
"Apa maksud kalian?" Quen yang mendengarnya merasa sangat bingung.
"Nanti kau akan mengerti Quen, tidak sekarang." Rey menjawab kembali pertanyaan Quen. "Biar Rey antar kembali ke pedesaan terdekat dulu ya. Quen tidak boleh terluka lagi." Rey mulai memengang lengannya dan meletakkan tangan Quen di pundak Rey, lantas bergegas membawanya.
"Hei, Rey. Aku bertanya kenapa kalian berpacu dengan waktu, apa maksudnya? Dan biarkan aku ikut membantu kalian di sini!" Quen sama sekali tidak mau kembali ke pedesaan. Ia justru ingin terus berada di antara rekan - rekannya.
"Quen, Rey tidak bisa menjawab pertanyaan Quen sekarang. Tapi Rey akan menjelaskan ketika tiba di pedesaan. Rey janji Quen." Rey berujar pelan sambil terus memanjat pohon dengan kecepatan 3 meter/menit. Setelah ucapan Rey barusan Quen hanya bisa terdiam dan hanya menikmati gendongan Rey, juga melihat pemandangan indah dibawah sana.
Heng melambaikan tangannya pada Rey setelah pergi meninggalkan lokasi bertarung mereka bersama ular - ular raksasa yang kini telah terkapar kesakitan, walaupun bisa bangkit ular - ular raksasa itu tidak bisa menyerang sekarang. Karena mata mereka buta, jadi mana mungkin ular besar itu tau ada penyusup.
...*******...
Di sisi lain hutan 3 orang masih terus berdiam diri. Si Sulung dan Bi Marni menatap kearah Mila. "Tolong jangan sakiti Anakku." Ucap Bi Marni kepada Wayana yang terus mencekik Mila.
"Tolong jangan sakiti dia, sakiti saja aku! Kalau kau mau, bunuh saja aku! Jangan bunuh Mila." Bi Marni berkata sembari terus menangis, yang membuat pipinya segera basah oleh airmata.
Sedangkan Si Sulung yang terlanjur sakit hati oleh Bibi angkatnya yang merupakan Ibu yang sudah merawatnya. Tidak ingin ikut campur lagi, Si Sulung hanya menyimak permohonan dari Bibi angkatnya. Wayana masih terus mencekik Mila sampai Mila tidak mampu lagi menahan nafasnya. Mila akan segera kehabisan nafas dan terkulai sampai mati.
Diantara isak tangis Bi Marni, dan Mila yang mulai terkulai lemas. Seruan kencang berasal dari arah belakang Wayana membuat Wayana melepaskan tangannya dari leher Mila.
"HENTIKAN TINDAKANMU WAYANA! SUDAH CUKUP TIDAKANMU SAAT INI!" Seruan lantang memekakkan telinga tersebut berasal dari seseorang yang bernama Hang, Ia telah sampai bersama Rey yang telah memegang golok tajam nya. Sedangkan Heng sendiri sudah bersiap dengan dua pedang tipis nan tajamnya.
"Wah, wah, rupanya ada pahlawan yang datang pada siang bolong!" Wayana sama sekali tidak kaget ataupun takut terhadap seruan kencang Heng, siluman hitam itu justru terlihat menahan tawa.
"Hentikan tindakanmu sekarang juga! atau-" Kalimat Heng tarhalangi lagi oleh seruan Wayana.
Bi Marni tidak mempedulikan bantuan yang datang, ia justru segera merangkak ke arah Mila yang masih terkulai lemas. Bi Marni segera melakukan sesuatu sebelum Putrinya meninggal.
"Ap - Apa yang harus kulakukan? Ba - bagaimana ini?" Wanita berusia 45 tahun itu bingung karena ia harus melakukan apa?. Si Sulung pada akhirnya kasihan melihat Bibinya segera melangkah mendekati Mila. Si Sulung segera melakukan nafas buatan terhadap Mila.
Bi Marni terkesiap dengan apa yang dilakukan Si Sulung. Wajah terkejutnya sekarang berubah menjadi wajah bahagia.
"Terima kasih Dian." Bi Marni berterima kasih pada Dian. Meskipun suara Bi Marni kecil Dian tetap saja bisa mendengarnya.
Dian yang mendengar ucapan Bi Marni juga ikut tersenyum kecil.
Sementara di kejauhan sana sekitar 10 meter. Pertarungan Heng, Rey, melawan Wayana Siluman hitam akan segera akan terjadi.
"Apa kau menantangku sekarang!" Angin kencang datang tiba-tiba ke arah mereka bertiga, rambut kaku Wayana terlihat sedikit dimain-mainkan oleh angin, apalagi rambut Rey yang panjang. Sudah berkibar-kibar sedari tadi karena diterpa kencangnya angin ditambah dedaunan yang beberapa kali menempel di rambutnya. Heng sama sekali tidak terganggu oleh kencangnya angin.
"Yah tentu saja aku menantangmu Siluman keji!" Heng membalas seruan Wayana dengan nada tegas, dirinya sudah siap bertarung melawan Siluman Hitam tersebut. Bi Marni merasakan situasi mencekam akan segera datang dari angin angin yang bertiup kencang laksana angin ****** beliung.
"Kau akan menyesal telah menantang siluman Wayana!" Wayana berseru, di akhir kalimatnya Wayana menghentakkan kakinya ke tanah.
Tanah hitam yang tadinya rapat mulai terpecah-belah, awalnya terlihat retakakan kecil. Lama-kelamaan retakan kecil itu mulai membesar dan perlahan-lahan terangkat diiringi gerakan tangan Wayana.
Heng dan Rey bersiap dengan kuda-kuda kokohnya. "Kita akan melawannya Rey Bersiaplah!" Mendengar kalimat tegas dari Heng, Rey mengangguk pelan pertanda ia sudah siap melawan Wayana.