
Janson beranjak kembali ke luasnya ilalang tepi sungai tadi, ia menembus banyak semak semak belukar sana, ia sampai bolak balik keluar masuk hutan hanya untuk menemukan Gadis yang ia khawatirkan.
'Anaya, kau dimana? Aku khawatir denganmu. Aku mendengar dari Kak Dian kau tidak ada di dalam rumah setelah aku berpapasannya di depan pintu! Anaya kumohon kau jangan hilang lagi..' Janson berkeliling di pedalaman hutan, usai ia bertemu dengan Dian tadi.
BEBERAPA SAAT LALU.
Janson berbalik lama menatap jalan setapak yang dipenuhi bebatuan kerikil, karena Janson tadi mendengar suara aneh dari arah sana, rasa penasaran menyeruak di batinnya membuat ia melamun sejenak. Beberapa lama kemudian dari dalam rumah Dian keluar dan hendak lewat pintu, ia melihat Janson yang sedang mematung melamun, seperti memikirkan sesuatu.
"Hei kau, Janson. Hei!" Dian sengaja memanggil manggil namanya dari samping bahu Janson namun Janson tidak mendengarnya, Dian kemudian mencoba cara lain ia menepuk nepuk - nepuk bahu Janson.
Beberapa kali memang tidak ada respon, tapi Dian terus menepuk bahu Janson tanpa henti.
'Bocah satu ini kenapa sih!'
Merasakan tepukan yang bertubi - tubi mendarat di bahunya, Janson- pun menoleh karena rasa penasaran terhadap orang tersebut.
Dian menatap Janson dengan wajahnya yang kesal.
"Eh, ada kak Dian, kenapa kak?" Janson bertanya, usia Dian dan Janson sebenarnya hanya terpaut 2 tahun saja. Berbeda tipis memang, tapi Janson tetap memanggilnya demikian karena nyaman. Maka dari itu Janson memanggil 'Kak' pada Dian.
Plakk..
Tamparan mendarat di pipi Janson, Dian yang sudah kepalang kesal padanya tidak ingin basa basi lagi, ia langsung menampar pipi Janson.
Merasa tidak mempunyai kesalahan Janson berseru heran pada Dian.
"Kenapa Kakak Dian menamparku? Apa salahku?" Janson memegang pipinya yang terasa nyeri dan terlihat sedikit merah akibat tamparan Dian padanya.
"Kamu itu dari tadi di panggil gak jawab, terus di tepuk tepuk gak respon! Sekarang malah bertanya, maumu apa?" Dian berteriak pada Janson.
Sontak Janson mundur beberapa langkah dan refleks memegang telinganya agar tidak kemasukan suara kencang nan nyaring dari Dian.
"Maaf Kak, aku tadi mendengar suara Anaya dari sana, apa Anaya kesini Kak? Dia tadi hilang saat aku sedang sibuk menangkap kunang kunang." Tanya Janson.
Dahi Dian berkerut tipis, "anaya tidak bersamaku, dia kan tadi bersamamu. Aku juga mau keluar untuk cari udara segar, agar tidak bosan di halaman belakang. Eh tunggu Anaya menghilang!!" Nada Dian tiba tiba naik menjadi serius raut wajahnya mulai panik.
"Apa? Dia tidak kesini.. Ber - berarti.. Anaya.." Janson langsung berbalik dan berlari menuju padang ilalang di tepi sungai, ia ingin mencari Anaya di sana.
"Hei, tunggu.. Dasar!!" Dian ikut berlari menyusulnya.
Sedangkan Janson terus menembus semak semak hitam. Ia tidak peduli akan bahaya yang datang tiba tiba atau sedang mengintainya.
"Anaya.. Tolong jangan seperti ini!!" Janson meneteskan air matanya dan bergumam pelan seraya terus menembus semak dengan berlari, tidak peduli jika kakinya terus terluka oleh semak yang kadang berduri.
*****
Sosok Qiunaya yang mengendalikan tubuh Anaya kini melesat membawa raga fana yang menyegelnya kembali ke kediaman Heng menuju Timur dari arah Barat ia melesat terbang dengan kecepatan tinggi, sungai empat penjuru yang legendaris yang bernama : " EMPAT AIR" tempat itu sejatinya tertutup kabut tebal yang beracun jika dihirup manusia maupun siluman. Tapi hal itu pengecualian bagi para siluman yang mempunyai kekebalan tertentu atau sedang tersegel seperti kondisi Qiunaya. Anaya merupakan setengah dari Qiunaya, peraturan seperti itu tidak berlaku untuk kabut tebal mematikan itu. Qiunaya bisa melintasinya tanpa halangan atau keracunan karena asapnya. Lagi pula ada saat - saat tertentu dimana kabut misterius itu benar benar hilang, yaitu saat pertengahan bulan yang merupakan adanya bulan purnama yang sempurna di atas langit, tahun - tahun sakral saja.
Kabut itu bersumber dari arah selatan, wilayah hutan Kota Bansar dibagi menjedi dua. Wilayah yang bisa dimasuki manusia adalah hutan bagian Timur Dan Utara, sedangkan hutan bagian Selatan Dan Barat tertutup kabut tebal misterius itu. Manusia hanya bisa memasuki bagian yang terluar di wilayah Barat Dan Selatan saja, sejauh 1 kilometer, tapi selebihnya adalah perbukitan yang sama berkabutnya. Di sisi Timur sebenarnya ada kabut juga, tempatnya terpisah dan kabut itu amat berbeda dari kabut misterius sungai 'EMPAT AIR' kabut yang memisahkan wilayah itu adalah kabut alami dunia manusia yang bercampur polusi dunia Siluman, tapi hanya berkisar 200 meter saja. Tidak luas, namun tetap berbahaya. Asapnya bisa membuat manusia sesak nafas di dalamnya.
Janson yang telah berlari sejauh 20 meter terhenti di tepi sungai jernih, ia terduduk dibebatuan karang yang menonjol beberapa di tepi sungai, Janson tersengal - sengal mengambil nafasnya.
Dari atas sana di ketinggian 100 kaki, Qiunaya bisa melihat Janson.
"Anak Lelaki itu sudah sadar ternyata, dan lihat mata birunya yang sangat indah mirip dengan kaum Abadi dari Kerajaan AIR. Apakah anak itu juga bukan keturunan biasa? Tapi manusia juga ada yang mempunyai mata berwarna biru seperti itu. Apa aku salah menilai? Sebaiknya aku berhenti di bebatuan karang ini, ini cukup dekat dengan Anak itu. Dengan keadaan baju yang sudah compang camping ini aku bisa mengarang cerita telah diserang binatang buas." Qiunaya menghilangkan jejaknya menuju ke wilayah barat selagi ia terbang kembali, Anaya akan kehilangan ingatannya tentang pertarungan dengan kaum Abadi, itu sengaja dilakukan Qiunaya secara terus menerus. Karena Qiunaya tidak mau membongkar keberadaannya yang rahasia jadi ia menghapus ingatan Anaya. Agar kamuflasenya terhadap bangsa siluman berjalan lancar.
Janson berdiri kembali dari duduknya, ia memandang pasir di kakinya yang tanpa alas lalu menyadari sesuatu.
"Jejak kaki, ini jejak kaki Anaya! Tidak salah lagi. Rupanya ia lewat ke sini toh." Janson menyunggingkan senyumnya.
Janson menyusuri jejaknya dan sampai di sebuah batu karang yang sama besarnya, dibaliknya ia menemukan Anaya yang terbaring.
"ANAYA!" Janson terkejut dan langsung berada di sisi Anaya.
'Astaga bocah satu ini benar benar budak cinta pada Anaya ya!' Batin Qiunaya.
Janson berusaha mengguncang guncang bahu Anaya, memeriksa nafasnya dan detak nadinya.
"Anaya masih hidup, aku akan menggendongnya. Bertahanlah Anaya." Janson mengangkat pergelangan tangannya dan menggendongnya.
Qiunaya yang memang sadar merasakan ketulusan dari diri Janson ia menjadi melupakan tugasnya untuk tetap pingsan, suara Qiunaya sengaja dibuat lirih seperti orang yang kesakitan, Qiunaya sengaja meninggalkan bekas lebam dan beberapa goresan di tubuh Anaya sebagai bukti diserang Hewan Buas.
"Uuuhk Janson, kau dimana. Hewan buas itu menyakitiku.." Qiunaya sengaja bergumam secara jelas. Ia merasakan kehangatan yang asing, rasa nyaman dari perlakuan Janson membuat Qiunaya sedikit hanyut dalam perasaan.
"Anaya, kau diserang hewan buas! Te - tenanglah ini sudah aman, aku akan mengobatimu setiba kita di rumah Kakek Heng." Janson berujar sembari meneruskan langkahnya.