
Setelah kejadian yang hampir mencelakai Janson kemarin, aku lebih berhati hati. Aku menawarkan diri mengantar Janson. Aku mengerti sekarang, bahwa sosok anak kecil itu muncul ingin menahanku di kebun teh itu. Menahan kami sampai montir itu datang. Tapi gara gara aku yang tidak sabar minta pulang, jadi hal itu terjadi. Ini memang salahku.
"Anaya, " Janson menepuk lengan gadis itu. Dia melamun, entah memikirkan apa.
"Eh, iya Janson!" Anaya menoleh pada anak lelaki itu. Janson mulai melangkah ke depan pagar.
"Ayo. Anaya katanya mau mengantarku pulang, kau juga bisa menginap, Aku akan mengenalkan Ayahku padamu nanti." Janson kini sudah sampai di depan pagar.
Anaya bergegas meraih sepedanya. Rumah Anaya sudah sempurna terkunci, agar orang tidak masuk. Gadis itu menyimpan kunci di jaketnya, yang bercorak bunga.
Janson memakai mantel coklat milik Anaya, kebetulan cuaca dingin. Pakaiannya kemarin sudah dikeringkan. Keluarga Anaya mempunyai listrik cadangan, dia harus ke ruang listrik di rumahnya, berada di lantai tiga. Dan menyalakan tuas itu. Ayahnya dulu pernah mengajarinya, Anaya merupakan anak yang cerdas, cepat mengerti, memahami sesuatu.
"Ayo, Anaya." Ucap Janson sembari membuka pagar, dia mulai mengayuh sepedanya. Anaya segera menghentikan lamunannya, sebelum ia tertinggal. Karna ia sendiri yang menawarkan diri untuk mengantar Janson sampai rumahnya.
Mereka terus mengayuh sepedanya, sambil sesekali bercakap cakap.
"Jon, apa aku boleh memanggilmu Janson?. Nama itu lebih bagus untuk di sebuatkan!" Sepeda Anaya menjejajari sepeda Janson. Ia menoleh sekilas lalu fokus lagi kedepan.
"Boleh, kau boleh memanggilku Janson. Atau panggil Bram juga boleh Anaya! Nah dari sini kita belok kiri," Janson membelokan sepedanya mengambil jalur kiri, kami memang di pertigaan. Harus mengambil satu jalur. Aku juga memperhatikan sekitar, agar aku bisa pulang ke rumahku, jika sudah mengantarnya.
kami melewati lapangan bola, ada taman, jembatan kayu, juga toko sepeda. setelah itu kompleks perumahan anggrek A. Sedangkan kompleks perumahanku adalah Melati M. Aku tidak tau ternyata kompleks ini jauh lebih padat. Dari sejak paman Hans pernah bilang padaku. Dia teman papa dulu, tapi paman Hans pindah sejak kepergian Ayah. Dia pernah tinggal di perumahan ini.
Kami berdua telah sampai di gerbang masuk kompleks itu. "Ayo Anaya!, aku akan mengenalkanmu pada Ayah, Paman, dan Bibiku." Aku bergegas mengikuti kayuhan sepedanya. Dan kami berhenti setelah berbelok dua kali. Aku menatap rumah indah nan megah, banyak bunga di tamannya ini bahkan lebih indah dari taman milikku.
"Ini rumahku. Anaya." Ujar Janson seraya menoleh ke arahku. " Indah sekali rumahmu. Janson, lihat bahkan aku tidak punya bunga Tulip. Itu pasti mahal.
"Akh.. tidak, itu bukan milikku!!" Ujar Janson. Anaya menoleh tidak mengerti menatap temannya dengan tanya.
"Itu milik Bibiku. Dia sangat menyukai bunga. Apalagi tulip. Tapi aku lebih suka bunga Rafflesia Arnoldi dan bunga bangkai!!" Anaya menatap Janson tidak percaya, 'kebanyakan orang akan menyukai bunga yang berbau harum. Tapi kenapa anak lelaki yang satu ini malah menyukai bunga bangkai'. Fikir Anaya demikian.
"Kau tau, aku punya alasan untuk itu, ku jelaskan nanti. Ayo kita akan masuk." Ajak Janson seraya menggandeng tangan Gadis itu, Anaya menoleh tidak mengerti menatap Janson. Sikapnya Janson. Kadang menyebalkan, kadang juga manis yah!
Anaya dan Janson tengah melangkah melewati taman yang luasnya sekitar 3,5 meter. Anaya memperhatikan tiap jengkal sudutnya, ada beberapa pohon mangga yang rindang di bagian tengah dan sudut sudut taman. Sedangkan keduanya tengah melewati jalan setapak.
Anaya menatap kagum pada keindahan taman Janson, bunga mawar, tulip, matahari dan melati berjejer rapih, dengan rumput yang sudah di pangkas rapih. Sebenarnya di tengah taman Janson ada tempat duduk di bawah pohon rindang. Mungkin itu tempat untuk Janson kala ia sedang malas pergi keluar rumah.
Keduanya kini sampai di pelataran rumah Janson, Anaya menatap rumah Janson.
"Rumahmu lantainya sampai berapa?" Tanya gadis itu, ternyata Janson anak konglomerat.
"Sampai lantai lima." Ucap Janson pelan, dia tidak suka nada Anaya yang terlalu menganggapnya spesial. Bagi Janson menjadi salah satu keluarga kaya bukan sesuatu yang harus di banggakan. Bahkan kalau setelah dewasa Janson tidak becus dalam pekerjaannya, dia mungkin akan terasingkan dalam keluarganya sendiri.
Karena sudah turun temurun didikan keluarganya keras. Ya memang! Sekarang Janson menikmatinya. Tapi saat sudah beranjak remaja, peraturan ketat menunggunya.
"Tolong jangan memandangku dengan tatapan penghargaan Anaya, kau tau aku keluar jalan jalan karena Ayahku memang melarangku berpergian jauh. Dulu tidak pernah." Ucapan Janson yang mendadak membuat Anaya menoleh.
"Janson.. Maaf, tapi kau masih beruntung memiliki orang tua yang selalu menyayangimu. Walaupun didikan mereka keras. Aku tahu itu untuk kebaikanmu! Jadi kau mau mengajaku masuk atau tidak?" Tanya Anaya riang. Janson tersenyum lalu mengangguk.
Matahari sudah merangkak naik, menunjukan pukul 08.35 pagi. Janson membunyikan bel berkali kali.
"Apa tidak ada orang?" Tanya Anaya. Janson mengangkat bahu. Beberapa menit menunggu pintu di hadapan mereka terbuka. Muncul seseorang dengan pakaian pembantu, wanita usia 30 tahun.
"Bibi Ina." Janson terkejut dan mendekati wanita itu.
"Tuan Muda, oh.. Syukurlah. Anda sudah pulang. Kemana saja seharian ini. Anda pergi kemana, dan semalam-" Bi Ina melihat leher Janson yang dibalut perban serta pelipis yang masih ada kapas dan obat merah. Dia kini beralih memandangku yang berpakaian rapih. Bi Ina melihat siku ku yang juga dibalut kapas.
"Ya, ampun. Tuan muda tidak apa apa.. !!" Dia berteriak mengabaikanku yang tersenyum ramah.
"Aku baik Bi, aku baik baik saja. Sudahlah."
Janson menepis tangan Bi Ina, "Kamu.. Apa yang telah kau perbuat pada Tuan Muda!!!" Dia beranjak mendekatiku seraya memegang lenganku dengan kasar. Janson terperangah melihat sambutan pembantunya yang tidak ramah, aku gemetaran tidak menjawab.
"Bi, jangan sakiti Anaya. Dia temanku. Dia yang justru menolongku. Dia tidak menyakitiku Bi!!" Janson melepas genggaman Bi Ina yang mulai menyakiti kedua lenganku. Janson menghalangi Bi Ina menyakitiku.
Bi Ina mundur perlahan, menatap Janson bingung. Dan kemudian menyuruh kami masuk. Tatapan kebenciannya padaku memudar.
"Ayo, Anaya. Jangan masukan hati sikap Bi Ina, dia sebenarnya baik kok!" Janson kembali menggandeng tanganku dengan lembut.
"Aku akan mengobati lenganmu juga, ok!!" Lanjutnya,. Aku mengangguk lalu tersenyum.
"Trimakasih banyak. Janson."
Pembantu itu mengangguk tanpa banyak tanya.
Sementara di atas lantai, Ayahnya Janson tengah bercakap cakap dengan Kakek Janson. Tengah membicarakan Janson tentunya.
"Yah, terserahlah Ayah, jika anak itu tidak kunjung pulang selama beberapa hari. Aku akan mencarinya sendiri. Jangan cemas dia tidak akan pergi jauh. Paling jauh sekitar Enam kilo dari sini. Tentu.. Aku belum mendidiknya keras, dia hanya ku larang pergi jauh. Iya, hanya itu. Tenang saja firasatku dia baik baik saja. Mungkin dia terluka. Tapi itu sebagai pelajaran agar mematuhi perintah orang tua. Yah Ayah, akan ku telfon lagi."
Pembicaraan itu terputus ketika seseorang tengah mengetuk pintu di kamar itu. Ayah Janson membuka pintunya, tampak seorang pembantu memberi kabar. Ayahnya Janson tidak terlihat gembira.
"Yah, nanti aku akan ke bawah, Janson bersama siapa?"
Pembantu itu berbisik, sedangkan di bawah Bi Ina tengah mengantarkan sepiring kue dan susu hangat untuk kami berdua.
"Trimakasih." Ucapku, pembantu itu tersenyum tipis lalu bergegas pergi dari hadapanku melangkan ke dapur.
"Ayo, Anaya cicipi kue itu. Enak sekali. Kamu pasti suka." Janson berkata antusias padaku. Aku sejenakengangguk meraih kue itu. Astaga!! Rasanya memang lezat. Aku sejenak menikmati tiap gigitnya, hingga Janson bergumam pelan lagi.
"Anaya, jangan kaget ya melihat perlakuan Ayahku." Ucap Janson pelan.
"Kenapa?" Ucapku, memandangnya binggung.
Seraya menaruh gelas, setelah melahap beberapa kue itu.
"Em.."Janson meraih gelas susu. Dia sedang memakan kue di atas meja. "Karena.." Janson memunum lagi susu itu. Aku memperhatikan.
Prok!!! Prok!!! Prok!!!
"Wah,. Wah,. Wah,. Ada tamu yang datang kenapa tidak memanggil Ayah, Janson? Kau tidak ingin mengenalkannya?"
Kami berdua yang tengah berbincang, memdadak bergegas berdiri. Suara yang Janson kenali, suara orangtuanya.
"Ayah.." Janson seakan tidak ingin berbincang dengan Ayahnya, kalimatnya agak menekan. Wajah Ayahnya menyunggingkan senyum, tapi bukan senyum ramah melainkan senyum sinis.
Ayahnya, sudah sempurna berada dihadapan kami, dia memandangku. "Kau, bukan? Penyebab Janson terluka seperti ini!!?" Tanaya ayahnya dengan suara tegas dan menekan.
"Ayah, sudah cukup!. Dia telah menolongku."
Sergah Janson. "Tidak Janson, biarkan Ayah bicara pada Gadis ini. Apa yang membuatmu berani menyakiti Janson!!" Tegasnya mulai mendesakku.
Aku menunduk, dengan tangan gemetar. Aku belum pernah di bentak bentak keras seperti ini. Pertama oleh pembantuku, kedua oleh tetanggaku, ketiga oleh orang orang sekitar, ke empat pembantu Janson, dan kelima oleh Ayahnya.
"Ak,.. Aku.." Ucapku lirih mulai menangis, "Ayah sudah cukup!!"Janson menahan lengan Ayahnya, menghalangi agar tidak menyakitiku.
"JAWAB!!" Bentak Ayah Janson.
"Ini semua kecelakaan,.." Kalimatku lirih.
"Kalau begitu, ceritakan dengan lengkap!!"
Aku menunduk menatap lantai, di bawah tatapan tajam ayahnya Janson. Sembari terisak aku bercerita. Janson mendekatiku menguatkanku. Ketika cerita itu sampai di tengah tengah, setelah kecelakaan yang menewaskan kedua Orangtuaku, dan kejadian misterius lainnya.
"Hingga aku tidak sengaja menabrak Janson, Dan kejadian malam itu terjadi. Tapi aku berhasil menyelamatkannya. Tapi, dia akan terus mengintaiku, dia inginkan nyawaku. Aku tidak bisa melawannya kalau tidak ada keajaiban saat itu. Kalau saja tidak ada sosok Gadis kecil misterius itu. Aku tidak bisa membawa Janson kesini hidup hidup. Maafkan aku!! Aku yang salah." Aku bertekuk lutut di hadapan Ayahnya Janson.
"Bangun!" Ia berkata tegas, sembari mempersilahkan aku duduk.
"Aku tau apa yang sebenarnya terjadi padamu. Dan dalam hal ini, aku tidak menyalahkanmu. Ini hanya Kecelakaan. Maaf jika sikapku kasar! Namaku Fariz. Ayahnya Janson."
Janson menatap Ayahnya bingung. "Ayah tidak marah?!" Fariz menggeleng.
"Aku tidak berhak menyalahkan Anaya, Janson karena dia juga korban. Korban dari keganasan penghuni hutan sana!"
Janson tertegun sejenak lalu mengangguk.
"Jadi ayah pindah ke sini karena itu?" Janson memotong pembicaraan.
"Tidak Janson kau salah, sejak 40 tahun lalu. Kakekmu sudah berusaha melawan sekaligus melindungi kota ini. Namun beliau tidak sanggup. Hingga Kakekmu sakit dan harus pindah dari kota ini. Dan hal itu terjadi karna kau memiliki darah yang istimewa Anaya!"
Fariz memegang bahu kanan Anaya, gadis itu mengusap air matanya. Menatap Ayah Janson dengan bingung. Darah istimewa. Apa maksudnya?