
Anaya langsung terbaring di tempat tidurnya usai menaiki anak tangga. Tidak peduli lagi ia tidak makan pagi, yang penting ia bisa tidur dan istirahat, haripun sudah menunjukan jam 10 pagi.
Di rumah Janson pasti sekarang sedang melakukan aktifitasnya setiap hari. Namun belum lama setelah Anaya tertidur sebuah klakson mobil terdengar di jalan raya, sebuah teriakan yang Anaya kenal melengking dari arah luar sana. Anaya langsung bangun dan duduk di ujung tempat tidurnya, "bukankah itu suara Janson kenapa dia kesini? Apa dia kesini sendirian lagi ya!"
Anaya yang panik langsung mendekat dan membuka tirai yang menutupi jendelanya, lalu membuka jendela dari lantai atas.
"Anaya, ayo makan siang denganku dan kak galih, ada sepupuku juga lho.. " Janson melambai tangan dari mobil merah yang terbuka sedangkan Anaya tengah melongok ke bawah, sejak sampai Janson sudah mendongak meninggu tirai lantai dua terbuka selagi kakaknya itu juga terlihat mendengus sembari menekan nekan klakson mobil atas suruhan dari kedua bocah itu, wajahnya tidak senang dan kesal. Anaya yang tidak melihatnya dengan jelas tapi ia tau Galih memang sedang marah dan kesal.
"Eh, kenapa Janson mau mengajakku pergi makan siang, kelihatannya kakaknya pasti sibuk kan, ada apa ini sebenarnya?"
"Anaya kenapa bengong, ayo kak Galih tidak keberatan kok iya kan kak?" Aliza membujuk.
"Iya! Cepat kemari bocah supaya urusanku cepat selesai!" Galih malah berseru ketus karena kesalnya memuncak.
"Kakak jangan begitu dong nanti Anaya tidak mau!! Aliza juga belum pernah sekolah jadi tidak tau rasanya punya teman, Aliza pengin lebih dekat dengannya boleh kan Janson." Tanya Aliza senang.
"Tentu, tapi Anaya harus lebih dekat denganku dibandingkan kau.." Janson menatap sinis.
"Enak saja kau bilang, eh kau itu lelaki mana bisa lebih dekat dengannya.. Kalau perempuan kan," Aliza tak mau kalah berdebat dengan Janson.
"Memang kenapa kalau lebih dekat lagi hah!!" Janson berseru menyebalkan.
Kepala Aliza hendak meletus rasanya karena marah, ia lalu berseru suatu hal. "Anaya nanti bisa hamil tau! " Celetuknya.
Galih di depan geleng geleng kepala pelan, ia tidak tau Aliza akan bercanda dengan membawa kalimat drama itu di dunia nyata.
"Ehh.. Ha hamil, kalau aku sering dekat dengannya dia akan hamil trus aku jadi punya anak.." Janson berkeringat panik karena omongan Aliza barusan.
"Ya iya lah bahaya, hihi.. " Aliza terkekeh kecil karena puas sudah mengerjainya.
"Heh bocah, kalian ini bicara apa sih. Kau juga Aliza emangnya kamu tau artinya hamil?" Galih menyela percakapan.
"Tau lah kak, hamil itu punya bayi." Jawab Aliza polos.
"Trus kamu bilang ke Janson kalau dia lebih dekat dengan Janson berarti Anaya bisa hamil, emangnya itu gak berlaku buat kamu. Kalau kamu juga lebih dekat dengannya Anaya bisa juga hamil tau!" Galih mencoba mengerjai Aliza juga.
"Eh, kak galih tau dari mana?" Janson menatap heran.
Percakapan ini semakin berkembang dengan cara yang aneh. Jika saja ada yang berlalu lalang di jalan raya Galih bisa ditegur dengan kalimat "Anak muda Zaman sekarang ngajarin adeknya yang enggak enggak!" begitu Fikir Galih, untungnya di kompleks itu semua orang percaya sama kutukan dan tahayul jadi ia tidak akan mendapatkan teguran semacam itu, memang tidak tapi Galih melupakan satu hal.
Anaya terlihat mendekat ke arah mobil dengan pakaian yang berbeda meskipun punggungnya dan sikunya masih terluka.
"Kalian sedang bicara apa Janson, Aliza?" Anaya bertanya.
"Gini Anaya kami sedang membicarakan kalau Aliza dan Janson dekat dengammu kau akan hamil atau tidak." Galih sengaja membocorkan percakapan, membuat Aliza dan Janson panik. 'Pasti Anaya akan marah' Fikir Janson dan Aliza.
"Pff.. Hahaha.. Ada ada saja sih, mana bisa teman bisa bikin hamil, kalau hamil sih kalau udah nikah aja dan kalau sudah dewasa seperti kak Galih. Kakak apa sudah punya pacar?" Tanya Anaya.
"Sudah, tapi baru saja kakak putuskan beberapa hari lalu. Kami gak cocok. Eh Anaya tau dari mana kok bisa." Gailh merasa heran. Ia seperti tidak melihat sosok Anaya seperti anak kecil lagi.
"Ada lah Kak, yang jelas kalau hamil itu kalau dua orang saling.. Eh aku bicara apa sih." Anaya tertegun lalu geleng geleng sendiri.
"Jadi kalau aku dekat denganmu apakah kamu bisa hamil?"
"Tidak. "
"kalau aku gimama?"
"Tunggu barusan aku bilang apa!?" Anaya menghentikan gerakannya tiba tiba karena ia merasa aneh larena sejak tadi bicara entah apa.
"Sudahlah ayo cepat Kakak punya rapat penting, kalian makan dan Kakak akan bayar langsung. Nanti pulangnya akan ada supir yang mengantar kalian dan jangan kemana mana selain hanya makan oke, Anaya ku serahkan sisanya padamu ya. Awasi mereka." Galih berseru.
"Baik Kak." Anaya duduk memasang sabuk pengaman di depan.
Mobil melaju di jalan raya usai Anaya masuk, kilau merah mengkilap terlihat di kejauhan oleh orang orang. Angin berhembus kencang menerbangkan rambut Anaya yang diikat ke belakang.
Sesekali tawa Aliza dan Janson terdengar di belakang.
"Anaya." Galih memulai percakapan.
"Ada apa kak?".Anaya menjawab.
"Kak Galih ingin bertanya, nama orang tua Anaya itu siapa ya? Kok alamatnya kak Galih agak Familiar gitu." Galih bertanya.
"Oh itu, nama Ayahku Hermawan Purwa, Ibuku Linda. Memangnya kenapa Kak." Anaya menatap heran. Sejak kapan keluarganya tidak terkenal.
Galih mendadak mengerem, membuat mobil itu tersentak.
Aliza yang ada di belakang sempat terbentur kursi Anaya, karena ia berlurusan kursi dengan kursi Anaya, Anaya hanya ikut tersentak seiring mobil mengerem mendadak.
"Ayah Anaya namanya Hermawan Purwa.. (Berarti benar Firasatku dengan inisial itu, dia memang anak yang menjadi korban pertama dari obat beracun milik Hans. Pasti dia juga tau tentang Hans bukan?)" Benak Galih ia menghentikan mengucapkan kalimat berikutnya jika ia punya kakak yang misterius dan tidak terlihat.
(Anak ini jelas memiliki jiwa yang rahasia, keluarganya saja misterius. Tapi entah kenapa dia tidak tau apakah ia berfikir bahwa keluarganya sama saja dengan keluarga keluarga lainnya? Dan sepertinya wajar jika Siluman itu ingin mengincarnya, dia mungkin bagian dari siluman. Tapi tunggu dia hanya anak kecil tanpa keistimewaan. Yang misterius justru Kakaknya Xin.) Batin Galih.
"Boleh Kak Galih tanya lagi.."
Aliza yang marah berseru dari belakang, "Kak Galih apa apaan sih ngeremnya kok mendadak! Kepala Aliza jadi benjol nih! " Aliza berdesis kesakitan setelah berseru protes. Memotong kalimat Galih selanjutnya.
"Kak buruan katanya mau ngantar ke restoran!!"
"Eh Restoran?" Anaya menoleh cepat.
"Iya, Aku dan aliza sepakat mengajakmu untuk makan di restoran." Janson menjawab.
"Dan Anaya tidak boleh protes!!" Aliza bersedekap.
"Baik aku gak proses kok, tapi aku gak akan pesan yang mahal." Anaya membalas.
Aliza menggeleng bersamaan dengan Janson "Gak papa kok kalau mau pesan yang agak mahal." Seru Aliza bersama lagi dengan Janson.
"Eh kenapa kita ngomongnya jadi barengan." Aliza berseru.
"Kamu yang kenapa dasar!!" Janson balas berseru.
Keduanya bertengkar lagi, sementara Anaya terzenyum kecil melihatnya.
Galih kini mulai berfikir tentang waktu lainnya saat bertanya hal yang berikutnya, bisa jadi Anaya juga tidak tau memiliki Kakak secara dia seolah anak tunggal satu satunya dimanja.
Mobil kembali bergerak menyusuri jalan raya kembali, sesekali Aliza dan Janson bertengkar lagi karena mempermasalahkan kalimatnya yang keluar bersamaan dengan Janson.
Anaya kali ini membiarkan pertengkaran mereka hingga reda dengan sendirinya.