
Pohon-pohon menjulang tinggi diantara lebatnya pegunungan yang menutupi kota Bansar, banyak hewan-hewan kecil dari mulai tupai dan juga burung burung pipit berkeliaran diantara dahan-dahan pohon cemara dan pohon pohon lainnya.
Quena lebih dulu sampai di mobil Galih dan segera membawa kedua manusia itu pergi dari sana sebelum Xin datang dan melihat Quena.
Quena membawa Rey dan Heng dengan energi sihir membuat mereka melayang saat keduanya masih dalam keadaan tertidur pulas.
Lantas melesat secepatnya agar tak terlihat oleh Xin, bersamaan dengan itu auranya cepat menguap memudar dan hilang. Keadaan saat Quena melewati sepanjang hutan menghembuskan udara dan menggoyang goyangkan semak belukar, sebuah bunga putih cantik bergoyang sedikit karena angin yang ditimbulkan Quena.
Xin tiba beberapa menit setelah kepergian Quena yang telah menembus berkilo kilo pedalaman hutan.
ingatan Xin tentang perkataan Quena beberapa menit lalu membuatnya membayangkan kembali saat ia berada di lorong waktu dan melihat kenangan dari dunia siluman, serta melihat wajah neneknya di dalamnya.
"Apa ini cuma kebetulan, aku merasa Nyi Quena telah lama mengenalku." Xin bergumam kecil.
Ingatan Quena jatuh pada saat ini, tetes air matanya jatuh menimpa tanah. Hanya satu tetes air matanya saja membuat tanah disana mengeluarkan lumut yang kian merambat ke arah pepohonan dan membentuk suatu lambang.
Tarlepas dari lemahnya kekuatannya dibanding Siluman Wayana, ia tak bisa ikut ke dunia manusia karena Wayana masih menahannya. Termasuk ia menyesal tak bisa menyelamatkan tuannya dari cengkraman ratu itu. Sebagai ujung tombak senjata Kezi ia harusnya mati di medan pertempuran paling depan, tapi nyatanya ia malah dilesatkan ke belakang dan diperintahkan kabur membawa manusia itu ke portal perbatasan, lantas menjaga manusia itu di sana.
"Maaf tuanku karena senjatamu ini lemah dalam melindungi tuanku. Maafkan kelemahanku, tuan." Quena terus meniti dahan dahan besar dengan gerakan kaki yang lincah dan cepat.
...******...
Didalam kendaraan suhu udara masih hangat dan membuat tubuh tak ingin terbangun dari lelapnya tidur.
Anaya membuka matanya lalu menguap sambil meregangkan tubuhnya. Matanya mengejap ejap sesaat namun bergegas menyikap selimut yang menutupi tubuhnya.
Mata kecilnya masih menatap ke arah depan dengan kabur, ia masih berada dalam pengaruh mimpi malamnya, namun ia segera tersadar setelah itu.
Anaya menatap ke arah bawah tempat duduknya, ia merasa sedih saat terbangun dan ia merasa senang saat bermimpi karena ia bertemu dengan orang tuanya untuk sesaat.
Anaya mrnggeleng gelengkan kepalanya, "Sudahlah itu kan hanya mimpi, tapi itu terasa sangat nyata dan membuatku nyaman. Apa aku terlalu sedih kehilangan mereka, apa aku ingin menyusul mereka?"
"Ngroook!" Suara itu datang dari samping tempat duduknya dan Anaya melihat temannya yang beberapa minggu ini memang dekat dengannya.
'Janson baru kali ini aku melihatnya ngorok sekencang ini, dan Kak Galih masih tidur dibangku depan juga.. Eh kemana Kakak?' Anaya menoleh ke arah tempat duduk depan dan Kakaknya Xin memang tak ada disana, sedangkan cuaca sudah sempurna panas.
'Kemana kakak?' Anaya beranjak membuka pintu mobil, dilihatnya dari kejauhan melesat angin kencang yang menerpa area sekitar mobil. Dari belakang tiga orang melesat menjauh semakin kecil lalu menghilang ditelah pepohonan hutan.
"Kenapa berada di luar?" Xin datang dan langsung menegurnya yang ada di luar mobil.
"Kakak, Kak Xin dari mana saja?"
"Bukan urusanmu Naya, cepat ikut aku, kalian harus mandi. Dan bangunkan kedua manusia tukang tidur itu!" Xin berseru sanbil mengeluarkan sihirnya dan membuka bagasi belakang mobil.
"Kenapa keluar? Bukannya kita mau melanjutkan perjalanan ya?" Tanya Anaya.
"Kau ini kenapa banyak omong sekali sih, kalau kita melanjutkan perjalanan tanpa mandi di mobil akan bau oleh keringat kalian, cepat bangunkan mereka suruh mandi!Ada aliran sungai tenang di wilayah ini dan aku akan mencari makanan. Bekal kita habis tadi sore bukan?" Xin bergegas meninggalkan Anaya di mobil.
tangannya berkutat dengan hal lain selain menangkap ikan, ia menyusun ranting dengan rapih dan menyingkirkan dedaunan, setelah selesai menyiapkan tempat api unggun ia mengolah semua yang ia dapatkan dari berkeliling hutan, dan memasak sebagian besar buruannya.
Peralatan besi yang sudah dibawanya dilayangkan di atas api dan ia mulai memasak, bumbu bumbuan beterbangan termasuk garam yang telah ia bawa dari rumah sebagai perbekalan. Kini tumis jamur, ikan bakar dan beberapa sup bunga terhidang di atas desaunan pisang dan mangkuk plastik yang sudah dibawanya.
"Semuanya telah siap. Aku akan memeriksa apa mereka sudah bangun dari tidurnya." Xin mulai melangkah lagi ke arah mobil sambil melayangkan daun yang penuh makanan dan beberapa masakan.
Namun dari kejauhan Anaya masih berkutat membangunkan Janson dan Galih.
Xin geleng geleng kepala sendiri, "Sudah ku duga pasti mereka belum ada yang bangun satu orangpun."
Gadis siluman itu menggunakan sihirnya dan perlahan lahan tangan kedua orang itu sekarang terangkat dan memukulkan tangannya ke pipi.
Plak!!
Suaranya cukup kencang karena hal itu juga terdengar dari samping Anaya.
"Kak, apa yang Kakak lakukan? Katanya biar aku saja yang membangunkan Janson dan kak Galih! Kenapa kakak sekarang ke sini, kan aku belum membangunkan seorangpun." Anaya berseru mendekati Xin dan mempertanyakan perbuatan Kakaknya.
"Anaya, kalau kau mau membangunkan manusia manusia itu jangan pakai cara lembut, harusnya begini sedari tadi tau. Mereka harus bangun sebelum makanan yang kakak masak ini jadi dingin. Kakak tak akan memasak dua kali ya." Jelas Xin sambil mengulurkan nampan nampan berisi makanan.
"Suruh kedua manusia itu lekas makan lalu mandi, kalau mereka tak lekas mandi juga kakak akan melemparkan mereka ke sunggai. Biar kakak mandikan dengan sihir kakak!!" Xin meletakkan semua makanan itu di sebuah nampan kemudian ia meninggalkan Anaya dengan Galih dan Janson. Xin ingin membersihkan dirinya dengan berendam di anak sungai juga ingin melatih teknik sihirnya dengan menemukan predator predator hutan yang tangguh.
Xin memanjat lagi pepohonan yang paling tinggi tinggi dan kemudian meluncur bebas seperti sebuah meteor yang jatuh dari atas dan mengenai atmostfer.
Menebang dahan dahan dengan sihirnya yang ia padatkan menjadi tajam.
Bebunyian dahan ranting yang berjatuhan terdengar dari letak mobil merah milik Galih berada, Anaya bahkan sempat menoleh ke belakang karena khawatir kakaknya kenapa napa tapi Anaya menggeleng geleng sejenak.
Galih keluar dari dalam mobil dan kini memegang pipinya yang terasa nyeri.
"Anaya suara apa itu tadi?"
"Tak ada hewan buas bukan?"
Galih dan Janson bertanya bersamaan tapi pertanyaannya berbeda.
"Tidak ada apapun kak, hanya suara ranting yang jatuh serempak. Janson apankau lapar ada beberapa makanan yang sudah kakak masak untuk kita, dan kata kakak kita harus mandi di sungai dekat sini sebelum berangkat." Anaya menyampaikan semua kata kata Xin.
"Hm, mandi di sungai yang dingin pagi pagi seperti ini?" Keduanya bertanya pertanyaan yang sama.
"Tapi kalau tak bergegas kakak akan memandikan kalian dengan caranya." Lanjut Anaya.
"Hah, baiklah ayo Janson lekas dimakan dan kita mandi setelah ini. Aku tak mau diceburkan oleh siluman itu!" Galih segera memakan ikan bakar dan sisanya dibungkus dengan plastik bekal.
Anaya tersenyum puas, ancaman kakaknya berhasil membuat Galih segera melaksanakan perintah Xin. Sedangkan Janson tak mau berkomentar apapun tentang keputusan Xin, pagi ini saja sudah kena tamparan maka ia tak mau dimandikan dengan sihir.