TO THE DEAD

TO THE DEAD
105



Kilas kilasan balik itu, terbayang bayang di benaknya dan berputar putar lagi, suara ban yang pecah oleh paku, bayangan hitam yang tiba tiba melintas di tengah jalan dan membuat seorang pengemudi memutuskan untuk melakukan manufer menghindar dari tabrakan tetapi yang terjadi malah hal yang sebaliknya.


"Ti, tidak jangan kembali lagi jangan! Aku tidak mau mengingatnya kembali aku tidak tahan dengan rasa sakitnya, dadaku sesak sekali karena terus menerus mengingatnya dan memimpikannya. Aku takut sekali takut.. " Gumamnya dalam Alam mimpi.


Mobil hitam itu menuruni bukit kembali ke kota kecil bernama Bansar, persis saat mobil itu akan melewati pohon pinus besar, sebuah bayangan hitam melesat cepat ke arah seberang jalan.


Hal itu menimbulkan sang pengemudi mobil menjadi kaget dan refleks memutar balik mobilnya, hingga membuat mobil terguling seketika di tepi jalan, jalur ban mobil seketika terlihat jelas di depan Anaya saat mobil milik Ayahnya berhenti habis habisan menahan adanya kecelakaan namun itu membuat hal itu bertambah buruk.


'Aku masih mengingat kegaduhan pada saat hari itu. Dan.. ' Sosok hitam yang barusan melintas sekarang tengah tersenyum di atas pohon pinus besar dekat dengan mobil Ayahnya yang terbaring, sedangkan Anaya dengan ingatannya persis 3 meter dari pohon pinusnya.


Terlihat Ayahnya yang berdarah darah di kepalanya, terlihat Linda yang kakinya berselimutkan darah dan juga pecahan kaca di sekujur kakinya, bahkan kaca kaca tajam itu mengenai punggungnya. Sedangkan Anaya yang hanya terkena pecahan kaca kecil terluka di pelipis dan dahinya saja. Sedangkan tubuhnya dilindungi oleh Ibunya. Aditya yang mengemudikan mobil mengalami luka kaki dalam.


Keadaan yang sangat mengerikan dan saat keadaan sudah seperti itu beberapa menit kemudian Aditya dan Linda mulai tersadar dari keadaan pingsan, semuanya sempat pingsan sebentar.


Melihat keadaan itu Wayana beranjak lagi melesat cepat mencari sesuatu, sementara Amelia kini mulai melihatnya dari jauh tubuhnya sepertinya dikekang oleh sesuatu entah itu apa, Anaya kini paham keadaan sebelum ia sadar dari pingsan.


Dan betapa kejinya siluman itu hingga melakukan hal serendah ini padanya.


Setelah semuanya mencoba untuk tetap tenang sebelum mereka melihat bus yang melaju secara tidak stabil ke arah mereka.


Linda melepaskan sabuk pengaman membuat tubuhnya yang tadi tetap berada di atas menjadi terjun tiba tiba, Aditya mencoba melepaskan sabuk pengamannya dan juga sabuk Hermawan.


Terlihat di kejauhan juga para penumpangnya yang menjerit jerit mulai mencoba keluar hingga memecahkan kaca bus, lalu berlompatan keluar satu persatu. Tapi tetap ada yang bertahan karena remnya hanya blong, ada yang mencoba membongkan bensin bus itu juga agar cepat berhenti, pokoknya mereka semua berusaha menyelamatkan diri.


Berbeda dengan keadaan di dalam mobil hitam milik Hermawan, mereka lantas panik dan berfikir untuk segera keluar.


Setelah membuka pintu depan mobil bus itu tinggal 5 meter dari mobil hitam dan bisa menabrak kapanpun.


Sadar akan keadaan yang sudah sampai ujung dan ditambah hermawan juga masih belum sadar, Linda hanya memilikirkan keselamatan Anaya saja.


Linda menyuruh Aditya membawanya keluar dan meninggalkannya, saat itu juga anaya bergerak.


Aditya mulai merangkak meninggalkan mobil di jarak setengah meter.


"Aditya lebih cepat!! " Teriak Linda di dalam mobil sambil terus mengguncang guncang bahu suaminya.


Anaya yang melihat kejadian itu lagi melompat lantas berada di dalam mobil, tapi dirinya yang hanya ruh tidak bisa melakukan apapun.


Itu hanyala kilas balik di alam fikirannya bagaimana mungkin dihentikan, takdir takkan bisa diubah.


Sekali lagi Anaya melihat usaha Aditya dalam menyelamatkan nyawanya demi perkataan ibunya, dan kilas balik itu sangat menyakitkan ketika Anaya terbangun di gendongan Aditya.


"Aditya Awas!! " Linda berteriak kencang saat Bus itu jaraknya tinggal 2 meter saja.


"Aaah.. " Aditya menoleh saat ia sudah sempurna keluar di jarak setengah meter meninggalkan mobil. Ia kini membaringkan Anaya dan Aditya mulai berguling sambil. memeluk Anaya di dekapannya. Sedikit demi sedikit Anaya melihat keadaan di dalam mobil orang tuanya yang tengah dalam bahaya.


"Ti, tidak.. Tidak Jangan!!" Anaya berseru lirih.


Jarak Aditya kini berada di jarak Dua meter dari mobil dan cukup aman, Sedangkan bus itu sempurna menabrak mobil milik orang tuanya dan ketika itu juga Anaya berteriak histeris ke arah mobil.


"A.. Anaya.. Kau tidak akan sen di rian.. masih ada Xin yang akan menjaga.. mu." Lirih linda saat tubuhnya remuk tertindih kepala Bus. Anaya yang hendak pergi dari kilas balik itu tiba tiba menoleh.


"Xin, siapa dia? Apa yang dimaksud Ibu tentang aku tidak sendirian."


Anaya tersentak pelan karena cahaya yang amat silau membuat matanya tidak bisa melihat apapun hanya warna putih.


*****


Seseorang mengguncang guncang bahunya, merasakan guncangan semakin kencang terasa Anaya menjadi tersadarkan dari tidurnya, ia tersentak pelan.


Tangan Janson terlihat menempel lekat di bahunya, selama itu pula Anaya terlihat tidak nyaman dalam tidurnya sehingga mengigau sepanjang perjalanan mereka ke toko roti di perumahan Anggrek. Terdengar jika Janson masih memanggilnya yang mulai sadar dan membuka matanya.


"Anaya ada apa denganmu mengapa kau berteriak teriak, kau bermimpi apa sampai berteriak teriak seperti itu. Katakanlah.. " Janson membalik tubuh Anaya agar ia bisa menatap Anaya lebih baik, yang ditatap kini hanya bisa terdiam sambil matanya masih berlinangan air mata tanpa bisa berkata apapun yang bisa menjawab pertanyaan Janson ataupun mengurangi rasa penasaran temannya. Anaya tidak mampu menceritakannya pada Janson tentang hal yang dilihatnya dalam alam mimpi.


Betapa sedih dan terpuruknya ia saat orangtuanya meninggalkan dirinya yang masih anak anak, dan setelah kedatangan mimpi barusan dan mengetahui jika ia tidak sendiri dan memiliki kakak perempuan, Anaya tidak bisa berkata apapun selain derai airmata.


Tidak tau harus berkata apa pada nasib jika kakaknya tidak pernah bertemu dengannya selama ini, bagaimana mungkin melindunginya. Mungkin anaya salah dengar.


"Anaya katakan.. "


Aliza tidak menanggapi pembicaraan mereka, ia hanya menatap sekitar dan asyik memikirkan hal yang ia sukai dibandingkan mendengar ocehan sepupunya yang tidak bermutu.


"Den Janson, Non Aliza kita sudah tiba di parkiran toko roti ada di sebelahnya. Apakah kaluan jadi membeli roti di sini? " Sopir ya g mengemudikan mobil yang kami tumpangi berbicara serelah menyampaikan kabar tersebut.


Rasa penasaran Janson terpaksa harus dihentikan karena niat kami yang memang ingin membeli roti dan bahan makanan lainnya yang cepat saji.


"Anaya aku akan bertanya lagi setelah kita selesai membeli keperluanmu, tolong jangan rahasiakan apapun dariku." Janson berbalik sebelum melangkah keluar mobil yang pintunya sudah terbuka sedari tadi.


Sejenak Aliza yang melihat Janson akan bersenang senang di dalam toko Aliza ikut turun.


"Anaya kau tidak ingim ikut? Pak sopir juga turun untuk mengangkutnya, kamu kan anak kecil jadi pasti tidak kuat bukan?" Aliza berseru pada sopir suruhan Galih, "Oh iya Non tentu, Bapak akan menyusul Den Janson." Tidak mau dicap sebagai supir pemalas serta tak mau kehilangan pekerjaan Supir itu buru buru menyusul Janson ke dalam toko roti.