keempat kuda berbeda warna itu mengamuk di halaman belakang, keempatnya mengejar ngejar Janson, Quen dan Rey. Mereka berlari kocar kacir ke segalah arah. Kebetulan kuda itu tidak diikat apapun.


Maka ketika Anaya melihat pemandangan tersebut terpampang di depannya, entah bagaimana Anaya menanggapinya.


"Wuaaaa.. Tolong,.." Janson jelas tertinggal dari kedua orang itu.


"Lari Rey,. Lari...!!" Quen sudah aman karena berada di atap rumah Heng, terhindar dari amukan keempat kuda itu.


"Astaga, baru ditinggal sebentar keempat orang ini sudah kacau..!" Heng berseru dari belakang, menepuk dahinya pelan.


"Jadi pakaianmu seperti itu karena-"


"IYA! Kuda itu mengesalkan Anaya, dia menjatuhkanku dari badannya, nasib harus terjatuh di atas lumpur. Meskipun itu tidak sakit tapi tetap saja, pakaianku, kepalaku dipenuhi lumpur!" Dian mengomel.


"Hahaha.." Anaya tidak tahan lagi, ia terbahak tertawa.


Sementara Heng tanpa banyak bicara lagi, segera melangkah ke sana untuk menenangkan Keempat kuda tersebut.


Keempat kuda masih berseru kesal, mengangkat kaki depannya ke atas, lalu menghembuskan nafas kekesalan.


"Hei, sudahlah tenang. Memangnya mereka ber empat melakukan kesalahan apa sampai kalian mengamuk begini?" Heng maju berusaha menenangkan salah satu kuda.


Kuda kuda itu sama sekali tidak menyerang Heng, hanya mengentakan kakinya dengan kesal pada Heng, seolah ingin melapor kepadanya tentang apa yang terjadi.


"Kalian boleh turun, kudanya biar aku yang tangani." Heng berseru kepada Janson, Rey dan Quen yang sempurna ada di atap rumah.


Anaya melangkah keluar melanjutkan sisa tawa.


Dengan adanya Heng berakhirlah kericuhan di halaman belakang. Anaya antusias membersihkan badan keempat kuda tersebut, Keempat kuda itupun tidak keberatan di sentuh Anaya, karena sejak awal Yu Jian memang menghadiahkan mereka pada Gadis ini.


"Hahaha, mereka berseru kegirangan Kakek." Anaya tertawa diikuti tawa dari Heng.


"Itu tandanya kuda kuda itu menyukaimu Anaya, mereka senang berada di dekatmu." Heng berseru, sembari meneruskan menggosok badan kuda.


"Aku menyukai kuda putih ini, jambulnya bagus sekali, kuda putih satunya tidak memiliki jambul ini.." Anaya menghentikan menggosok, dan mengelus elus jambul kuda.


"Itu karena keempat kuda ini memang berpasangan Anaya. Kau lihat yang coklat juga hanya memiliki satu jambul, kuda di sebelahnya tidak. Kuda yang memiliki jambul adalah kuda Jantan. Yang tidak ada jambulnya kuda Betina." Jelas Heng padanya.


Anaya mengangguk paham atas penjelasan itu.


*****


Anaya selesai memandikan kuda itu ditemani Kakek Heng. Di dalam rumah sudah ramai percakapan, sampai terdengar dari arah dapur.


"Huh, kuda kuda itu mengesalkan sekali, Rey tidak suka!" Seru Rey.


"Aku setuju, hanya karena satu ejekan saja sampai marah begitu!" Quen menganggukkan kepalanya.


"Janson, kau kenapa mengejek kuda itu sih? Kau mau mencelakaiku yang berada di atas kuda.." Dian berujar.


"Tidak, aku tidak mengejek siapapun. Aku hanya bilang..." Ujung kalimatnya hilang di akhir. Anaya dan Heng sempurna sampai di ruang tengah, mereka berkumpul di sana.


"Bilang apa?" Anaya langsung bertanya setibanya di ruang tengah.


"Ya, tadi aku cuma bilang ingin menjadikanmu Perempuanku Anaya." Janson berkata lurus, ia lupa siapa yang menanyakan itu barusan padanya. Quen, Rey, Heng, dan Dian pura pura tidak mendengar kalimat Janson barusan.


Anaya mematung di tempatnya mendengar kalimat Janson yang sangat meyakinkan.


"Apa?" Anaya berseru.


Janson menoleh. Ia sadar telah mengatakan hal itu lebih awal, jauh sekali dari yang ia rencanakan.