
Mereka berdua asik mengobrol sampai Anaya mulai ingin bermain petak umpet..
Awalnya ia berjalan menjauhi keramaian, lalu ia mengikuti sebuah suara nyanyian yang datang dari hutan.
“Aku.. akan menunggu siapapun di sini, rasa ini sepi yang tak berkesudahan..”
“siapa itu ya yang bernyanyi, Anaya juga mau bernyanyi.. naik naik ke puncak.. tinggi tinggi..” Anaya kecil mulai menyanyikan lagu juga di ujung hutan, lalu mengikuti suara yang kian masuk ke dalam hutan kian jelas sekali suara tersebut.
Pepohonan mangrove mulai terlihat saat Anaya benar benar jauh di dalam hutan.
Rawa rawa yang berlumpur terlihat di sana sini, terlihat hitam dan mengeluarkan gelembung dari lumpurnya.
“Ooohh... Oooo...” Suaranya melengking di atas kayu kayu jembatan yang mulai keropos, Anaya melihatnya dari kejauhan.
Anak itu juga melihat kalau kayu yang dinaikinya sudah hampir roboh, dan benar saja kayu itu akan langsung menjerumuskannya dalam rawa rawa yang penuh gelembung kotor.
“Heii.. kamu, hati hati!! Nanti jatuh!!” Anaya berteriak keras padanya.
Sosok itu menoleh padanya dan langsung beranjak turun dari atas kayu kayu yang roboh ke arah rawa rawa setelah ia turun dari sana.
Anak kecil itu bertatapan langsung dengan Anaya yang saat itu masih 7 tahun, mata anak itu tidak menyeramkan agar tidak menyakiti Anaya.
“hampir saja kamu jatuh, jangan sembarangan duduk di tepi jembatan lagi ya! Dan apakah kamu tinggal disini.
“Iya, kamu siapa?” Jawabnya.
Anaya tertawa kikuk, “aah iya namaku Anaya salam kenal ya..” anak gadis kecil itu menjulurkan tangannya pada sosok gadis kecil didepannya.
“Ooh ternyata Anaya, namaku meli..” ucap sosok gadis kecil itu.
Baru beberapa menit berkenalan. Suara suara bising terdengar di kejauhan. Dan bukan Anaya yang mendengarnya melainkan Meli.
“Apa kau sedang berlibur di sini?” Tanya meli.
Anaya mengangguk. Dia memang sedang berlibur ke sini, 2 Minggu lagi masuk sekolah.. Anaya tak mengerti kenapa meli bertanya begitu?” Anaya yang menoleh menatap ibunya dari kejauhan kini mulai berbalik badan.
“ayah.. ibu..” Anaya akhirnya menjawab Ayah dan ibunya yang mencarinya.
Namun suara Anaya terlalu lirih dan kecil, tidak bisa didengar oleh Linda dan Hermawan di kejauhan sana.
“Hei, apa kau mau aku antar sampai tepi hutan. Berbahaya lho melewati jalan ini. Kalau ada aku pasti aman.. mau?” meli memberikan tawaran untuknya.
“mau meli, ini salahku yang masuk dalam hutan dengan sembarang.” Anaya menyetujui tawaran untuknya itu.
Meli menggenggam tangan Anaya, mereka berjalan berdua. Tapi tidak seperti itu, Amelia menyihir sepatu Anaya agar berjalan cepat tanpa sadar. Dan mereka tiba di tepi hutan dalam waktu kurang dari 15 menit.
“Dan selesai..” meli menepuk tangannya beberapa kali, sebagai ungkapan senang juga menghentikan sihirnya di sepatu Anaya.
...----------------...
“linda, kau sudah mencari Anaya.. dia tidak ada di dekat hotel bahkan petugas kemanan saja tidak melihatnya kembali ke hotel.. bagaimana ini?” Hermawan tampak benar benar panik, cemas dan sedikit merasa takut.
“Aku juga gak tau mas, tadi Anaya masih ada di dekat sini.. dia tiba tiba menghilang begitu saja entah kemana.. haduh dia ini selalu saja begini.. suka sekali menghilang sejak kecil..” Linda sama paniknya, dia juga tak tau Anaya pergi kemana saat ini. Yang jelas Anaya saat ini hilang dan harus segera dicari keberadaannya.
“ayah.. ibu..” Suara Anaya mendadak muncul ditengah keributan dan juga para petugas yang sudah datang beberapa bersama petugas divisi tim pencari orang hilang di kota bansar..
“Ayah, ibu.. mengapa ramai petugas kota bansar di sini.. apa ada orang yang hilang?” Anaya berusaha bertanya polos, dia mulai bingung melihat semua wajah wajah yang datang dengan terburu buru dan panik. Namun saat dia datang semuanya berseru seolah lega melihatnya baik baik saja..
“Anaya, kemana saja kau nak? Ibu dan ayah mencarimu kemana mana.. kami khawatir, karena kau menghilang begitu saja dari sini.” Linda dan Hermawan berseru hampir bersamaan.
“Ayah sama ibu gak denger ya.. Anaya bilang kan Anaya mau main petak umpet kenapa mencari Anaya lama sekali?” Tanya Anaya.
Seketika itu juga banyak orang yang serempak menepuk dahi mereka secara bersamaan
...........
Kini keramaian karena ulah Anaya sudah pergi ke tempat mereka. Malam kini datang dan sunyi di berbagai tempat. Suara hewan hewan melata telah keluar dan mengeluarkan suara suara yang beraneka ragam.
Anaya telah tertidur pulas di ranjangnya, kali ini masih ditemani oleh Linda hingga suaminya duduk di sebelahnya.
“linda, ayo tidur ini sudah larut.. Anaya sudah terlelap sedari tadi. Kita juga butuh istirahat kan. Ini villa yang bagus sekali..” Hermawan mengedipkan mata menggoda Linda.
“Mas bisa aja.. mencari alasan agar kita berduaan.”
“eeh..” Hermawan memalingkan wajahnya. Linda seakan bisa membaca pikirannya.
“baiklah ayo..” Linda kini berdiri dan mulai melangkah ke pintu keluar, Hermawan sigap segera keluar juga mengikuti Linda.
....
Pintu kamar mandi terbuka dan Linda memakai handuk kecil, pahanya terlihat menggoda Hermawan. Dan saat menoleh Hermawan merasakan rangsangan.
Paha Linda sangat mulus dan putih, membuat Hermawan menelan ludah.
“mas, gih mandi.. aku mau pakai piyama tidur..” ucap Lida sambil melangkah cepat ke ruang baju ganti. Membuat pemandangan itu sirna.
“Ya baiklah, padahal sudah tujuh belas tahun kita menikah, tetep saja menawan melihatmu Linda.” Gumam Hermawan memuji.
Air hangat mengalir dari shower dan membasahi seluruh tubuh Hermawan. Rangsangan mulai menjalar membuat bagian vital terasa keras.
Hermawan yang merasakannya hanya bisa menikmati air hangat yang keluar, dan mengabaikan miliknya itu. Meskipun rasanya sesak.
Linda yang telah memakai piyama selutut dengan rambut yang masih setengah basah tengah mengeringkan rambutnya di meja rias.
Tanpa make up dia terlihat sangat cantik.
Hermawan pun keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kamar ganti, untuk memahami piyama juga. Piama yang sama tapi ia memakai celana pendek karena menutupi rangsangannya.
“Mas sudah selesai kah?” Linda tidak memperhatikan, lagi pula dia terbiasa melihat Hermawan kala dulu menciptakan Anaya, tak perlu lagi merasa malu. Dia sudah melihat puluhan kali ini..
“iya sayang, aku akan tidur denganmu..” Jawab Hermawan singkat.
“Oke..” Linda menjawab singkat.
Setelah cukup kering Linda menyingkap selimut lalu mulai tertidur disana. Hermawan mengintip dia membuka pintu sedikit lalu kembali mempercepat memakai piyama selutut.
Kini Hermawan telah sempurna akan tidur. Perasaan pertama sampai saat ini tak pernah berubah untuknya. Ia selalu berdebar debat saat tertidur dengan Linda.
Selimut di sebelah Linda disingkap dan Hermawan mulai berbaring dekat Linda.
“mas, mas terangsang lagi ya..” Linda bergumam.
Suaranya cukup didengar oleh Linda.
“ooh, iya.. tapi sudahlah abaikan saja.. ini liburan Anaya kan sayang.” Jawab Hermawan.
Lina berbalik dan menatap Hermawan, tatapan mata Linda tentu dilihat Hermawan, jarak mereka dekat tidak lebih dari lima Senti.
Linda mengikis jarak hingga menjadi dua Senti. Bibir Linda tampak manis Dimata Hermawan ingin sekali menakutkannya di mulutnya.
“mas kan suamiku.. tak ada yang akan keberatan dengan hal ini. Wajar jika melakukannya.” Lirih Linda.
“Mas minta izin ya..” Hermawan membalas dan mulai mendekat.
Cup.
Bibir mereka saling bertaut lembut, lumayan demi lumayan yang sangat pelan dilakukan Hermawan, perlahan Hermawan memasukan lidahnya ke mulut Linda.
“Hmm..” Linda bergerak karena mulai terangsang.
Rasa nyaman yang selalu diberikan padanya takkan pernah Linda lupakan. Hermawan tidak pernah bermain kasar sekalipun, dia bahkan selalu bertanya apakah sakit, bahkan ketika miliknya masuk.
Jika menyakiti Linda Hermawan akan berhenti di tengah permainan, dan menunggu rasa sakit Linda hilang, baru melanjutkan gamenya.
Linda selalu nyaman melakukan semuanya bersama suami, walaupun itu di kehangatan tempat tidur.
...ΩΩΩΩΩ...
Piyama terlihat tergeletak di kursi dekat dengan tempat tidur. Mereka hanya memakai selimut untuk menutupi setengah tubuh yang polos.
Tempat tidur bergetar perlahan.
Hermawan tengah melepaskan rangsangannya yang sejak tadi ditahan.
Wajah Linda merah padam, tangannya di genggam Hermawan yang ada di atasnya. Perasaan yang tak bisa tertuliskan namun nikmat dan membuat siapapun akan merasa ketagihan.
“mas sudah sampai batasnya, dan tidak akan melepaskannya dalam. Linda sayang sudah suntik bukan? Mas gak mau Anaya punya adik dulu lho ya..” Harmawan bicara di tengah game, saat Linda masih berseru seru.
“iya.. haaa.. aku sudah suntik, dan minum pil. Baru kemarin minum pil. Dan suntik. Tenang.. sajaaa..” Linda menjawab terbata bata.
Lima menit kemudian cairan milik Hermawan lepas, dan mereka berpelukan melepaskan sisa sisa hasrat.
“makasih sayang..” Hermawan.
“sama sama mas..” Linda.
Mereka berdua tertidur karena kelelahan.