
Perhatian darurat, To the dead akan berganti judul dan juga merangkum masalah dari awal.
bagi yang tetap setia silahkan baca,
cover baru..
judul baru, serta cerita yang lebih mendetail.
ini adalah gambar bagian depannya.
ceritanya mungkin akan jauh berbeda, dengan beberapa nama yang di perbaharui.
...----------------...
Searching for identity (mencari jati diri)
Angin kencang yang akan membawa suhu dingin menguar di segala arah. Daerah itu dingin karena memang berada di antara perbukitan yang masih alami, membuat suhu udara berada pada 12 derajat.
Saat itu memang sedang memasuki musim penghujan, tentu saja suhu udara mulai berubah.
Kabar perubahan cuaca biasanya selalu dikabarkan lewat koran atau layar televisi kabel. Pembawa acara sesekali menyiarkan acara khusus saluran cuaca di penjuru negri. Meskipun rata rata penduduk tidak banyak yang tau tentang detailnya. Namun untuk para petani di kawasan perbukitan hal itu amat penting, atau bagi sebagian kecil warga lain disana.
Di antara bukit bukit yang cukup tinggi tepatnya di bawah lembah suatu gunung berapi. Terdapat suatu kota kecil. Kota itu berada di antara bukit dan dikelilingi oleh hutan, satu satunya jalan untuk meninggalkan kota hanyalah jalanan berbatu yang didominasi oleh tanah. Tanah itu becek jika terkena guyuran hujan. Dan kota itu tak bisa leluasa dalam meminta bantuan jika terjadi badai. Siaran radiopun tidak berfungsi pada saat saat genting, dikarenakan minimnya menara sutet.
Meksipun keterbatasan dengan minimnya teknologi komunikasi kota ini terbilang berkembang karena sering kali mengirimkan bahan makanan ke luar kota, mulai dari sayur sayuran, buah dan juga makanan siap saji.
Meskipun kerap dilanda bencana banjir dan tanah longsor di kawasan yang memang rentan, penduduk kota tidak kekurangan bahan pangan. Mereka punya gudang besar untuk menumpuk hasil panen di setiap tahun. Sebagian di simpan dan sebagian diolah atau di jual ke kota lain. Dengan kata lain kota mereka cukup terkontrol dengan baik.
"Wow, kota ini lumayan juga ya.. " Pria muda berseru senang di kursinya. Ia baru saja selesai membaca berita singkat di koran tentang kota tersebut.
"Hebat apanya? " Seorang perempuan yang membawa secangkir teh hangat keluar dari dalam bingkai pintu rumah, ia keluar menghampiri lelaki yang tengah duduk di serambi rumah, pria berparas tampan itu adalah suaminya. Pria itu sumringah setelah membaca koran hariannya.
"Eh, " Suaminya itu menoleh pada istrinya yang cantik jelita. "Tidak ada" Suaminya mencoba memperbaiki ekspresinya, ia melipat senyumnya karena terlihat aneh dan canggung. Tatapan istrinya tidak berpaling setelah meletakkan dengan sempurna teh tersebut di atas meja. Lalu perlahan duduk di kursi rotan beriringan dengan suaminya.
"Apakah mas membaca berita kota itu lagi?" Tanya Istrinya berusaha melirik halaman yang tengah Suaminya baca.
Seolah takut ketahuan, suaminya segera melipat koran tersebut dan meletakkan di samping cangkir teh, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Bohong!" Istrinya cemberut mendengar nada suaminya. "Mas gak akan kesana bukan untuk membuka usaha? Aku gak setuju!" Istrinya kini memalingkan wajahnya.
"Dek, ini kesempatan baik. Mas dengar lahan pertanian di sana sangat subur. Jadi Mas mau mencoba usaha di sana."
"tetap saja Linda tidak setuju mas, bukannya mau nolak rezeki. Tapi firasat Linda gak enak. Apalagi kotanya terpencil begitu! Kan semakin mencurigakan." Linda menjelaskan alasan mengapa ia cemberut marah.
Suaminya memperhatikan ke arah linda lama. "Hoo ternyata itu toh!" Tangan suaminya mendadak merangkul bahu linda, sontak linda terkejut.
"Iih mas awan kok tiba tiba sih?" pipi linda sedikit memerah.
"Jadi kamu takut aku kenapa napa ya sayang?" Tanya suaminya awan tepat di telinga linda.
"Bu.. Bukan begitu!" Ucapan linda terbata.
"Jangan khawatir. Aku akan menjaga kalian kok. Oke?" Hermawan berbisik pelan.
Dengan wajah merah merona linda mengangguk.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Huh, berat sekali ya!"
"Ya iyalah, namanya juga barang barang. Ya berat, kalau yang enteng itu namanya kapas."
"Bisa aja lo di, eh tuan kemana nih. Semua barang barangnya udah dibawa masuk!"
"Entahlah wan, nanti ku kirim pesan deh."
Sejenak Aditya merogoh saku celananya, mengeluarkan telepon genggam. Mengetiknya sesaat dan memasukannya kembali.
...----------------...
yah segini dulu kisi kisinya...
jangan lupa baca ya :)