
Sepanjang perjalanan Fariz hanya berdiam diri. Dia sudah melakukan apa yang dia bisa. Juga memberikan keterangan yang sebenarnya. Tetapi pihak kepolisian tidak menerima keterangannya tersebut dikarenakan kekurangan bukti. Fariz sangat kesal kepada dirinya sendiri karena tak mampu menyelamatkan Anaya. Dan juga Janson, yang sekarang dianggapnya sudah tiada terbakar di rumah Anaya.
Tanpa sadar Fariz meneteskan air mata sepanjang perjalanan pulang.
...ΩΩΩΩΩ...
Di waktu yang sama, namun di tempat yang berbeda. Tiga orang sedang memperbincangkan suatu hal. Yaitu permasalahan yang sulit dipecahkan.
Ketiganya sengaja bersembunyi di semak-semak belukar yang tebal, mereka bukan Janson, Anaya, ataupun Shi ya (yang merupakan Ratu yang di dunia siluman.) Mereka hanyalah tiga orang biasa yang ingin menolong beberapa orang saja.
Terlihat seseorang di kejauhan, dan itu adalah ular-ular raksasa sebesar pesawat terbang dan sepanjang emat ratus meter.
Di setiap jengkal sudut mata memandang hanya terlihat ular-ular raksasa yang tengah berjemur di bawah sinar mentari saja.
Mereka terus memperhatikan, menimbang nimbang situasi yang tepat untuk menyerang kawanan besar ular raksasa tersebut. Tentu saja di hadapan ketiganya bukan hanya ular raksasa melainkan kerumunan besarnya.
Ketiga orang itu tidak lain adalah Heng, Rey, dan Quen.
"Rey bertanya pada Heng. Apa yang harus Rey lakukan Heng?" Perempuan berusia lanjut itu bertanya pada rekannya. Namun Heng tidak menjawab hanya bisa terdiam. Yang sedang memikirkan sesuatu cara sejak tadi bahkan sebelum Rey mulai bertanya.
"Sebentar aku akan memikirkan caranya Rey." Heng menahan Rey sebentar. Namun Rey balas berseru.
"Tidak perlu berpikir lagi Heng, Rey akan langsung menyerang ular-ular itu!" Ray berseru atas apa yang diucapkan oleh Heng.
"Rey kita harus menyusun rencana terlebih dahulu." Quen juga berseru menahan langkah Rey. kera yang sudah beberapa langkah meninggalkan rekan-rekannya Berseru dan menoleh.
" Rey bisa melakukannya sendiri!" Tanpa dicegah siapapun Rey maju menyerang ular-ular itu, ular-ular itu sadar mereka sedang dalam keadaan terancam. Rey menyerang dengan golok tajam nya dan serangan pertama meleset karena ular itu menepisnya cepat. Untuk pertama kalinya Rey tak pernah menyangka serangannya melesat.
Teman-temannya juga ikut terperangah karena Rey melayang-layang dan jatuh tepat di bebatuan kerikil tajam. Untunglah Rai tidak apa-apa hanya terluka di lengannya saja, kondisi fisik Rey sangatlah kuat tidak seperti manusia biasa. Ray bahkan tidak meringis kesakitan oleh batu batu kerikil tajam itu.
dengan keadaan yang terpaksa Heng dan Quen bergegas maju untuk melawan ular ular raksasa itu.
"Sudah kubilang untuk menunggu! Kau tak mau dengar perkataanku!" Heng berseru kencang atas tindakan gegabah Rey barusan, "tidak Bisakah kalian sekarang berhenti bertengkar! Kita dalam situasi sulit, kalian masih saja bertengkar." Quen menyela di antara perdebatan Rey dan Heng, karena halang rintangan yang mereka lalui itu sangatlah sulit, dan yang ungkapkan beberapa menit lalu sangat mengejutkan. ketika Heng bilang mereka akan berhadapan langsung dengan dua siluman bernama Wayana dan Mayana.
"Hal ini kulakukan untuk menyelamatkan seseorang Quen." Itulah alasan Heng.
Ketiganya kembali menyerang ular-ular yang berukuran raksasa itu, Heng mencoba menyerang kulitnya namun sayangnya kulit itu seperti batu, sangatlah keras. Dengan mudahnya ular itu mencengkram kaki Heng saat ia tengah lengah, ular itu segera menggantungnya di langit-langit, saat itu juga Heng tergantung terbalik. Heng mulai kembali melawan dengan Mengayunkan pedangnya menebas ekor ular. Untunglah ekor itu bisa ditebas oleh senjata.
Ular itu mendesis kesakitan. Itu adalah satu-satunya kelemahan ular itu, dan juga satu-satunya tubuhnya yang bisa diserang yaitu bagian ekornya, ekor itu bisa diserang sepanjang 4 meter saja. Karena bagian itulah yang masih belum keras.
Tapi tampaknya kedua sahabat Heng tidak menyadari kelemahan ular itu. Rey sedang asyik menyerang kepalanya bertubi-tubi, sedangkan Quen sedang menyerang bagian perut ular.
Ular yang tadi terputus ekornya mendadak menjadi linglung dan terhuyung jatuh. Heng sangat heran apa yang sudah terjadi?
Tetapi itu memang satu rekan-rekannya ikut menyusul maju menyerang. Sampai Heng tidak sempat memikirkannya, ia memilih melanjutkan pertarungan.
Disisi lain keadaan Quen tengah dikerubuti tiga ular raksasa, lantas ketiga ular raksasa itu serempak menyerangnya sehingga Quen terlambat menghindar. Rey yang juga tengah kewalahan karena menghadapi ular lain tidak bisa membantunya, hanya Heng yang belum di serang. Heng memutuskan mendekati Quen dan membantunya.
"Hiaaa.." Ular yang hendak menggigit Quen ekornya telah ditebas oleh Heng.
Ular itu mendesis kesakitan, melihat ekornya yang terputus Quen menyadari sesuatu. Ular itu segera terhuyung jatuh.
"Heng, apakah kelemahanya itu ekor?" Dengan nada yang sangat antusias Quen bertanya.
Heng hanya bisa mengangguk menjawabnya. Wajah Quen tampak gembira.