TO THE DEAD

TO THE DEAD
Keping masa lalu



"Woy, kenapa!!" Seseorang mengagetkan dari samping, Anak kecil dengan sanggulnya yang rapih, memakai baju merah ringkas. Dengan celana kain tipis.


"Apaan sih kau, bisa bisanya berteriak di dekat telingaku. Pengang tau!" Anak Lelaki yang barusan dikagetkan oleh temannya, mengomel di sampingnya.


"Kau kenapa bajumu lusuh? Bukankah kemarin kita sepakat uangnya untuk membeli baju ya?" Tanya Anak Gadis itu sembari menunjuk pakaian hitam milik Anak Lelaki tadi.


"Tidak, jangan! Daripada kita membeli pakaian mahal, lebih baik uangnya kita simpan. Siapa tau berguna. Aku sudah punya pakaian Mayana!" Anak Lelaki tersebut memanggil Gadis Kecil di sebelahnya dengan sebutan Mayana.


"Kau ini! Tapi usahakan tahun depan kau akan mengganti pakaian lusuh ini. Aku sudah menduga kau tidak akan mau menggantinya. Aku membawa baju untukmu. Aku yang membuatnya lho." Mayana mengambil kain bingkisan yang ia bawa dari rumah.


Dikeramaian siluman yang berlalu lalang, kedua bocah ini tengah duduk di trotoar tepi jalan yang kumuh. Walaupun dunia siluman indah, tetapsaja ada bagian tertentu yang sama tercemarnya.


Wayana menyimpan keping uang itu di saku, sekarang menatap sahabat karibnya Mayana.


"Apa? Kau mengambil uang Ibumu ya!" Tuduhnya.


Mayana tersinggung dengan ucapan Wayana, sehingga ia memukul pundak Wayana pelan.


"Enak saja, Aku menabung untuk semua barang yang aku beli, aku ingin kau memakainya. Kain hitam ini ku dapat dengan menawar harga tahu, aku menjahit baju ini semalaman. Kau harus menghargai pemberianku!" Mayana melotot pada rekannya. Wayana menanggapinya dengan senyum lebar.


"Iya, aku selalu menghargai pemberianmu kok!" Wayana mengacak acak rambut Mayana.


"Hei, sanggulku rusak!" Gerutu Mayana Yang segera mendapatkan balasan tawaan lebar dari Wayana.


...*****...


Momori Wayana terhenti saat itu juga, bayangan kisahnya bersama Mayana tertunda karena ia sekarang tengah dibangunkan oleh seorang budaknya selama ini, Amelia namanya.


Amelia berkali kali menepuk kedua pipi Wayana, Gadis itu bahkan sempat sempatnya menampari Siluman Hitam itu. Sekarang Wayana bukanlah bahaya bahaya besar bagi kota Bansar, entah kenapa masalah ini menjadi melebar kemana mana.


Ternyata Wayana juga boneka bagi Wanita berparas cantik tersebut,


"Ratu Dewi Shayana telah begitu sering menipuku," Sebelum Amelia mengucapkan sepatah dua patah kalimat, Wayana lebih dulu berucap.


"Dia mengelabuiku Meli, awalnya dia menyuruhku menjadi Panglima di kerajaan, setelah ia puas mewujudkan keinginannya, aku di buang bagai sampah.. Lalu setelah berpuluh tahun hidup tenang, dia datang lagi membawakan tawaran menarik. Kali ini dia melibatkan sahabat karibku." Wayana sedang mencurahkan isi hatinya. Tatapan matanya tidak berbohong.


"Kau berkata jujur hari ini, kenapa?"


Wayana menatap Amelia dingin, tanpa Ekspresi. Amelia menaikan kedua alisnya karena penasaran.


"Amelia, Mayana di jadikan boneka permanennya. Dia sedang sakit, dia adalah mata mata untuk mengawasi tindakanku, maaf aku dulu hampir meremukan kota tidak bersalah itu. Maaf juga telah membuatmu seperti ini dan kehilangan-" Kalimat Wayana terpotong.


"Kau telah berubah Wayana itu saja cukup bagiku. Kukira arwah Ayahku sirna, tapi aku kembali bertemu dengannya!" Amelia menatap Wayana dengan gembira.


"Bagaimana caranya? Semua yang sudah ku bunuh mustahil arwahnya di bumi." Wayana menggeleng keras.


Amelia mendekat padanya, "tidak Wayana Ayahku tidak sepenuhnya mati, dia jadi sepertiku setengah siluman. Aku malah kaget dengan Fakta itu. Entah bagaimana caranya.." Amelia berseru.


"Mungkin, karena Ayahmu dan kau memang setengah siluman sejak dulu. Para manusia setengah siluman sudah ada sejak kepergian Putra Mahkota ke dunia siluman, begitupun para pengikutnya. Tapi nasib malang yang Putra Mahkota itu alami bukan hanya itu,.." Wayana memulai cerita kisah baru, Amelia baru tau tentang Fakta menarik tersebut.


"Sebenarnya kerajaan Siluman yang ada di Kota Bansar ada berapa?" Amelia bertanya penasaran sekali, matanya berbinar binar karena rasa penasaran.


"Dahulu kala di kerajaan Hirina yang subur makmur dan tentram, Rajanya bernama Vezi. Beliau telah memakmurkan kerajaan selama berabad abad, ia memiliki dua anak. Anak Pertamanya ia beri nama Kezi dari Permaisuri Fahasya..."


****


Seorang Putra yang gagah berani. Menghadapi rintangan tanpa rasa takut, tidak pernah menagis ataupun mengeluh. Selalu melibatkan dirinya soal perluasan wilayah kerajaan Hirina.


Sungguh beruntung Raja mempunyai penerus seperti itu. Ditambah wajahnya yang rupawan.


SEDIKIT KEPING MASA LALU.


Di sebuah kerajaan yang makmur tentram nan indah, Burung burung berwarna elok hinggap di setiap jengkal pohon yang ada di sana.


Seorang Pemuda tampan dengan kulit putih langsatnya, tengah bersiap siap menjalani latihan di tengah lapangan istana. Ia dibantu oleh dayang istana untuk bersiap.


"Kalian boleh pergi," Pria itu berkata dingin. Para Dayang yang mendengar hal tersebut menghentikan gerakan mereka, lantas berbalik dan meninghalkan ruangan elok itu.


"Hari yang indah, tapi sangat buruk!! Sebentar lagi Ayah pasti akan menyuruhku menikah setelah acara penobatan ini.. Aku tidak mau melakukannya! Hahh." Pemuda itu menghela nafas keras, ia berfikiran pendek dan pergi dari istana diam diam.


Seorang keturunan Raja biasanya akan senang mendapatkan gelar dari Ayahnya. Tapi dia berbeda, kehidupan seperti itu tidak seindah apa yang orang banyak bayangkan! Selain setiap hari. menghadapi berbagai macam jenis keluhan, ia juga harus berperang. Itu adalah hal yang paling dibencinya. Perang.


Pemuda tampan ini berkeliling di hutan, bukan hutan biasa tapi hutan dunia manusia.


Pangeran itu membuat panah, dan melakukan apapun yang ia bisa.


"Tolooonggg!!" Sebuah teriakan panik terdengar dari arah lain, tepatnya di tepi hutan dunia manusia.


"Apa itu?" Pangeran itu hendak memeriksa dari jarak jauh.


Terlihat disana, Perempuan muda usia 18 Tahun tengah ketakutan, ia dikepung oleh pasukan belanda. Pangeran itu sengaja ke sana karena di tahun itu juga sering terjadi hal serupa.


"Toloongg!" Wanita itu tidak punya harapan kecuali jika Pangeran itu muncul.


"Ohh dia akan dalam bahaya.. Akh terserahlahh." Pangeran tidak peduli, hendak melangkah kembali ke kerajaan. Waktu menunjukan sudah saatnya waktu penobatan akan berlangsung.


"Aku tidak punya siapapun di dunia, tolong jangan membunuhku." Wanita itu memohon kepada pasukan belanda. Kaki Pangeran yang hendak melangkah memasuki pintu ke alamnya, mendadak menghentikan gerakannya.


Peluru di tembakan lurus ke arah Wanita tadi.


DORR


JLEB..


Bukan ia yang terkena, melainkan makhluk mengerikan warna hitam nan besar, darah keluar dari salah satu tangannya.


"Lariiii...." Pasukan belanda telah tunggang langgang berlari karena takut dan kaget.


Wanita tadi menatap tidak percaya ada yang telah menolongnya, dan betapa terkejutnya ia siapa orang yang menolongnya tadi.