
Bab 16 Saatnya aku makan.
Asap beraroma membumbung di dalam gua lautan dalam yang dingin dan sangat tenang.
Tentu saja itu bukan asap biasa, tapi tercipta dari energi sihir, cara memasak Ruth memang berbeda dari yang lain. Atau lebih tepatnya hanya Ruth yang ingin merasakan apa itu makan. Ia melakukan ini karena ia melihat betapa manusia menikmati makanan, berbeda dengan dirinya yang hanya makan rumput laut mentah dan ikan mentah yang berenang berlalu lalang.
Ruth tidak benar benar memakannya melainkan hanya diserap oleh tubuhnya, asupan utamanya justru dari batu Ache. Jadi lidah Ruth sama sekali belum pernah digunakan.
Lidahnya belum pernah merasakan rasa asin, asam manis atau pahit. Dia juga tidak bisa berbicara secara langsung dengan manusia, karena secara otomatis alat alatnya yang mengubah semua jenis bahasa untuknya.
"Aku tidak pernah juga melihat ibu dan Ayahku karena mereka sudah lama menjadi bulir bulir air, aku hanya bisa menatap mereka dan wajah mereka dari kalkulasi waktu yang kuputar sekarang."
Ruth memutar semua waktu saat pertemuan kedua orang tuanya di saat mereka berumur empat puluh ribu tahun, menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai. Karena cinta dalam kaum Abdi dibolehkan kecuali cinta untuk manusia dan bangsa lainnya. Itu yang terlarang. Sekarang kaum Abdi hanya ada separuh dari generasi sebelumnya. Hanya berjumlah 25 orang termasuk Ruth dan Weng. Pada generasi pertama kaum Abdi semua kaum menikah, dan lahirlah generasi berikutnya yang berjumlah 50 orang yang merupakan generasi kedua. Dan saat generasi ketiga tercipta, hanya ada 25 orang saja. Yang berarti salah satu kaum tidak bisa menikah dan malangnya itu menimpa Ruth yang berkelamin perempuan.
Semua kaum laki laki berjumlah 12 orang dan yang perempuan berjumlah 12 orang sebelum kedua orang tuanya dinikahkan, sempat terjadi banyak pertentangan karena jika mereka menikah akan ada angka ganjil dari generasi yang menjadi pertanda buruk.
Tapi batu Ache mendukung kedua orang tua Ruth yang memang saling mencintai.
Keduanya menikah dan sekarang memiliki Ruth sebagai Putri mereka, saat itu terjadi perlahan lahan tubuh keduanya mulai berair dan lama kelamaan menghilang karena menyatu dengan air. Tidak ada darah atau bekas kecuali pakaian yang mereka kenakan yang berupa kain yang didapat dari dunia Fana.
Ruth yang sekarang tau, membuat aroma kedua orang tianya tahan lama di dalam baju itu. Ia menggunakan sihir batu Ache untuk menyimpannya.
"Sayangku, ketika kau lahir kami akan pergi.. Jadi baik baiklah disana dan jadilah pemimpin kaum Abdi karena Batu Ache menginginkan itu darimu." Tiba saat Ibunya bilang begitu di kalkulasi waktu, Ruth dengan kencang membanting kalkulasi waktu itu tiba tiba.
"Ini yang aku benci!! Saat semua orang bahagia karena hidup abadi lama.. Kenapa aku yang harus dikorbankan.. Batu Ache ini memang baik tapi mungkin ia memakan banyak jiwa didalamnya makanya dia bisa terus memancarkan energi, jika keseimbangan tidak terjadi maka jiwa jiwa itu diserap oleh batu itu dan.. Dan terhalang! Aku tau batu itu tidak sespesial seperti yang diduga para penduduk, sayangnya mereka tidak percaya akan apa yang aku katakan karena selama ini, aku selalu membuat nama Ayah dan Ibuku tercoreng saja. Aku tidak tau betapa buruknya tradisi yang mereka ciptakan ini.. " Ruth berseru kesal dan kepalanya tertunduk pada meja kayu di dalam gua, ia murung dalam waktu lama..
Di sisi lain Weng yang ada di atap gua Ruth tidak mendengarkan perkataannya barusan yang menjelek jelekan batu Ache. Ia hanya bertugas mengawasi Ruth di luar gua supaya ia tidak keluar dari dalam gua, proteksi tak terlihat telah dipasang melepisi semua sisi gua dan itu adalah alat yang paling efisien untuk menghukum seseorang. Saat ini Ruth dilarang kemanapun, tapi ia diperbolehkan bermain sepuasnya dengan boneka bonekanya yang canggih.
"Ini menjengkelkan.. Hu hu hu.. " Runtukannya terdengar oleh Weng, namun ia tidak peduli. Ia hanya berbaring di tempatnya sembari mendengarkan ocehan Ruth.
*****
Pandangan yang kabur saat ini untuknya, perlahan tubuhnya yang terasa remuk itu didudukan, pandangannya tertuju ke sana kemari. Di sekelilingnya suasananya asing dan banyak orang yang berkumpul disana.
Wanita itu memandang dan sesekali berkedip untuk menjernihkan pandangannya.
Orang orang yang rata rata berpakaian hitam srperti hendak ke pemakaman dilihat olehnya, sedangkan dirinya sedang berbaring di kasur empuk di samping mereka.
"Aku dimana?" Tanya wanita itu pelan, lalu memegang kepalanya yang terkadang masih terasa pusing.
"Kamu ada di rumah saya, Rizka." Suara berat itu terdengar asing tapi Rizka segera mengangguk pada tuan rumah.
Rizka mendongak ingin melihat orang dengan suara berat serak milik Burhan, hanya pria itu yang terakhir bersamanya dan Fiqri.
"Di, dimana putraku?" Seakan baru saja bangun dari mimpi buruknya Rizka bertanya cemas tentang keberadaan anaknya, mungkin yang ia alami itu hanya sekedar khayalan saja. Rizka berharap tidak terjadi hal yang buruk pada putra satu satunya itu.
"Bu, tenangkan diri anda dulu. Apakah Ibu masih pusing?" Mang karman menyela agar situasi tidak memburuk. Ini adalah hari ketiga setelah semuanya dilaporkan dan semua orang dalam proses evakuasi dan juga pemulihan kota.
rizka memandang bingung ke arah semua orang, seakan menghindari pembicaraan yang penting padanya.
"Apa yang aku lupakan sebenarnya, ada apa dengan semua orang?" Gumam Rizka.
Mang Karman dan Burhan menjauh dari kamar Rizka karena mereka harus bicara.
"Burhan, sepertinya kita harus berbohong. Wanita itu tampaknya tidak rela jika Fiqri meninggal. Apa kita buka saja mata batinnya dan suruh Amelia berpura pura?" Karman memulai percakapan.
"Tidak Mang, aku tidak bisa melakukan satu kesalahan lagi.. Lebih baik kita jujur menceritakan apa yang terjadi termasuk ia sudah membalaskan kematian anaknya itu dengan cara dikendalikan." Burhan berseru.
"Burhan, Wanita itu hatinya rapuh mudah hancur, bagaimana kalau kita Bilang bahwa Fiqri terluka parah dan sekarang sedang dirawat saja. Kita akan jelaskan ini pelan pelan, aku berjanji padamu-"
"Apa yang ingim dikatakan padaku?" Rizka datang dari pintu keluar kamar, ia sekarang berdiri dengan tatapan amarah.
"Apakah itu benar, putraku sudah meninggal?" Tanya Rizka lagi.
Keduanya kini terdiam, hening menimpa keadaan sekitar hingga Burhan menggerakan kepalanya mengangguk pada Rizka.
"Haaah... Uhuk!! Ugggh.. " Rizka perlahan mulai ambruk dari ia berdiri, tangannya berpegangan di anak tangga untuk mencegah dirinya jatuh.
"Rizka! " Burhan berseru sambil berari padanya, namun Rizka menahan gerakan Burhan untuk membantunya.
"Tidak perlu, aku baik baik saja." Rizka menolak bantuan dari Burhan dan berbalik sambil melanggah gontai menuju kamarnya. Dada Rizka terasa nyeri sekali setelah tau bahwa mereka akan berencana membohonginya untuk menutupi kematian Putra satu satunya yaitu Fiqri.
Burhan yang hanya bisa menatap punggung Rizka merasa amat terenyak karena terkejut. Ia tidak percaya rencana mereka bisa berhasil secepat ini, mereka mengatakan hal itu agar Rizka menganggap Burhan berbohong dan ia bisa melupakannya dengan cepat.
Awalnya Mang Karman menolak rencana Burhan ini. "Kau mau melakukan apa Burhan, bukannya itu akan menyakiti hatinya?"
"Itu memang tujuanku, supaya dia. Membenciku, aku tidak ingin berhubungan dengan wanita manapun, tapi dia terlalu dekat dengan Fariz, dia bahkan bisa mengambil hatinya. Aku takut Fariz akan pergi dariku." Jelas Burhan.
"Ternyata begitu? " Mang Karman mengangguk.