
Malam hari yang tenang semakin larut, semua keheningan yang terjadi di ruangan rapat di rumah Heng masih terjadi, Qiunaya masih menyimak secara saksama beberapa pertanyaan lagi dan jawabannya, hal itu amat menguntungkan sebagai informasi tambahan untuknya.
Seseorang yang hendak bertempur tidak akan pernah bisa meraih kemenangan itu dengan mengandalkan tenaga saja, sebuah stategi diperlukan untuk itu. Maka inilah stategi Qiunaya mengalahkan lawannya.
Pura pura lemah sementara sama sekali bukan hal sulit.
"Di dalam gulungan ini juga masih banyak jenis jenis hewan yang kau sebut tadi Anaya, mana yang paling mirip?" Quen bertanya.
"Hewan itu lebih mirip Belut Naga Listrik Nenek Quen, aku yakin." Jawab Anaya.
'Astaga jika itu benar bagaimana ini?, hewan itu jelas berbahaya. Kapanpun hewan itu akan datang maka akan ada kekacawan lainnya. Apa yang harus ku lakukan, bisakah aku yang akan menghadapinya sendirian? Kenapa firasatku mengatakan ada kebohongan di balik perkataan Anaya hari ini.' Quen bertopang tangan sambil duduk terpisah dari ruangan itu, Quen berdiri dari kursinya dan meninggalkan ruang tempat diskusi.
Sedangkan Rey dan Heng masih berdiskusi di pojok ruangan, membiarkan Quen yang tertekan dengan fikirannya sendiri.
Kecemasan akan ancaman barupun mulai terjadi lagi, melihat hal tersebut Rey menyuruh mereka untuk kembali ke dalam kamar masing masing, bembuat seasana kembali terkendali.
"Jangan khawatir, semua akan baik baik saja." Ucapnya pada Anaya, Janson dan Dian yang menatap mereka berdiskusi di pojok ruangan.
"Apa benar Nek, tidak akan terjadi hal mengerikan lagi kan?" Tanya dian dengan raut pucat.
Selama ia diculik oleh Sosok Hitam Misterius bernama Wayana saja ia sangat ketakutan, entah dirinya, Bi Marni dan Mila dibawa kemana, mereka diculik semenjak kepergian mereka dari kediaman Anaya.
Baca Eps 2 (Kejadian Lain)
Hal hal mengerikan yang pernah Dian alami dan lihat selanjutnya ketika Sosok Misterius itu membawa orang lain yang tak kalah Dian kenali, yaitu Bi Imah tetangga Anaya. Hal itu terjadi ketika Sosok itu telah mengikat mereka bertiga di pohon hitam yang terpisah.
Bi Imah tidak diam saja ketika akan diculik ia melakukan perlawanan, namun apa artinya sebuah pukulan kecil jika dibandingkan dengan sihir.
Bi Imah ditawan dengan keadaan kepala yang terluka, darah terus menetes dari kepalanya akibat terbentur ke bawah trotoar jalan.
Bukannya mengobati Sosok itu malah menghukumnya dengan membuat tubuhnya tergantung, keadaannya terbalik. Darah dari kepalanya terus menetes, ada bekas sayatan juga di punggung Wanita Paruh baya itu.
Mengenaskan sekali ketika Dian membayangkan kejadian satu tahun lalu itu, seperti terulang lagi di pelupuk matanya.
Dan apa yang Wayana itu bilang padanya, "Mari kita lihat, seberapa tahan ia bertahan. Aku akan menahan kalian sampai aku bisa menghabisi Gadis bernama Anaya. Berharaplah Gadis itu menyelamatkan kalian.. Hahahahaha.." Wayana tertawa jemawa dengan wajah hitamnya yang menyeramkan.
Bi Marni, Dian dan Mila saat itu tidak bisa berbuat apa - apa, selain pasrah melihat tetes demi tetes darah Bi Imah di depan mereka terus keluar dan membanjiri tanah.
"Kalian tau.." Bi Imah tersadar di atas sana, suaranya masih terdengar lantang.
"Aku salah mengenai Gadis itu, dia bukan pembawa kutukan. Ia bagian dari siluman. Sosok Hitam itu bercerita kalau mereka berurusan lama dengan keluarga Anaya. Tapi aku tak tau itu urusan macam apa? Sampai kita terlibat di dalamnya." Bi Marni, Dian Dan Mila tercengang mendengar perkataan dari Bi Imah.
'Bagian dari siluman?' Dian berujar di batinnya.
"Dian kau baik baik saja?" Tanya Rey padanya.
Sedari Rey mendengar ungkapan Dian yang terdengar ketakutan itu Rey tau bahwa Dian butuh suasana yang tenang setelah kejadian dengan Wayana terjadi padanya dan keluarganya.
"Tenang saja Dian, belum tentu hewan itu ada di sungai abadi dekat sini, tak perlu khawatir." Rey berusaha menenangkan Dian sambil memegang bahunya, Rey tersenyum padanya.
Qiunaya memperhatikan ke arah mereka, bahunya ditepuk Janson dari samping.
"Ada apa Anaya, apa yang kau perhatikan?" Janson bertanya. Sedari tadi tidak tampak satupun rasa cemas atau takut pada raut wajah Anaya, ia tampak dingin.
"Tidak papa Janson, aku hanya memperhatikan." Qiunaya memilih berkata datar dengan nada dingin.
*****
"Putra Mahkota, maafkan saya karena selama ini gagal menjaga Putrimu dan cucumu di dunia manusia, aku sudah berusaha menyelamatkan mereka dari serangan Shayana, maafkan kelemahanku ini yang tidak bisa melindungi penerusmu dan cucumu. Aku bahkan kehilangan jejak mereka karena mereka tinggal berpindah pindah. Apakah Putra Mahkota selamat dari serangan Shayana, anda dimana yang mulia?" Quen menjadi sedih dan murung sambil memandangi bulan purnama yang terlihat kebiru biruan tipis.
"Anda dan Laras harusnya bisa bersama jika saja tidak dibatasi oleh ambisi kerajaan, aku tau Anda tidak berminat jadi penguasa, juga Gadis manusia tak tau apa apa tentang ambisi Ratu Shayana. Sungguh malang nasib kalian, Laras dan Pangeran Kezi." Malam itu Quen merasa kembali lagi mengulang masa lalunya yang tak bisa terlepas dari ingatannya begitu saja.
Tentu saja, ketika suatu kejadian buruk di masa lalu tidak bisa dilupakan oleh seseorang, itu akan menjadi satu titik lemahnya, menimbulkan perasaan trauma bagi orang tersebut.
Itu yang tengah melanda Quen saat ini, ketidak mampuan dirinya dalam mengalahkan musuh membuatnya diselimuti rasa penyesalan yang mendalam. Terlebih Putra Mahkota yang dalam bahaya saat Quen berusaha mengeluarkan Laras dari dunia Siluman di perbatasan hutan KIONH.
Quen mengabaikan semua masa lalu dan segera terlelap dalam tidurnya, setelah puas menatap bulan purnama ia berbaring di ranjangnya.
*****
Angin kencang tertuju pada Kezi yang telah memasang kuda kuda kokohnya, di hadapannya Siluman Wayana, Mayana serta pasukannya tengah bersama sama menyerang Kezi dan Quen. Terutama bayi yang tengah Laras kandung.
Pertahanan Kezi menjadi melemah saat mendapat serangan pertama dari Shayana.
Shayana melepas tombak yang mengeluarkan jaring transparan berwarna merah ke arah Kezi, benang itu segera meringkusnya. Kezi tidak bisa meronta dengan kondisinya yang tengah terikat. Hanya bisa bernafas dan berseru pada Quen.
"Lari Quen!! Selamatkan Laras dan Bayinya.. Kumohon padamu! Pergilah dari sini." Kezi berseru.
Quen mencengkram lengan Laras dengan kencang, ia siap melesat dari sana, namun Laras lebih dulu berseru padanya.
"Kezi, tidakk! Aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi, .. Quen bantu suamiku. Kumohon!" Mata Laras sedari tadi terus menerus mengeluarkan air, tak berkesudahan.
Sedangkan Shayana tengah melawan Shi ya dan pasukannya. Bantuan datang pada saat terakhir. Kini Ibu dan Anak tengah berdebat di arena pertempuran.
Hubungan merekapun dipertaruhkan, namun itu tidak terlalu penting untuk sekarang, karena masalah ini bermula dari Ambisi ratu tersebut untuk berkuasa. Kalau saja Kezi bisa menghentikannya dengan cara berbicara dahulu, mungkin ini semua tak perlu terjadi.
Dari dalam pertempuran melesat Wayana yang tengah mengejar Quen dan Laras.
Salah satu Jaring transparan merah itu terlepas sedikit, tangan Kezi bisa terbebas ia melepaskan pertahanan di sekeliling Laras dan Quen.
BUM!
Wayana berusaha merobek pertahanan yang dibuat Kezi.
"CEPAT TINGGALKAN TEMPAT INI.. LARAS, QUEN!! LARAS TOLONG JAGA BAYI KITA, BERI NAMA DIA DUA NAMA DARI BANGSA MANUSIA DAN SILUMAN, TERUTAMA CUCUMU KELAK LARAS, BERI DIA NAMA 'ABADI' YANG ARTINYA QIUNAYA, 'FANA' ARTINYA ANAYA. SELAMATKAN DIA QUEN!" Kezi berteriak memberi tahu.
Sementara di balik tameng tebal yang dibuat Kezi, Quen terlihat bersiap siap melesat meninggalkan area pertempuran.
Meskipun Laras terus meronta ronta minta dilepaskan, Quen tetap membawa paksa Laras sesuai pesan Kezi padanya.
"Lepaskan aku Quen, TIDAAAKK KEZI.. AKU SUDAH KEHILANGAN ORANG TUAKU, JANGAN KAU JUGA.." Laras ikut berteriak.
"Jangan hawatir Laras sayang, aku akan berusaha bertahan demi bayi kita. Aku tidak akan musnah secepat itu.." Kezi bergumam.
"Ayo kita pergi Putri Laras." Quen melesat membawa Laras.
"KEZI, TETAPLAH.. HIDUPPP.." Laras kembali berteriak di atas awan yang membuat keduanya lenyap dalam sesaat, itulah pintu perbatasan dua dunia.