
Janson berseru lega bersamaan dengan kakaknya Galih.
Suasana tegang yang berlangsung lama kini mulai terurai dan reda, Galih kini bersandar pada mobilnya yang bercatkan merah, juga Janson yang terlihat menghembuskan nafas lega di sisi lainnya mobil sambil sekali lagi menatap wajah berseri di sebelahnya yang masih terlelap tidur.
Janson yang menatap Anaya dengan jarak sedekat ini menjadi tergerak untuk menyentuh ujung rambut Anaya.
"Melindungimu dari semua bahaya membuatku lega, hari ini aku fikir aku akan kehilanganmu namun itu tak benar. Anaya kenapa ya dadaku kini bergetar hebat. Jantung ini berdetak semakin kencang saja, andai kau mendengarkannya." Lirihnya saat kepala mereka saling bersentuhan di ujung rambut Anaya.
Di sisi lainnya Galih tampak memijat kepalanya yang terasa pusing dengan hanya memikirkan masalah hari ini saja, ia tak tau jika masalah yang sebenarnya baru saja datang.
Ruha mendarat dengan tanpa suara dan tanpa aura. Membuat Galih tak menyadari keberadaannya di sana.
'Kemana orang orang yang seharusnya berada di sini? Mengapa hanya suasana hening yang malah kudapat?' Dengus ruha lalu melangkah lagi dan kali ini memutar arah.
Galih beranjak berdiri dan ia bertatapaan mata dengan sosok ruha yang menyerupai binatang.
"Aaa.." Galih terkejut seketika itu juga.
"Apa yang kau lakukan? Ini hanya topeng. Lihat," Ruha balas berseru dan membuka penutup wajahnya.
"Kenapa kau melakukannya, siapa kau?" Galih tidak mengerti dengan hari ini.
Ruha yang terlihat seperti manusia terlihat aneh di mata Galih. Menatap Ruha dari ujung rambut hingga bawah kaki. Penampilannya sangat aneh.
Sama seperti Yui yang tidak mau mambuang buang waktu, Ruha memutuskan melangkah menyusuri setiap sisi mobil.
Ruha berhenti sejenak kala melihat gadis yang ia cari.
"Akhirnya aku menemukannya.." Ruha berjongkok di dekat Janson yang kembali tertidur.
"Hei, hei, hei," Galih mengitari mobil untuk mencegah Ruha.
Ruha tidak seramah Yui saat bertemu manusia, ia langsung bereaksi negatif terhadap pergerakan galih dan memukulnya mundur.
"Jangan beraninya mendekatiku manusia, aku tak ada urusan dengan makhluk sepertimu!" Ruha yang telah sempurna memukul perut Galih mendadak terhantam trotoar dengan perutnya yang mendarat terlebih dahulu ke bawah tanah.
"Aaaa.." Galih mengaduh tergulingan di tanah yang berlapis trotoar, mulutnya mengeluarkan beberapa bercak darah karena hantaman pukulan ruha.
Walaupun terlihat sepele tapi dampak yang ditimbulkan oleh pukulannya membuat Galih tak bisa bangkit dan melawan.
"Apa yang kau lakukan pada kakakku!!" Janson bergegas bangkit berdiri dan membentak Ruha yang berada tepat di depannya.
Ruha yang mendengar teriakan itupun tak menghiraukan teriakan dari Janson ia hanya membalas dengan kata kata tanpa perlu menoleh menatapnya.
Mata merah Ruha sedikit berbeda dari mata siluman kebanyakan, matanya memang berwarna merah saat melawan Xin di tepi sungai, namun kali ini mata Ruha sedikit berbeda, ada corak kekuningan yang mengalir di bola matanya.
"Aku sangat tak suka dengan manusia yang banyak berbicara seperti kakakmu ini, bocah!" Balas ruha. Dan yah aku hanya ingin bertanya satu hal. Apakah Anak gadis ini merupakan adiknya siluman yang ada di tepi sungai sana?" Seru Ruha sambil membalikkan badan secara tiba tiba, mengejutkan Janson.
Membuat anak lelaki itu perlahan lahan mulai mengangguk.
"Bagus, aku akan pergi dan jangan pernah kalian kembali ke dunia siluman jika tak punya urusan yang mendesak, karena dunia siluman sanapun sedang dalam keadaan kacau." Ruha berseru lalu hilang dari pandangan mereka berdua, di saat yang bersamaan mata Anaya perlahan terbuka. Ia telah bangun dari tidurnya dan menatap sekeliling dengan tatapan bingung.
Janson bergegas bergerak ke arah kakaknya yang pingsan dan membangunkan kakaknya yang mengeluarkan sedikit darah.
"Kakak, kakak!" Janson mencoba mengguncang guncang tubuh Galih yang tengah terkapar, darahnya masih mengalir dari mulutnya dan tidak berhenti, membuat Janson khawatir.
Di saat bersamaan, Anaya mendekat pada Janson sambil bertanya.
"Ada apa Janson kenapa dengan kak Galih... Dan bukannya kita tadi di hutan ya, kenapa kita bisa disini?" Tanya Anaya bingung.
"Entahlah Anaya, tapi kakakku tadi dipukul oleh siluman, padahal dia hanya bertanya tapi siluman itu malah menyerangnya. Kakak!!" Janson kembali mengguncang gungcang tubuh kakaknya.
Anaya yang awalnya tak mengerti maksud Janson menjadi melupakan tentang kenapa mereka bisa kembali dari pedalaman hutan, dan kini Anaya memilih memanggil kakaknya.
Anaya bergegas berbalik dan akan menuju ke tepi sungai, namun kakaknya sudah berjalan menuju ke arah mobil dan akan memasuki mobil. Anaya berpapasan dengan kakaknya.
"Kakak!"
Xin mendadak terhenti di sana setelah melihat Anaya, Xin langsung mendekat kearahnya dan memeriksa keadaannya.
"Anaya apakah benar kalian tersesat di dunia siluman?" Tanya Xin bersamaan dengan Anaya yang ingin meminta bantuan.
"Kakak kak Galih pingsan, darahnya tak bisa berhenti keluar." Seru Anaya.
Mereka berdua terdiam lalu Xin mendesis. "Yang benar saja. Apa siluman itu yang menyerangnya. Ayo kita lihat Galih." Xin berlari dengan wujudnya yang manusia, kini ia kembali menyamar menjadi kekasih Galih Keysha.
Galih masih terkapar tak sadarkan diri di atas trotoar dan Janson masih di sisinya menguncang guncang bahunya.
"Janson bisa tolong minggir, aku akan memeriksanya." Xin berbisik lalu segera mengambil alih situasi. Janson langsung menepikan dirinya dan membiarkan kakaknya Anaya yang mengatasi hal seperti ini.
Xin menggunakan sihirnya untuk mengetahui dimana posisi lukanya, ia mulai melihat bagian dalam tubuh Galih, ada luka di bagian lambungnya akibat pukulan siluman, ia tau siapa yang membuat Galih terkapar seperti ini jika bukan siluman yang juga melawannya di tepi sungai.
Xin fokus menyembuhkan luka di lambung Galih dengan sihir penyembuh. Juga menggunakan energi dari hati ular yang sudah ia masak.
Menyembuhka luka di lambung sedikit sulit karena Xin harus berhati hati melakukan sihirnya di dalam tubuh manusia. Karena salah sedikit saja bisa membuat keadaan Galih tambah parah.
"Sudah. Janson kau sekarang tidak perlu panik lagi. Galih sudah diobati. Luka di lambungnya sudah hilang. Kau tenanglah." Xin berbicara sambil menoleh menatap Janson yang terlihat menangis walau hanya beberapa tetes air mata.
Di sampingnya Anaya berusaha memenangkannya dengan menepuk nepuk bahunya.
"Tenanglah Janson, kak Galih sudah baik baik saja dan lukanya sudah disembuhkan, tenanglah." Anaya masih bicara padanya.
"I iya.. Hiks."
Melihat kedekatan mereka Xin hanya menatap sambil tersenyum simpul, ia tak menyangka akan menjadi akrab dengan manusia.
Dulu Ayahnya dan Ibunya sangat melarangnya untuk bertemn dengan manusia, itu pernah dilanggar oleh Xin dan akibatnya sangat fatal.
Xin dimanfaatkan oleh manusia, dan tenaganya juga terkuras karena sebagian kecil diserap oleh manusia ke dalam sebuah pusaka yang selalu ia bawa.
Dan manusia itu masih terus menerus mengganggu keluarganya.