TO THE DEAD

TO THE DEAD
Hal yang ingin dikatakan



Amelia hanya menatap tanpa bergerak, ia memiliki banyak pertanyaan setelah mendengarkan secara langsung kisah yang diceritakan Wayana.


Pertanyaan yang paling besar adalah : Apakah semua kekacauan ini bermula pada sejarah Laras dan Kezi yang ingin bersatu, pernikahan antara manusia dan siluman yang menyulut konflik perang antara kerajaan Hirina dan seberang, lantas apa peran Shayana dalam semua ini. Biasanya peperangan antara kedua kerajaan memiliki konflik yang kuat dan meyulut emosi. Menurut cerita dari Wayana, Pangeran Kezi yang telah menemukan cinta pertamanya sangat tidak ingin mengalah pada keputusan Ayahnya yang hanya sepihak. Ayahnya tiba tiba mengirimkan lamaran ke kerajaan seberang dan memaksa Kezi menyetujui keinginannya. Tentu saja Kezi menolak, alasan Ayahnya adalah ingin menjadi penguasa dua kerajaan dengan Kezi mewakili Ambisinya.


Kezi tidak ingin duduk di kursi tahta tersebut, bukan karena ingin mengalah kepada Ibu tiri dan Adik tirinya. Melainkan Kezi ingin hidup damai bersama Laras, meskipun hal itu akan sulit selain harus berbaur bersama manusia, Kezi juga tidak bisa menggunakan kekuatan apapun di sana. Kezi harus bertingkah normal selayaknya manusia lainnya.


Dan, Amelia masih penasaran dengan kisah mereka berdua yang mencoba menentang berbagai peraturan dua dunia demi hubungan mereka.


"Apakah Laras dan Kezi bahagia selama pernikahan.. Hhh, aku tak seharusnya memikirkan kisah mereka sekarang. Aku harus membantu Anaya yang akan ke kota Bansar. Ayahnya Janson pasti sedang bersedih karenanya. Aku harus memastikan keadaan rumah Janson.." Amelia melesat cepat menuju kota bansar, meninggalkan perbatasan.


...*****...


Amelia merasa senang dapat melihat lagi kota bansar setelah sekian lama ia hanya berkeliling saja di dalam pedalaman hutan sendirian. Tak tentu harus melakukan apa, walaupun merasa terbebas dari segala beban Amelia merasa kesepian.


Di hamparan bawah sana terdapat beberapa Kompleks besarnya, yang hanya perupa Kompleks kecil, terkadang terlihat Kompleks sedang hingga Amelia melihat Kompleks orang orang yang kaya atau konglomerat, terlihat amat mewah serta keamanan yang super ketat, bagaimana tidak! Mereka tidak ingin jika ada maling dan sejenisnya yang bisa memasuki kawasan Elit tersebut.


Amelia beranjak turun dari ketinggian seribu kaki. Perlahan sosoknya yang hanya mengenakan baju putih itu melayang di tengah halaman luas rumah Fariz. Lahan yang luas nan rindang ditumbuhi pepohonan dan indah karena terdapat banyak bunga warna warni yang menghias hampir setiap lahannya. Amelia melihat banyak bendera kuning dan lampu berwarna sama terlihat hampir di setiap sudutnya.


"Apakah Fariz mengira Janson sudah tiada betulan ya? Tapi mau tak mau harus ku beri tau kabar yang sebenarnya." Gumam Amelia sambil melesat memasuki kediaman Keluarga Burhan.


Terlihat seluruh anggota keluarga berkumpul dengan pakaian hitam lengkap dengan Foto Figura Janson yang berbingkai di letakan di tengah tengahnya.


"Hei!!" Amelia berteriak.


Tidak ada yang mendengar teriakannya kecuali Fariz dan Burhan. Keduanya yang sedang terduduk lesu mendadak mendongak ke atas. Tidak ada yang memperhatikan keduanya, karena anggota keluarga lain masih terdiam dan sesekali terisak. Aliza malah menangis kencang.


"Amelia.. " Fariz bergumam pelan di tengah isak tangis. Burhan menatap kosong, seolah tidak tertarik bercakap cakap dengan sosoknya itu.


"Fariz, ikut aku sebentar. Ada yang ingin aku sampaikan!" Amelia berseru padanya. Fariz langsung menggeleng pelan.


Meskipun dirinya senang dapat bertemu kawan lama, Fariz terlalu sedih sekarang.


"Pergilah." Fariz bergumam lagi meski suaranya kecil sekali. Tetap saja Amelia tau Fariz sedang mengatakan apa.


"Kau ini kalau aku kasih tau ya?! Untuk apa kau menagisi Anakmu yang masih hidup!! DASAR ANEH!" Amelia tidak tahan lagi, langsung membentak Fariz. Lalu ia beranjak pergi tidak peduli apakah Fariz menggubrisnya atau tidak.


Mendengar kalimat Amelia tadi, Fariz menjadi sedikit gembira. Hal itu terlihat sangat jelas.


Fariz beranjak berdiri dan melangkah keluar dari ruang tengah. Burhan sama sekali tidak melarangnya.


Amelia sudah hampir melesat meninggalkan kediaman Fariz.


"Apa lagi?" Amelia berbalik tidak peduli.


"Meli, apa yang barusan kamu bilang. Ka - katakan sekali lagi." Fariz berdiri di hadapan Amelia, bahkan meraih kedua tangannya seperti membujuk Kekasih.


"Meli katakan sekarang." Tangan yang putih pucat itu digenggam erat erat oleh Fariz, Amelia mendadak diam memating saat itu juga. Pipinya mendadak menjadi hangat karena perlakuan Fariz barusan.


"Hentikan, hentikan Fariz!" Amelia menarik kedua tangannya mencoba menghindari Fariz.


Fariz justru semakin bertanya tanya dan ingin terus menempel pada Amelia.


"Meli," Fariz mengejar Amelia, namun Amelia trus menghindar.


"Pergi!!" Amelia menggunakan kemampuannya menghindari Fariz.


"Tunggu..!!" Sekarang mereka malah bermain kerjar kejaran di halaman.


"Jangan sentuh aku!!" Amelia risih dengan tingkah Fariz.


Sekarang mereka tampak bertengkar lagi seperti dulu, meski Amelia lupa kenapa ia kemari moment moment seperti ini jarang sekali terjadi.


Setelah lelah kejar kejaran dengan Fariz, Amelia teringat lagi dengan tujuannya menemui Fariz tapi Amelia engan berbicara antusias lagi karena di depannya Fariz menatap lekat dirinya dengan tatapan bersalahnya.


Tatapan itu sangat tidak asing di matanya, sejak kekacauan di Kota Bansar EMPAT PULUH TAHUN LALU.


(*Baca : Kisah masa lalu Bab 1 - Kota soro bagian ke sekian~ Aku lupa..)


Sejak Fariz dan Burhan menghadapi Wayana secara langsung, sejak Amelia yang tidak terima Ayahnya meninggal, sejak Amelia peduli pada ungkapan Fariz yang jujur dan polos itu.


Sejak saat itu Amelia merasa tidak sendirian lagi, tapi Burhan yang kecewa waktu mereka pindah ke kota soro dan bertemu Laras di perjalanan ke kota tersebut, misteri lainnya - Keping masalah yang hilang, penyebab munculnya Wayana dan semua asal usul kekacauan bermula dari Gadis yang bernama Laras, dan Putra Mahkota kerajaan Siluman di dalam hutan sana. Hutan yang penuh oleh berjuta juta misteri, yang tidak masuk akal dan juga menakjubkan berada di sana.


Entah ada apa di dalam sana yang menunggu mereka semua, ini bukan hanya masalah Anaya semata.


Ini adalah masalah besar yang menyeret seluruh lapisan penduduk yang ada di Kota Bansar, bantuan yang besar dan kecil sekalipun sangat dibutuhkan di situasi genting semacam ini.


Apalagi jika seluruh tenaga dikorbankan untuk melindungi orang yang berharga, disayangi, orang terkasih.. Tidak masalah sepanjang mereka selamat, nyawa kita tidak masalah ditukar dengan kebahagiaan mereka bukan? Itulah yang berusaha Amelia katakan.


'Fariz Aku akan melindungi keluargamu dari apapun itu, masalah besar itu cepat atau lambat akan datang dengan cepat, Aku mungkin akan meninggalkanmu, Om Burhan juga termasuk Putra bungsumu yang lucu itu, Aku menganggap keluargamu adalah prioritasku sekarang, apapun yang menjadi musuh kalian itu adalah musuhku sekarang ini, tak peduli seberapa tangguhnya itu akan menghantamku! Sepanjang kalian tetap hidup berbahagia Aku rela tiada musnah ke atas sana.. Hhh'


Fariz tidak memandang Amelia saat ini dia sedang duduk menatap arah lain di sisi taman.